Oleh: baswarsiati | Agustus 12, 2010

TEKNOLOGI PENGELOLAAN APOKAT

 

 

TEKNOLOGI PENGELOLAAN APOKAT

 

Baswarsiati

PENDAHULUAN

 Apokat (Persea americana Mill) merupakan tanaman introduksi, diduga berasal dari Amerika Tengah dan Guatemala yang dibawa ke Indonesia sekitar abad ke 18.  Tanaman ini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia.  Di pasar dunia buah apokat merupakan komoditas penting.  Volume perdagangannya menduduki urutan ke lima setelah jeruk, pisang, nenas, mangga.   Jika dilihat potensi produksinya, buah apokat  Indonesia tergolong paling tinggi di Asia , hampir dua kali lipat produksi apokat Israel yang merupakan negara pemasok utama buah apokat untuk pasar Eropa.

Peluang ekspor apokat semula masih terbatas untuk dipasok ke Singapura  dan Belanda, tetapi kini kian merambah ke Arab saudi.  Di masa mendatang peluang tersebut semakin memikat karena di pasaran dunia setiap tahunnya  diimpor lebih dari 105 ribu ton.  Negara pengimpor produk apokat adalah Perancis, Inggris, Jerman Barat, Asustria, Belgia, Belanda, Norwegia dan swedia.

Walaupun bukan merupakan komoditas unggulan nasional , namun apokat  tersebar hampir di seluruh Indonesia . Tanaman apokat tidak menghendaki persyaratan iklim yang ekstrim sehingga hampir di seluruh kondisi iklim di  Indonesia relatif sesuai untuk pertumbuhannya.  Daerah yang mendominasi produksi apokat yaitu Jawa, sebagian Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Jawa Timur merupakan daerah sentra pertanaman apokat terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat.  Sentra produksi apokat di Jawa Timur tersebar di Kabupaten Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang

Apokat dibudidayakan untuk diambil buahnya yang banyak mengandung gizi.  Daging buah apokat merupakan 65-70 % dari berat buah keseluruhan.  Unsur yang terkandung pada setiap 100 gram bagian buah yang dimakan antara lain 65-68 g air, 1-4 g protein (sangat tinggi untuk buah-buahan), 5,8-23 g lemak (sebagian besar lemak tak jenuh dan tercatat sebagai bahan anti kolesterol), 3,4- 5,7 g karbohidrat , 0.8-1,0 g besi, 75-135 IU vitamin A dan 1,5-3,2 mg vitamin B kompleks.  Nilai energinya 600- 800 KJ/100 g.  Karena kandungan minyaknya yang tinggi pada buah matang, tekstur daging buahnya seperti mentega, yang rasanya tidak asam maupun tidak manis.  Daging buahnya kaya akan besi dan vitamin A dan B.  Buahnya mudah dicerna sehingga merupakan makanan padat yang bergizi tinggi untuk bayi.

SYARAT AGROEKOLOGI

Tanah yang dikehendaki apokat adalah tanah yang gembur dan subur .  Struktur tanah lempung berpasir dengan kandungan  pH optimum untuk pertumbuhan  dan hasil buah adalah 5- 5,8.  Ketinggian tempat  yang dikehendaki mulai daerah medium hingga dataran tinggi sampai 1500 m dpl.  Apokat tumbuh di dataran tinggi daerah tropis dengan suhu optimum pada siang hari 25-33 0 C .    Apokat akan tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan  antara 1500-3000 mm per tahun, dengan jumlah bulan kering tidak lebih dari 4. 
 Pohon dan buahnya rentan terhadap angin kencang dan untuk tempat terbuka sebaiknya diberi naungan.  Apokat   memerlukan tanah beraerasi dan berdrainase baik, karena akar-akarnya tidak toleran terhadap keadaan anaerob.  Genangan air lebih dari 24 jam dapat mematikan tanaman.  Perakarannya  tumbuh dangkal  , dan rendahnya frekuensi bulu akar  mengurangi pengambilan air dan hara.    Agar diperoleh hasil yang tinggi diperlukan pemeliharaan kelembaban tanah  sepanjang tahun.  Periode kritis  keperluan air adalah selama pembungaan  dan pembentukan buah, pengisian buah dan pematangannya.  Periode basah yang berkepanjangan menyebabkan   buah  banyak yang terserang penyakit antraknose. 

 SIFAT PEMBUNGAAN

 Apokat mempunyai perilaku pembungaan dikogami protoginus yang unik .  Setiap kuntum bunga  mekar dua kali, hari pertama putiknya reseptif dan hari berikutnya serbuk sari bunga jantan masak sehingga alat reproduksinya tidak berfungsi sama.  Setiap  bunga apokat , membuka dan berfungsi dua kali dalam dua hari berturut.    Pada saat bunga membuka pertama kali, putik reseptif tetapi kepala sari belum pecah  (masak) sehingga tidak ada serbuk sari yang disebarkan .  Saat tersebut benang sari sejajar dengan posisi perhiasan bunga yang terbuka tersebut.    Bunga yang berfungsi sebagai bunga betina membuka selama 2-3 jam, lalu menutup kembali.  Hari berikutnya , bunga membuka kembali  dengan putik yang tidak reseptif.  Kepala sari pecah dengan serbuk sari yang sudah masak.  Posisi benang sari  relatif tegak lurus dengan posisi perhiasan bunga yang sedang membuka, lalu bunga menutup kembali.

 Perilaku tersebut saling melengkapi sehingga kultivar –kultivar tersebut digolongkan ke dalam tipe “A”, yang bunga-bunga betina masak pada pagi hari  dan bunga jantan pada sore harinya.  Terdapat juga tipe “B”  yang bunga-bunganya mekar sebagai bunga betina pada sore hari  dan bunga jantan pada pagi hari berikutnya. 

Karena hal tersebut, maka penyerbukan sendiri dalam satu bunga maupun dalam satu tanaman terhalang perbedaan waktu yang cukup ekstrim.  Hal ini bisa diatasi dengan penyerbukan silang antara varietas tipe A dan tipe B.  Dengan penyerbukan silang akan meningkatkan pembentukan buah (fruit set).  Oleh karena itu untuk mendapatkan buah pada semua pohon, maka sejogjanya dikebun ditanam kedua macam pohon tersebut  agar terjadi penyerbukan  silang yang akan meningkatkan  jumlah buah. Pohon apokat berbunga pada permulaan musim hujan  dan berbuah antara bulan Desember sampai Maret

  • Pengaruh Lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku pembungaan.  Perlaku kedua tipe di atas dapat terjadi bila suhu rata-rata harian di atas 20 0 C.  Bila suhu turun , membukanya bunga menjadi tidak teratur atau tertunda.  Sehingga satu pohon tunggal , mungkin mempunyai bunga yang membuka sebagai bunga betina, dan belum menutup pada saat bunga –bunga lain membuka sebagai  bunga jantan   pada sore hari.  Hal ini bisa menjelaskan mengapa satu pohon tunggal apokat bisa berbuah lebat.  Cuaca mendung dan hujan juga menimbulkan pengaruh yang sama dengan pengaruh suhu rendah pada membukanya bunga.

 PEMBIBITAN

 Bibit merupakan awal kehidupan yang  harus diperhatikan dengan cermat.  Bila salah dalam memilih bibit apokat maka selanjutnya hasil yang diperoleh tidak dapat dijamin.  Pilihan bibit   bermutu sebaiknya diperoleh dari varietas unggul yang telah dilepas Pemerintah antara lain, hijau panjang , hijau bundar, merah panjang, merah bundar, Fuerte dan Dickinson.

Hingga saat ini apokat yang ada di masyarakat pada umumnya perbanyakannya berasal dari biji sehingga sangat keragaan pohon, produksi maupun  mutu buah sangat beragam.  Untuk memperbaiki kondisi pertanaman apokat rakyat  si Jawa Timur dapat dikembangkan teknologi klonalisasi   dengan cara  :

1)      Penanaman menggunakan bibit hasil perbanyakan secara sambungan

2)      Mengganti varietas yang ada dengan varietas baru melalui teknik penyambungan pohon dewasa atau top working.

Untuk perbanyakan secara sambungan dapat dilakukan dengan pembibitan apokat secara sambung dini .  Prinsip dari teknologi sambung dini  adalah menyambung semaian sedini mungkin pada kondisi fisik yang memungkinkan  .  Keuntungan teknologi ini adalah menghemat waktu 1-2 bulan jika dibandingkan penyambungan yang biasa digunakan dan karena bibit hasil sambung dini berbentuk pohon kecil, maka cara ini sangat efisien teruma dalam pengiriman jarak jauh.

  • Pembibitan Apokat Secara Sambung Dini

Seluruh kegiatan pada bagian ini di lakukan di rumah pembibitan  yang permanen atau dari bambu dan bahan yang tersedia di lokasi pembibitan.   Rumah pembibitan memiliki kelembaban 70 % dengan suhu antara 25-30 0 C  dan lebih baik pada daerah yang banyak pohonnya.  Beberapa cara yang dapat dianjurkan antara lain :

  • Persiapan Benih Batang Bawah
  • Varietas batang bawah menggunakan Hijau Panjang
  • Benih dipilih dari buah yang masak fisiologis
  • Benih dipisahkan dari daging buah dan dicuci bersih, kulit ari dipisahkan dari benih karena menghambat pertumbuhannya
  • Benih direndam dalam air hangat  suhu 52 0 C  selama 20 menit  , kemudian dikeringanginkan .  Selanjutnya direndam dalam larutan fungisisda  (Bahan aktif Benomyl) , takaran 5 g/l air selama 5-10 menit
  • Setelah kering angin benih dapat disimpan  selama 3 bulan pada suhu 5-10 0 C , atau segera ditanam .
  • Benih segar berkecambah  dalam waktu 3 minggu setelah disemai .  Suhu yang dibutuhkan pada pembenihan pada siang hari  25 0 C  dan pada malam hari 15 0 C .

 

  • Persiapan Media dan Tanam Benih
  • Polibag yang digunakan berlubang dasarnya, ukuran diameter  x tinggi = 7,5 cm x 20 cm
  • Polibag diletakkan di atas meja pembibitan yang alasnya berongga sehingga akar tunggang daat menmbus keluar polibag
  • Media tumbuh berupa sekam yang telah direndam dalam air selama 2 hari, atau dicampur pupuk kandang ayakan  (1 : 1)
  • Bagian atas benih dipotong 1/3 bagian agar cepat berkecambah
  • Setelah 2-2,5 bulan , semaian  batang bawah siap disambung, dengan diamter batang antara 0,5-0,75 cm

 

  • Persiapan Batang Atas dan Teknik Penyambungan
  • Entris dipilih dari pohon induk yang sehat, produksi tinggi, varietas unggul dan disukai konsumen
  • Varietas unggul yang dapat dilih Hijau Panjang, Hijau Bundar (telah dilepas), Merah Bundar, Merah Panjang, Fuerte dan Dickinson
  • Entris diambil dari pucuk yang daunnya telah berkembang dengan mata tunas yang padat, dan berasal dari cabang /ranting yang pertumbuhannya lurus ke atas
  • Entris dibuang  seluruh daunnya dan siap disambung dengan panjang sekitar 10 cm dari 2-4 mata tunas
  • Model sambung yang digunakan yaitu sambung celah
  • Sebelum dilakukan penyambungan , media tidak perlu dipupuk
  • Pemupukan setelah penyambungan , dengan dosis Urea 0,5-1 g/l air atau NPK 1,7-3,4 g/l air per pohon seminggu sekali
  • Bibit umur 2-3 bulan dapat ditransplanting ke polibag lebih besar, dengan media transplanting pupuk kandang, sekam dan pasir/tanah dengan perbandingan (1:1:1)
  • Bibit siap ditanam di lapang setelah 3-5 bulan setelah transplanting

 

PENYAMBUNGAN PADA POHON DEWASA

            Penyambungan pada pohon dewasa dapat dilakukan secara sambung kulit (“bark grafting) atau sambung celah (cleft grafting).  Cara sambung kulit digunakan untuk pohon yang kulit batangnya muda dan mudah dikelupas, sedangkan sambung celah untuk pohon yang agak tua dan kulit batangnya susah dikelupas.

  • Pohon apokat yang akan disambung , dipotong 60-75 cm dari permukaan tanah
  • Pada bekas potongan dibuat sayatan kulit ke bawah sepanjang 3-5 cm (sambung kulit) dan  dibuat celah sepanjang 3,0-3,5 cm (sambung celah)
  • Entris dipotong sepanjang 10-15 cm, bagian  pangkal dipotong meruncing, disisipkan pada kulit atau celah yang ada
  • Untuk memperkuat diikat dengan tali rafia atau tali karet dan tanaman disungkup dengan kertas semen dan kantong plastik yang kedua sisinya berlubang

 

  • PENANAMAN     

            Penanaman apokat dapat dilakukan seperti halnya menanam tanaman buah lainnya yaitu dengan mempersiapkan lahan terlebih dahulu  dan menentukan  jarak tanam 9 m x 6 m atau 7 m x 10 m.  Kemudian dibuat lubang tanam  60 x 60 x 60 cm .  Ke dalam lubang tanam dimasukkan campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos (1 : 1).  Bibit ditanam setelah 1 minggu dari pemupukan dasar dan bibit diberi naungan atau peneduh.  Lamanya pemberian naungan sekitar 1-3 bulan dan selanjutnya bisa diambil.

PEMELIHARAAN

            Pemeliharaan untuk tanaman apokat selanjutnya berupa pemberian  mulching  ketika musim kemarau tiba dan tanaman disirami sesuai kebutuhan tanaman.    Tanaman hingga umur 3-5 tahun diberi pupuk kandang atau kompos (pupuk organik lainnya ) sebanyak 10-15 kg.  Pada umur sekitar 5-10 tahun  ke atas, takaran dinaikkan sedikit -sedikit sampai mencapai 25-30 kg.

            Pemupukan Urea, SP 36 dan KCl  untuk tanaman umur 1- 5 tahun  dapat diberi 50-175 gram Urea, 300-700 gram SP 36 dan KCl 150-400 gram  yang diberikan sesuai penambahan umur dan untuk setahun pemupukan.  Sedangkan untuk tanaman umur 5 tahun ke atas diberi 250-500 gram Urea, 450-500 SP36 dan 1500-200 gram KCl , untuk pemupukan selama setahun.  Pemberian pupuk diatur 2 bulan sebelum berbunga (berbunga awal musim hujan) dan setelah panen (panen raya Desember-Pebruari).  Atau pemupukan dapat diberikan 3 bulan sekali.  Pemupukan dilakukan dengan cara membuat rorakan sebesar cangkulan persis di bawah tajuk, kemudian pupuk ditaburkan.  Diharapkan dengan penggunaan pupuk sesuai kebutuhan  maka tanaman apokat dapat menghasilkan buah sebanyak 20 – 40 ton/ha.

PENGENDALIAN OPT

            Hama-hama penting yang sering menyerang tanaman apokat antara lain : busuk akar, antraknose , busuk ujung batang,  lalat buah.

  • Penyakit Busuk Akar  (Phytophtora cinnamomi)

      Merupakan penyakit serius yang menyebabkan penurunan produksi dan mematikan tanaman.  jamur tinggal di dalam tanah dan menyerang akar-akar baru.  Pengendalian efektif dengan injeksi batang menggunakan fungisida sistemik yaitu kalium fosfonat, yang diulang setiap tahun 

  • Antraknose (Colletotrichum gloeosporioides)

      Dapat menyebabkan turunnya hasil buah  di daerah iklim lembab dan hangat.    Beberapa kultivar  mempunyai ketahanan yang lebih besar, tetapi pada kondisi lembab diperlukan penyemprotan   agar dapat dihasilkan buah yang laku di pasaran

  • Cercospora (Pseudo cercospora purpurea)

      Merupakan penyakit jamur yang serius .  Viroid tersebut ditularkan melalui biji yang terinfeksi atau atau bahan batang atas, alat pemangkas dan dn alat perbanyakan .  Hal tersebut menyebabkan penyimpangan pertumbuhan tanaman dan buah.  Pengendalian yang paling baik dengan menggunakan  material perbanyakan dari sumber yang dipertanggungjawabkan

  • Lalat Buah (Dacus spp)

      Berbagai lalat buah menyerang buah menyebabkan kerusakan  pada permukaannya.  Meskipun larvanya jarang berkembang didalam buah, ada alasan buah tersebut ditolak memasuki beberapa pasar.  

            Di Indonesia , pohon apokat dapat dapat digunduli seluruhnya oleh ulat Cricula

PANEN DAN PASCA PANEN

            Masaknya buah dapat dikira-kira dari kemampuan buah untuk menjadi lunak dan enak dimakan tanpa mengkerut atau rusaknya daging buah setelah dipetik dari pohon.  Kultivar-kultivar yang berasal dari Guatemala dan Meksiko mempunyai buah yang akan tetap  menempel di pohonnya untuk menimbun minyak selama 2-4 bulan setelah matang.  Pemetikan secara selektif  dapat dilakukan untuk memberikan kesempatan pada buah-buah yang tertinggal untuk menjadi besar.  Buah digunting dari pohonnya dengan mengikut sertakan kancing tangkai (pedicel button) yang dapat mencegah masuknya penyakit-penyakit pasca panen melalui permukaan potongan tangkai buah.  Pemetikan melalui tangga dengan memasukkan buah dalam keranjang pengumpul  atau dengan galah pemetik yang berujung kait dilengkapi dengan kantong pengumpul (ring basket) akan lebih baik.  Setelah buah dipetik, sebaiknya buah dilindungi  dari sinar matahari  langsung.

            Untuk penanganan pasca panen dapat dilakukan dengan menyikat buah secara hati-hati untuk menghilangkan kutu perisai dan bekas fungisida dari lapangan sehingga buah menjadi berkilau dan menarik. Selanjutnya buah disortasi  dan dapat digrading sesuai kelas buahnya. Daya simpan buah apokat relatif pendek.  Buahnya mencapai tingkat kematangan untuk dapat dimakan dalam waktu 4 sampai 14 hari dari saat pemetikan, bergantung dari tingkat kematangannya dan suhu ruang.  Untuk pengemasan buah dapat dilakukan dalam kardus yang diberi potongan kertas agar buah tidak saling berbenturan dengan buah lainnya dan setelah disortasi buah dapat dikirim ke pasar swalayan maupun diekspor.

ACUAN PUSTAKA

Prosea.  1997. Buah-buahan yang dapat dimakan.  Gramedia, Jakarta.  568 p.

Amar Singh.  1980.  Fruit physiology and production.  Kalyani Publishers.

Lembaga Biologi Nasional.  1977.  Buah-buahan.  Proyek Sumber daya ekonomi.  LIPI, Jakarta.

Samson, J. A.  1980.  Tropical fruits.  Longman-London.

 Sugijatno, A dan A. Supriyanto.  2003. Teknologi sambung dini dan penyambungan pohon dewasa pada tanaman apokat. Petunjuk Rakitan Teknologi.   BPTP Jatim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: