Oleh: baswarsiati | Agustus 11, 2010

TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN

TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN DURIAN DAN MANGGIS *

 

Oleh

Baswarsiati **

 

PENDAHULUAN

 

            Potensi alam dan potensi plasma nutfah buah-buahan Indonesia sangat mendukung untuk pengembangan buah-buahan tropis menjadi komoditas unggulan.  Dari spesies buah tropika utama (pisang, jeruk, mangga, manggis, durian, nangka, langsat, lengkeng dan rambutan) , Indonesia mempunyai lebih dari 6000 sumber plasma nutfah.  Dengan kekayaan plasma nutfah tersebut , seharusnya Indonesia mempunyai cukup banyak varietas/klon buah-buahan yang unggul.  Karena itu kekayaan plasma nutfah yang sangat berharga tersebut harus dikelola dengan baik dan dimanfaatkan sebagai sumber tetua untuk pemuliaan buah-buahan Indonesia, agar varietas buah-buahan Indonesia tidak kalah dengan varietas unggul dari Thailand maupun negara lain (Poerwanto et al, 2000).

            Dalam menghadapi era perdagangan bebas dunia , harus diperhatikan kekuatan, kelemahan , peluang maupun ancaman agribisnis buah-buahan Indonesia termasuk durian dan manggis.  Adapun kekuatan agribisnis buah-buahan Indonesia adalah 1) tingginya biodiversitas yang kita miliki, 2) tingginya potensi agroklimat yang ada , 3) luasnya lahan yang masih dapat dimanfaatkan , 4) adanya kemauan politik pemerintah.  Kelemahan yang  dimiliki adalah  1) lemahnya daya saing karena masih rendahnya kualitas dan kuantitas buah-buahan serta belum adanya kontinyuitas suplai, 2) beragamnya varietas yang ada , dan beberapa varietas unggul nasional kurang disukai selera pasar internasional (karena adanya perbedaan selera domestik dan luar negeri), 3) perusahaan yang bergerak di bidang pemuliaan tanaman buah-buahan belum ada dan perusahaan pembibitan belum profesional, 4) teknologi produksi dan paska panen belum lengkap , 5) kurangnya tersedia modal serta tingginya bunga bank, 6) kemampuan dan pengetahuan petani rendah, 7) lemahnya sistem pemasaran  dan 8) lemahnya kelembagaan agribisnis buah (Poerwanto et al, 2000).

            Laju impor komoditas buah-buahan di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan ekspornya. Jenis buah-buahan yang mendominasi pasar ekspor dari Indonesia  akhir-akhir ini adalah mangga, manggis dan durian. Usaha pemerintah melindungi petani hortikultura dengan membatasi impor tidak mungkin dilaksanakan lagi.   Pada tahun 2003 pasar Indonesia harus terbuka terhadap komoditas yang diproduksi di wilayah ASEAN  (AFTA) dan pada tahun 2020 terhadap komoditas asal Asia-Pasifik (APEC).  AFTA maupun APEC memberikan peluang sekaligus ancaman bagi agribisnis buah-buahan Indonesia (Pusat Kajian Buah-buahan Tropika, 2000).

            Buah durian sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia dan internasional.  Daging buahnya yang manis dan aromanya yang khas serta bentuk buahnya menjadi ciri utamanya.  Tidak salah bilamana durian di dunia internasional dikenal dengan istilah King of Fruit.  Permintaan pasar komoditas ini baik dalam maupun luar negeri terus meningkat .  Beberapa negara di Eropa Timur, Belanda, Kanada, Saudi Arabia, Jepang dan Singapura merupakan pasar potensial .  Negara pengekspor durian  saat ini adalah Indonesia, Thailand dan Malaysia.  Namun demikian  peluang pasar ini belum dapat

 

Makalah disajikan pada Apresiasi Teknologi di kabupaten Ponorogo , pada   tanggal 23 Juli 2003.

dimanfaatkan sepenuhnya karena belum memenuhi standar ekspor dan produktivitasnya masih rendah (5 ton/ha), dibanding negara Thailand yang mencapai 35 ton per hektar.  Hal ini disebabkan teknik budidaya yang diterapkan masih sangat rendah, dan hasil  durian yang sekarang ini berasal dari pohon durian yang sudah tua yang tumbuh liar dan sebagian kecil dalam bentuk usaha pekarangan yang tidak dirawat baik.

            Manggis merupakan salah satu buah tropika eksotik dari Indonesia, terdapat di hutan belantara Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Kelezatan rasa buah, kecantikan dan tekstur buahnya membuat manggis dikenal sebagai buah-buahan tropika terbaik dan sering disebut sebagai Ratu Buah atau Queen of Fruit (Cox, 1976).  Permintaan pasar global terhadap manggis terus meningkat karena kelezatan buah tersebut. Ekspor manggis dari Indonesia meningkat dari 452 ton tahun 1991 menjadi 4.750 ribu ton tahun 1999.  Manggis Indonesia diekspor ke Eropa dan Timur Tengah selain ke pasar tradisional seperti Taiwan, Hongkong, Singapura dan Jepang.  Sayangnya peningkatan ekspor belum dapat diimbangi oleh peningkatan produksi dan kualitas (Maryasmi, 1992).      Tanaman manggis tergolong kelompok apomiksis dengan biji yang dihasilkan bersifat vegetatif dan secara genetik sama dengan induknya.  Hal ini menyebabkan tanaman manggis relatif homozigot dan buah yang dihasilkan memiliki mutu seragam (Cox, 1976).

PERMASALAHAN PADA BUDIDAYA DURIAN DAN MANGGIS

 

            Tanaman durian dan manggis umumnya belum dibudidayakan secara optimal oleh pemiliknya.  Pertanaman yang ada umumnya tidak dalam bentuk kebun monokultur , namun ditanam di pekarangan dengan tanaman lainnya ataupun masih  berada di hutan. Peluang untuk mengembangkan tanaman manggis dan durian amat terbuka luas.  Agroekologi Indonesia sangat sesuai untuk pertumbuhan durian dan manggis serta ketersediaan lahan pengembangan masih cukup luas terutama di   lahan pekarangan, ladang maupun tegalan asalkan dibudidayakan dengan intensif.

            Beberapa masalah budidaya yang menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman durian adalah :

  1. Pertumbuhan  durian agak lambat
  2. Sulit memperoleh bibit yang bermutu dalam jumlah banyak
  3. Bibit durian sambungan sangat mahal
  4. Belum banyak penangkar bibit durian bermutu
  5. Petani belum menyukai bibit durian hasil sambungan
  6. Durian menghendaki lingkungan tumbuh yang spesifik untuk setiap varietas yang berbeda 
  7. Produktivitas dan kualitas perlu ditingkatkan  (terutama masalah gugur buah)

 

            Beberapa masalah yang menghambat perkembangan manggis  adalah:

  1. Pertumbuhan manggis sangat lambat, dengan masa juvenil 8-16 tahun
  2. Sulit memperoleh bibit yang bermutu dalam jumlah banyak
  3. Bibit manggis sambungan sangat mahal
  4. Usaha perbanyakan manggis dengan bibit sambungan dibatasi oleh lambatnya pertumbuhan batang bawah yaitu sekitar 2-3 tahun baru dapat disambung
  5. Perbanyakan dengan kultur jaringan belum berhasil baik
  6. Produktivitas dan kualitas perlu ditingkatkan  (terutama masalah getah kuning) (Campbell, 1967; Achmad, 1983; Cedric, 1983).

 

BOTANI TANAMAN DURIAN

 

             Buah khas daerah tropis ini termasuk genus Durio, keluarga Bombacaceae (durian-durianan), yang banyak spesies dan varietasnya.  Durian yang sudah dibudidayakan   dan paling luas penyebarannya  adalah durian biasa  (Durio zibethinus).  Jenis ini terkenal dengan daging buahnya yang enak dimakan dan banyak sekali varietasnya seperti durian sukun, durian petruk, durian sitokong,  durian simas, durian sunan, durian otong, durian kani , durian si dodol, durian si japang, durian sihijau .  Sekitar 27 varietas yang telah dilepas oleh pemerintah sebagai varietas unggul.  Masing-masing varietas memiliki keistimewaan sebagai buah yang bernilai ekonomi tinggi.          Sosok tanaman pada umumnya tinggi besar  dengan percabangan yang banyak.   Selain durian yang sudah dibudidayakan dan terkenal enak rasa buahnya, ada pula durian-durian yang masih tumbuh liar di hutan terutama di Kalimantan seperti durian kura-kura, durian lai, durian kartongan, durian lahong dan durian burung.  Buah durian disamping mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi juga kaya akan kandungan gizi.  Dari 100 gram daging buah durian yang dimakan segar diketahui mengandung 60 gr air, 28,3  karbohidrat, 2,5 gr protein, 2,5 gr lemak, 601 kalium, 20 gr kalsium, 57 mg vitamin C, tianin. 

RAGAM VARIETAS DURIAN

            Saat ini durian lokal mulai diincar oleh konsumen dan rasanya tak kalah dengan durian Montong dari Thailand.  Durian lokal sangat bervariasi jenisnya dengan rasa bervariasi pula mulai dari manis sekali tanpa rasa pahit, manis dengan rasa pahit, aroma buah tajam-sedang dan tidak beraroma, daging buah kuning-kuning keputihan , putih.  Selera konsumen juga berbeda antara konsumen dalam negeri dan luar negeri.  Konsumen dalam negeri lebih menyukai durian dengan rasa manis sedikit pahit atau pahit dan aroma buah yang tajam.   Sedangkan konsumen luar lebih menyukai durian dengan rasa manis tanpa aroma. (Syariefa, 2003).

            Beberapa tipe varietas unggul durian yang telah resmi dilepas oleh Menteri Pertanian antara lain :

  • Durian Sukun : buah berbentuk bulat panjang, warna kekuningan, dengan duri-duri kecil berbentuk kerucut dan tersusun rapat.  Kulit buah agak tebal tetapi mudah dibelah.  Daging buah tebal sekali, warna daging putih kekuningan, serat halus, manis dan beraroma.
  • Durian Petruk : Asal Randusari-Jepara, buah berbentuk bulat telur terbalik,tebal daging sedang, serat halus dan agak lembek, warna kuning, rasa manis sekali, aroma tidak begitu tajam.
  • Durian Sitokong : asli dari Betawi, bentuk buah bulat panjang, kulit cukup tebal dan sulit dibelah, daging buah tebal, warna kuning, serat halus dan kering berlemak, rasa manis,aroma cukup tajam.
  • Durian Sunan : asal dari Gendol (Boyoali), daging buah krem, tebal seklai, kandungan air sedikit atau kering dan berlemak, berserat halus, rasa manis, aroma harum menusuk, biji kecil dan banyak yang kempes.

PERSYARATAN TUMBUH         

            Durian membutuhkan persyaratan tumbuh yang spesifik lokasi untuk masing-masing varietasnya.  Bila pekebun atau petani hendak menanam durian maka faktor ekologi harus diperhatikan terutama ketinggian tempat dari permukaan air laut dan curah hujan disesuaikan dengan asal induk. Misalnya durian Petruk asal daerah rendah kering, jangan ditanam di ketinggian 400 m dpl tapi banyak hujan.  Sedangkan di dataran rendah basah dapat menanam durian Sunan dan Hepe

            Suhu optimum untuk pertumbuhan durian sekitar 23-32 0 C.  Curah hujan berkisar 1500-2500 mm per tahun dan ketinggian tempat 200-800 m dpl.  Tanah yang subur dan kaya bahan organik akan mendukung pertumbuhan tanaman durian dengan pH berkisar 5,5-7.    Kelembaban udara  yang dibutuhkan berkisar 75-85 % dan drainase sedang sampai baik.

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN DURIAN

 

Bibit

            Tanaman durian yang ada pada saat ini yang umumnya sudah berproduksi sebagian besar berasal dari biji sehingga pohonnya tinggi dan buahnya beragam.  Oleh sebab itu perbanyakan secara vegetatif merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam pengadaan bibit durian  sehingga diperoleh kualitas buah yang seragam dan identik dengan tanaman induknya dan berumur genjah.  Perbanyakan secara vegetatif tanaman durian dapat dilakukan dengan cara okulasi dan penyusuan.

            Keberhasilan perbanyakan durian melalui okulasi sekitar 70 % , dilakukan pada batang bawah dengan umur antara 6-12 bulan.  Biji durian yang akan digunakan untuk batang bawah harus segera ditanam karena tidak dapat disimpan lama.  Penyimpanan sementara hanya dapat dilakukan beberapa hari dengan menggunakan media lembab seperti kertas koran atau sabut kelapa yang dilembabkan atau dibasahi.  Okulasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada musim kering karena bila dilakukan musim hujan maka hasil okulasi mudah busuk.  Sedangkan pada musim kering kelembaban perlu dijaga dengan mengatur naungan atau memberi kerodong komunal pada bibit yang telah diokulasi.

            Perbanyakan durian dapat juga menggunakan sambung dini dan penyusuan.  Sambung dini dilakukan pada bibit batang bawah umur 3 bulan dengan menggunakan model sambung celah.  Bibit sambungan dipelihara di tempat yang sejuk dan kering.  Keberhasilan penyambungan dapat dilihat setelah 2 minggu dengan melihat pucuk entris masih kelihatan hijau dan segar berarti penyambungan berhasil.   Penyusuan merupakan cara sambung durian yang persentase keberhasilannya paling tinggi (60-100%), namun kurang ekonomis dan tidak praktis dalam mengerjakannya karena bibit yang dihasilkan dari pohon induk hanya sedikit.

Penanaman

            Bibit durian siap tanam setelah berumur 6-12 bulan dari penyambungan.  Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm , diisi dengan pupuk kandang 10 kg/lubang dan NPK 15-15-15 sebanyak 10 gram/tanaman.  Tinggi tanaman yang ditanam mencapai sekitar 50-100 cm.  Untuk menghindari terik matahari secara langsung, maka bibit diberi naungan atap daun rumbia atau alang-alang .  Bila tidak ada hujan penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari sampai tanaman betul-betul segar.

Pemupukan

            Pemupukan susulan dilakukan sebulan setelah tanam  dengan dosis disesuaikan umur tanaman dan kesuburan tanah.  Selanjutnya setiap 4 bulan sekali dengan cara menaburkan sejauh 20 cm di bawah lingkaran tajuk.  Sebagai kisaran dosis pemupukan yaitu Urea 20-500 gram, SP 36 20-500 gram dan KCl 20-200 gram per tanaman.  Setelah tanaman mulai berbuah pemberian pupuk dilakukan 2 kali setiap tahun yakni menjelang berbunga dan sesudah panen.  Pemberian pupuk pada musim kemarau harus segera diikutidengan penyiraman agar pupuk cepat diserap oleh akar tanaman (Anonim, 1997).

Pengendalian OPT

            Hama-hama penting yang sering menyerang tanaman durian antara lain : penggerek batang, kutu daun, ulat penggerek daun , ulat penggerek buah dan lalat buah.

  • Penggerek batang ( Xyleutes leuconotus)

      Serangan berat pada batang , cabang dan ranting tanaman kering dan mati.  Pengendalian dilakukan dengan menutup lubang dengan kain yang telah dicelup insektisida dengan dosis sesuai anjuran.  Ranting-ranting yang kering segera dipotong

 

  • Kutu daun warna kuning (Aphis sp)

      Tanaman akan tumbuh kerdil, pucuk kering dan akhirnya mati.  Pengendalian dengan menggunakan insektisida anjuran.

  • Ulat penggerek daun (Daphunusa ocellaris)

      Ulat ini sangat ganas mampu menggundulkan daun tanaman durian.  Pengendalian dapat dilakukan secara mekanik dengan mengumpulkan pupa yang berada dalam tanah kemudian diamati.  Selain itu dapat menggunakan insektisida yang diaplikasikan melalui tanah, pemasangan alat perangkap berlampu dan pengasapan.

  • Ulat penggerek buah (Hypophereqea sp dan Thirathaba sp)

     Ulat Hypophereqea sp menyerang biji durian sedangkan Thirathaba sp menyerang daging buah durian .  Hama ini menyerang dengan cara menggerek biji dan daging buah sehingga membusuk dan daging buah membusuk sebelum masak. Pengendalian hama relatif sulit karena tanaman durian umumnya tinggi.  Penggunaan insektisida dilakukan dengan cara injeksi batang ketika buah masih muda agar dapat menghindari residu saat buah dikonsumsi.  Sebaiknya insektisida yang digunakan bersifat sistemik.  Kebersihan kebun terutama dari buah-buah   gugur yang terserang sangat membantu  dalam menekan populasi hama.

  • Lalat buah (Dacus spp)

      Buah yang terserang menjadi busuk daging buahnya dan di dalamnya terdapat lalat.  Pengendalian dengan memusnahkan buah yang terserang, membuka tanah di bawah tanaman durian secara hati-hati untuk membunuh pupanya dan pemasangan alat perangkap yang diberi campuran  insektisida kontak dan petrogenol.

  • Penyakit busuk akar dan pangkal batang

      Disebabkan oleh P palmivora dan P complectan.  Penyakit ini menyerang tanaman di pembibitan.  Gejala menunjukkan kulit batang membusuk , keluar lendir (gum) pada batang atas dan di daerah sambungan atas , cabang-cabang menhering dan akhirnya tanaman mati.  Pengendalian dengan menggunakan fungisida sistemik sesuai dosis anjuran untuk pembibitan 0-15-1,2 % (Anonim, 1997).

Panen

            Umumnya panen buah durian ditunggu sampai jatuh dari pohon oleh pemiliknya.   Buah-buah yang jatuh biasanya hanya tahan 2-4 hari dan setelah itu akan membusuk dan mengalami peragian .  Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan saat pemanenan yang tepat dengan melihat perubahan warna dan durinya. Saat petik optimal ditandai dengan tangkai buah membengkak, duri-durinya seragam dan bagian pangkal terlihat titik-titik coklat.

            Aroma durian mudah tersebar luas, dalam pengangkutan dianjurkan dikemas dengan pemberian serbuk arang sebanyak 200 gram/buah sehingga aroma durian dapat diserap oleh serbuk arang.

BOTANI TANAMAN MANGGIS

            Manggis (Garcinia mangostana) sudah terkenal di beberapa negara dengan nama beragam, di antaranya disebut dengan mangosteen (Inggris), mangoustainer (Perancis), mangistan (Belanda) dan mangostane (Jerman).  Manggis termasuk tanaman tahunan yang masa hidupnya dapat mencapai puluhan tahun.  Bunga manggis mempunyai alat kelamin jantan dan betina atau bunga sempurna (hermaphrodit).  Benangsari berukuran kecil dan mengering  (rudimenter), hingga tidak mampu membuahi sel telur.  Oleh karena itu , meskipun manggis berbunga sempurna  sering disebut hanya berbunga betina saja.  Akibatnya buah atau biji yang tumbuh dan berkembang tanpa melalui penyerbukan lebih dulu atau disebut Apomiksis.  Biji manggis demikian bersifat vegetatif dan mempunyai sifat yang serupa dengan induknya.

            Buah manggis mempunyai kulit buah yang tebal mencapai proporsi 1/3 bagian dari buahnya.   Kulit buah ini banyak mengandung pektin, tanin,  resin dan zat pewarna sehingga sering digunakan sebagai bahan pembuat cat anti karat dan penyamak kulit.  Disamping itu kulit buah mengandung getah yang warnanya kuning dan rasanya pahit.  Biji manggis memiliki karakteristik yang khas , yaitu dibalut dengan “arillode” berwarna putih.  Biji manggis bentuknya bulat agak pipih dan berkeping dua.  Tiap biji manggis dapat tumbuh lebih dari satu semai (seedling) dan disebut polinuselus.

RAGAM VARIETAS MANGGIS

            Sumber genetik tanaman manggis sangat kecil  atau varietasnya sangat terbatas bahkan seolah-olah hanya dikena satu kultivar/varietas manggis saja.  Dewasa ini telah ditemukan varias beberapa kultivar manggis, yaitu : manggis tanpa biji dari Kedah (Malaysia), manggis Masta atau Seta dari Pahang-Malaysia, manggis buah kecil dari Perak (Malaysia), manggis buah besar dan manggis jantan yang tidak pernah berbuah.  Di Indonesia belum ada data yang pasti tentang variasi kultivar manggis

            Perbaikan varietas atau kultivar manggis di masa mendatang diharapkan menghasilkan manggis unggul dengan   kriteria seleksi sebagai berikut :

1)      Biji sedikit dan kecil, daging buah tebal, manis dan aroma menarik

2)      Kulit buah tidak lunak, mulus , tidak ada getah kuning

3)      Bobot per buah 140-180 gram

4)      Pertumbuhan cepat dan subur

5)      Berumur genjah

6)      Berbuah lebat dan stabil dari tahun ke tahun

PERSYARATAN TUMBUH

 

            Faktor iklim yang paling berperan terhadap pertumbuhan dan produksi  manggis adalah suhu udara dan curah hujan.   Tinggi tempat yang sesuai di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.  Suhu udara berkisar 22-32 0 C, curah hujan antara 1500-2500 mm/tahun dan meata sepanjang tahun, penyinaran matahari antara 40 % -70 %.

            Tanaman manggis dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah namun yang paling baik tanah latosol dan air tanah memadai.  Keadaan tanah subur, gembur banyak mengandung humus.  Ph tanah berkisar 5-7, drainase baik.  Kedalaman air tanah yang paling ideal 50-200 cm.

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN MANGGIS

 

Bahan Tanaman

 

            Biji manggis bersifat apomiksis  (tanpa proses perkawinan), sehingga tanaman yang berasal dari biji memiliki sifat identik dengan induknya.  Namun perbanyakan manggis dengan biji memiliki kelemahan yaitu masa remaja (juvenilitas) sampai masa berbuah sangat lama, yakni lebih dari 15 tahun .  Perbanyakan yang dapat disarankan untuk tanaman manggis menggunakan cara sambung (top grafting) dengan sambung celah dan penyusuan (approach grafting).

            Bibit yang akan digunakan sebagai batang bawah berumur lebih 2 tahun atau ukuran diameter batang 0,5 cm, jaringan batang sedang aktif tumbuh dicirikan dengan warna kulit masih hijau.  Entres yang digunakan sepanjang satu buku.  Persentase keberhasilan dapat ditingkatkan dengan mengolesi batang bawah dan entres yang akan disambung dengan adenin atau kinetin 500 ppm.

Penyiapan Lahan dan Penanaman

 

            Lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm  sedang jarak tanam 8 x 10 m atau 10 x 10 m.  Lapisan tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang matang sebanyak 20-30 kg/lubang pada 2 minggu sebelum tanam.  Waktu tanam yang paling tepat adalah awal musim hujan.  Sebelum tanam dipupuk dengan ZA 500 gram, SP 36 250 gram, dan KCl 250 gram per lubang.  Pupuk ditaburkan merata ke dalam lubang kemudian ditutup kembali dengan tanah.  Kebutuhan bibit manggis untuk lahan seluas 1 hektar sekitar 100-125 tanaman.

 

Pengairan

 

            Tanaman manggis yang masih kecil membutuhkan pengairan secara rutin, berangsur-angsur frekuensi dikurangi.  Hal yang penting yaitu menjaga tanah di sekitar kanopi agar tanaman tidak kekeringan.  Waktu penyiraman sebaiknya pagi atau sore hari untuk menghindari penguapan.

Pemberian Mulsa

 

            Mulsa jerami diperlukan untuk menutup bidang tanah di sekeliling batang tanaman yang masih kecil.  Dengan adanya mulsa akan mengurangi pertumbuhan gulma dan mengurangi penguapan air tanah.  Ketebalan mulsa sekitar 3-5 cm, disebar merata di permukaan tanah di bawah kanopi.

Pemupukan

 

            Pemupukan manggis dilakukan kontinyu 2 sampai 3 kali dalam setahun.  Sebagai pedoman pemupukan dan memperhatikan kesuburan lahan maka tiap tahun dapat dipupuk dengan ZA 500-750 gram, SP 36 500 gram, KCl 400 gram per pohon.  Khusus pada periode pembuahan perlu diberi pupuk NPK 500 gram/pohon. Atau dapat menggunakan pedoman pemupukan sebagai berikut :

  • Umur 6 bulan dipupuk campuran Urea , SP 36 dan KCl (3:2:1) sebanyak 200-250 gram/pohon
  • Umur 1-3 tahun dipupuk campuran Urea 400-500 gram, SP36 600-700 gram dan KCl 900-1000 gram (3:1:2) per tanaman
  • Umur 4 tahun dan seterusnya , dosis pupuk Urea, SP 36 dan KCl ditingkatkan  dan ditambah pupuk kandang  40 kg per tanaman.

 

Pemupukan dilakukan dengan cara melingkar di sekeliling tanaman, tepat di bawah tajuk tanaman sedalam 20-30 cm segera ditutup tanah dan disiram hingga lembab.

Pengendalian OPT

 

            Jenis hama yang sering menyerang tanaman manggis adalah ulat bulu, menyerang bagian daun hingga daun rusak dan berlubang.  Pengendalian dengan sanitasi kebun dan penyemprotan dengan insektisida .  

            Penyakit yang sering menyerang manggis antara lain :

  • Bercak daun , disebabkan Gloeosporium sp

            Muncul bercak yang tidak beraturan  pada daun dengan pusat bercak berwarna kelabu .  Pengendalian dnegan mengurangi kelembaban pada kebun, memangkas dahan yang terserang dan menggunakan fungisida atau pestisida alami

  • Jamur upas, disebabkan Corticium salmonicolor

            Cabang serta ranting mati akibat jaringan kulit mengering, sehingga sering disebut penyakit mati cabang atau mati ranting.  Pengendalian dengan memangkas bagian tanaman terserang, mengerok kulit dan bagian kayu yang terserang kemudian diolesi dengan cat atau disemprot dengan fungisida.

  • Jamur pada ranting (Botryosphaeria ribis)

            Ranting dan daun tunas baru manggis muda relatif peka terhadap serangan cendawan jamur ranting yang menimbulkan bercak-bercak coklat pada ranting dan daun muda .  Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprot batang menggunakan bubur California (Supriyanto et al, 2002).

Panen dan Pasca Panen

 

            Panen pertama tanaman manggis asal sambung sekitar 5 –7 tahun sedang dari biji 15 tahun.  Jumlah buah  pertama panen berkisar 5-10 buah /pohon dan selanjutnay sesuai umur tanaman berkisar 100-> 2000 buah /pohon bila tanaman dipelihara secara intensif dan tanaman berumur lebih dari 15 tahun.  Ciri buah manggis saat dipanen yaitu kulit buah berwarna ungu kemerahan atau merah muda..  Pemanenan buah manggis dilakukan dengan galah yang  ujungnya terdapat pisau serta  keranjang kasa  sehingga buah tidak jatuh ke tanah .

            Sortasi buah didasarkan pada ukuran atau bobotnya yakini buah ukuran besar > 100 gram, ukuran kecil 65-100 gram.  Sedang pengemasan buah menggunakan kotak karton yang diberi pelengkap jaring .  Syarat buah manggis yang diminati konsumen yaituukuran buah besar, kulit merah tua merata dan tidak cacat.  Penyimpanan buah agar tetap segar dapat dilakukan pada suhu 4-6 0 C dan buah bertahan hingga 49 hari., sedang pada suhu 9-12 0 C  tahan hingga 33 hari (Rukmana, 1995).

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 1997.  Budidaya durian. BPTP Sukarami.

Campbell, C.W.  1967.  Growing the mangosteen in Southern Florida.  Hort. Sci.

Cedric, R.D.  1983.  Mangosteen a neglected tropical fruit.  International Workshop for Promoting Research on Tropical Fruits.   Jakarta.

Cox, E.F.  1976.  Garcinia mangosteen. in The Propagation Tropical Fruits Trees. 1 st ed.  Commonwealth Agricuktural Bureaux Famham. Royal, England.

Maryasni, E.  1992.  Prospek dan permasalahan ekspor manggis dan rambutan.  Departemen Perdagangan. Dirjen Perdagangan Luar Negeri.  Direktorat Standardisasi dan Pengembangan Mutu. Jakarta.

Poerwanto, R., dan S. Manuwoto.  2000.  Kerangka Acuan Riset Unggulan Strategi Nasional.  Pusat Kajian Buah-buahan Tropika.  IPB.

Pusat Kajian Buah-buahan Tropika.  2000.  Hasil lokakarya RUSNAS.  Pengembangan Buah-buahan unggulan Indonesia.  PKBT IPB.

Rukmana, R. 1995.  Budidaya manggis. Kanisius.  Jakarta.

Supriyanto, A., A. Sugiyatno, O. Endarto dan Harijanto.  2002.  Pengkajian sistem  usahatani manggis di kabupaten Trenggalek.  Pros. Hasil Penelitian/Pengkajian  BPTP Jatim.

Syariefa, E.  2003.Durian lokal diincar.  Trubus 398- XXXIV.  Penebar Swadaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: