Oleh: baswarsiati | Mei 9, 2009

Mengenal Gladiol

MENGENAL GLADIOL

 

Oleh : Baswarsiati

 

            Gladiol merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang potensial untuk dibudidayakan secara meluas, karena nilai estetikanya dan mampu menunjang peningkatan pendapataan petani.  Produktivitas bunga potong dan bibit gladiol ditingkat petani masih rendah, yaitu baru mencapai 169.189 tangkai dan a36.405 subang/ha.  Volume pemasaran di kota-kota besar telah mencapai 127.200 tangkai per minggu , dan akhir-akhir ini permintaan bunga potong meningkat rata-rata 10 % per tahun.  Untuk memenuhi permintaan pasar , produktivitas gladiol , baik sebagai bunga potong maupun bibit  perlu ditingkatkan melalui penyempurnaan teknik budidaya dan aspek pemasarannya.

 

BOTANI

            Gladiol berasal dari bahasa latin “Gladius” yang berarti pedang kecil , menunjukkan pada bentuk daunnya yang sempit dan panjang seperti pedang.  Genus gladiolus terdiri dari 180 spesies yang merupakan tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae.  Gladiol berasal dari Afrika Selatan dan sudah menyebar di Asia sejak 2000 tahun silam , kemudian pada tahun1730 memasuki daratan Eropa dan berkembang baik di negara Belanda.

 

Klasifikasi gladiol sbb :

            Divisi        : Tracheophyta

            Subdivisi  : Pteropsida

            Klas          : Angiospermae

            Subklas    : Monocotyledonae

            Ordo         : Iridales

            Famili       : Iridaceae

            Genus       : Gladiolus

            Spesies     : Gladiolus hybridus

 

Morfologi

            Sebagai ciri tanaman yang termasuk sub klas Monocotyledonae , tanaman gladiol berakar serabut.  Namun tanaman gladiol juga membentuk akar kontraktil yang tumbuh pada saat pembentukan subang baru.  Akar tersebut berdaging dengan diameter sekitar 0,7 cm dan berwarna putih yang berfungsi menyangga dan menmpatkan subang baru pada lapisan tanah yang tepat, sehingga bila subang induk telah mengkerut maka subang baru akan terletak pada lokasi yang lebih dalam .

            Akar kontraktil mempunyai sejumlah rambut halus yang berfungsi sebagai penyerap air dan organ penyimpan sementara.  Subang baru terus berkembang untuk menggantikan sibang induk yang semakin mengkerut diikuti dengan mengecilnya diameter akar kontraktil.

            Subang (corm) adalah batang yang termodifikasi menjadi bulat pipih dan mengandung buku, ruas dan mata tunas.  Subang terjadi dari ruas tunas terbawah yang membengkak dan menghasilkan  organ persediaan makanan yang mampu berfungsi sebagai alat reproduksi.  Anak subang juga dapat berfungsi sebagai alat pembiakan vegetatif namun membutuhkan waktu lama untuk hingga saat menghasilkan bunga berukuran standar, yaitu antara dua sampai empat tahun.

            Daun gladiol berbentuk meruncing dan memanjang ke atas dengan panjang sekitar  50-80 cm dan lebar 1-4 cm, tersususn tumpang tindih pada bagian dasar  dan berjumlah 1-12 helai.  Tanaman berbunga setelah mempunyai daun minimal 8 helai.

            Bunga gladiol mempunyai tabung berbentuk corong yang melebar pada bagian ujungnya.  Bunga terdiri dari kelopak dan mahkota  yang masing-masing terdiri atas tiga helai yang tidak sama besar, dan menyempit di bagian pangkalnya. Bunga tersusun dari banyak bunga yang disebut floret berbentuk tandan dan berasal dari sumbu terminal , yang berjumlah 8-20 kuntum.  Jumlah floret  tergantung pada kultivar dan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti cahaya , suhu dan kelembaban.  Floret berbentuk bundar , segitiga atau seperti anggrek dan penampakan petal dapat polos, mengkerut, menggelambir. menekuk keluar atau melancip [ada bagian ujung.  Ukuran floret sangat bervariasi, dari yang kecil berukuran 2 cm sampai yang besar berdiameter 18 cm atau lebih.  Floret tersusun satu-satu atau sejajar dan ada pula yang berpasangan.

            Berdasarkan ukuran floret kultivar gladiol  diklasifikasikan ke dalam 5 kelas, yaitu dari ukuran kurang dari 6,4 cm sampai lebih dari 14 cm, dan berdasrakan warnanya ke dalam 10 kelas warna dari putih hingga kecoklatan serta kepekatan warna dari pucat hingga kelam.

            Inisiasi bunga terjadi pada saat daun ketiga muncul dan berakhir kira-kira bersamaan denganterbentuknya daun keenam atau daun ketujuh.  Primordia bunga muncul setelah seluruh daun terbentuk, yaitu sekitar 60 hari setelah tanam. Seminggu setelah penyerbukan bakal buah membesar dan terus berkembang menjadi buah.  Buah berwarna hijau sampai kemerah-merahan tergantung kultivar, berbentuk lonjong.  Biji gladiol berwarna coklat dan jika sudah tua bersayap , sehingga dapat tersebar oleh angin jika terlambat dipanen.  Pecahnya buah gladiol menunjukkan bahwa buah telah masak dan dapat segera dipanen.  Biji gladiol tidak mengalami masa dormansi , berkecambah sekitar 1 minggu setelah tanam.

 

EKOLOGI

            Tanaman gladiol memberikan respon yang berbeda terhadap variasi kondisi lingkungan terutama suhu, kelembaban dan cahaya.Tanaman gladiol tumbuh baik pada suhu 10 –25o C. Suhu rata-rata yang kurang dari 10 o C akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat.  Jika suhu rendah berlangsung lama, pertumbuhan tanaman dapat terhenti.  Suhu maksimum untuk pertumbuhan gladiol adalah 27oC , suhu berpengaruh pula terhadap periode pembungaan.

            Subang gladiol setelah ditanam harus dapat berakar dengan cepat dan tidak terganggu.  Ini mudah terjadi bila tanah disekitar subang cukup lembab.  Pada periode sangat kritis, yaitu saat terbentuknya daun ketiga sampai daun ketujuh, tidak boleh kekurangan air dan cahaya .  Selama periode inisiasi bunga dapat pula terjadi kematian akar dari subang induk dan pembentukan akar kontraktil dari subang baru.

 

PEMULIAAN GLADIOL  

            Galdiol yang diusahakan  terdiri dari beberapa ragam jenis, yaitu :

  1. Gladiolus gandavensis.  Bunga berukuran besar sehingga sususnan bunga terlihat tumpang tindih. Panjang tangkainya 90-150 cm
  2. Tangkainya halus , tetapi kuat dan panjangnya mencapai 90 cm
  3. Gladiolus ramosus .  Panjang tangkai bunga 100-300 cm
  4. Gladiolus nanus.  Tangkai bunga melengkung dan panjangnya hanya 35 cm.

 

Gladiol yang diusahakan saat ini oleh petani bunga di Indonesia lebih dari 50 kultivar antara lain Dr Mansoer, Queen Occer, Albino, Golden Boy , Salem, Ros van Lima, White Friendship, Priscilla dan Nova Lux.

            Pemuliaan gladiol tidak banyak berbeda dengan tanaman lainnya yaitu dengan tujuan untuk menghasilkan tipe-tipe baru khusunya yang mempunyai nilai estetika lebih tinggi  (variasi warna, ukuran, bentuk, produksi bunga dan penampilan yang lebih memenuhi selera konsumen ).

 

Teknik Persilangan Gladiol

  1. Bunga yang telah diemaskulasi kemudian dibungkus dengan plastik atau kertas yang tahan air untuk menghindari persilangan yang tidak diharapkan.

            Tepungsari dikumpulkan dari tetua jantan yang terpilih,  Viabilitas tepungsari dalam suhu kamar sangat singkat, 24 jam setelah pengambilan , viabilitasnya hampir nol.  Penyimpanan dalam desikator dengan menggunakan kalium karbonat pada suhu 10oC dan kelembaban 50 % tanpa cahaya dapat digunakan selama 100 hari.  Penyerbukan dilakukan pada putik yang reseptif, yaitu jika terdapat lendir  pada kepala putik dan kepala putik telah membuka.  Jika penyerbukan dilakukan di lahan terbuka (lapang) maka pembungkusan setelah penyerbukan tetap dilakukan.  Pembungkus dapat dibuka setelah putik layu.  Masa reseptif dari putik gladiol adalah sua sampai empat hari, pembengkakan bakal buah dapat terlihat satu minggu kemudian. Jika ada inkompatibilitas antara putik dan tepungsari maka pembengkakan buah tidak dapat terjadi.   Pemanenan buah gladiol dapat dicirikan dengan perubahan warna buah dari hijau menjadi coklat dan adanya peretakan pada ujung buah, ini terjadi kurang lebih 30 hari setelah penyerbukan.

 

PERBANYAKAN GLADIOL

 

Perbanyakan generatif

 

            Perbanyakan generatif dengan biji hanya dilakukan untuk tujuan pemuliaan, yang diperoleh dari penyerbukan bantuan manusia.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT GLADIOL

 

            Beberapa hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman gladiol antara lain : thrips, kutu putih,ulat pemakan daun, penyakit layu fusarium, penyakit busuk kering, busuk keras, busuk subang, hawar bakteri.

 

Thrips (Taeniothrips simplex (Mor))

 

            Thrips gladiol dijumpai di setiap area pertanaman gladiol di seluruh dunia.  Selain pada tanaman gladiol, juga menyerang pada tanaman lili, iris, aster , anyelir, narcissus.  Thrips dapat menimbulkan keruskan berat di lapang.  Bercak-bercak berwarna keperkakan terlihat pada permukaan daun karena serangga hama tersebut dengan alat mulutnya memarut jaringan daun atau bunga dan mengisap cairan yang keluar dari bagian tanaman. Jaringan tanaman yang sudah terisap diisi oleh udara yang menimbulkan warna keperkan jika terkena sinar matahari, daun yang dipenuhi bercak-bercak akhirnya menjadi coklat dan mati.  Serangan pada bunga menimbulkan bercak-bercak putih.

            Penggunaan subang bibit yang bebas hama dan penyiangan lahan gladiol dari berbagai jenis gulma dapat membantu menekan tingkat populasi thrips.  Penggunaan insektisida yang tepat waktu dan dosis tepat sesuai anjuran dapat membantu menekan perkembangan populasi hama tersebut.  Insektisida berbahan aktif asetat, dimetoat, endosulfan, formothion, karbaril, merkaptodimetur dan metomil dapat digunakan pada stadia tanaman yang rentan terhadap thrips.

 

Kutu Putih (Pseudococcus sp)

 

            Hama tersebut  biasanya merusak umbi gladiol di penyimpanan, tetapi kadang-kadang dijumpai pula pada umbi di lapang.  Kutu berlilin putih biasanya berkumpul pada bagian pucuk atau bakal akar dari umbi gladiol.  Dengan menusukkan alat mulutnya yang halus, panjang dan tajam ke dalam jaringan umbi, serangga mengisap cairan tanaman, mengakibatkan tunas atau akar terhambat pertumbuhannya  dan bahkan gagal tumbuh.  Pada serangan berat , umbi menjadi keriput , kering dan kemudian mati.

            Subang yang akan disimpan untuk digunakan sebagai bibit pada pertanaman berikutnya atau subang bibit yang akan ditanam sebaiknya dipilih yang bebas dari hama kutu putih.  Sebagai tindakan pencegahan dianjurkan untuk merendam subang dalam larutan insektisida selama 30-60 menit., kemudian dikeringanginkan sebelum disimpan digudang atau sebelum ditanam. Insektisida yang dapat digunakan antara lain mengandung bahan aktif asetat, dikhlorfos, dikrotofos, dimetoat, formothion,fosfamidon,karbaril,kuinalfos, malathion,metidation,monokrotofos,nikotin, triazofos.  Sebaiknya subang bibit disimpan dalam gudang berventilasi baik.

 

Beberapa jenis ulat pemakan daun (Larva Lepidoptera)

 

            Hama pemakan daun dijumpai hampir di seluruh area pertanaman gladiol.  Daun menjadi  berlubang pada satu sisi permukaannya atau jaringan daun hilang sama sekali.  Hal ini sebagai akibat gigitan larva stadia awal.  Bersmaan dengan tumbuhnya larva maka makin besar pula serangan dari daun yang rusak.  Bahkan beberapa jenis sering mengnalami defoliasi.  Adakalanya ulat juga memakan bagian bunga.

            Sebagai hama potensial , tingkat populasi ulat pemakan daun perlu diwaspadai.  Insektisida dapat digunakan bila populasinya cenderung meningkat.  Insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis efektif untuk ulat pemakan daun, juga terbukti aman bagi musuh alami hama karena sifatnya yang spesifik.

 

Penyakit Layu Fusarium

 

            Penyakit ini biasa disebut busuk kering fusarium.  Penyebabnya adalah cendawan F. oxysporum var gladioli atau F . orthoceras var.gladioli.  Daun gladiol yang terserang patogen menguning dan agak memilin. Pada serangan yang lebih lanjut akan tampak pertumbuhantanaman menjadi kerdil dan tanaman mudah patah.  Pada subang yang terserang tampak ada bercak dan dalam keadaan lembab hifa patogen yang berwarna putih seperti kapas menutupi permukaan bercak tadi dan menjalar ke bagian tanaman lainnya.

            Pemeliharaan subang di tempat penyimpananmerupakan cara penanggulangan penyakit tingkat dini.  Subang yang akan digunakan sebagai bibit harus dipilih dengan baik sebelum disimpan.  Satu subang yang terinfeksi akan menularkan penyakit tersebut ke seluruh subang lainnyadalam tempat penyimpanan yang sama.  Tempat penyimpanan diusahakan supaya tidak lembab.  Keadaan yang lembab sangat disukai oleh patogen untuk perkembangannya.  Subang yang akan ditanam sebaiknya direndam dalam suspensi fungisida Benlate ( 2 g/l air) selama 30 menit.  Anak subang yang relatif tahan panas setelah dicuci bersih dapat segera direndam dalam air hangat 70 o C yang mengandung 5 % alkohol selama 30 menit.

 

Penyakit Busuk Kering

 

            Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Botrytis cinerea atau B. gladiolorum.  Kerugian langsung yang diakibatkan patogen tersebut  ialah bunga menjadi berbintik-bintik, kemudian berkembang menjadi bercak-bercak. Sehingga bunga tidak disukai konsumen.  Subang yang terserang menjadi busuk terutama pada bagian tengahnya.   Penyakit tersebut berkembang dengan pesat di tempat penyimpanan yang lembab.  Gejala ini juga dijumpai pada daun yang nampak bintik-bintik agak kelabu, kemudian berkembang menjadi bercak kehitaman.

            Subang yang baru dipanen sebaiknya dikering udarakan sebelum disimpan pada tempat yang kering.  Subang yang akan ditanam harus sehat, bebas dari gejala penyakit.  Bunga yang ditinggalkan di lapang karena tidak dipanen dapat menjadi inang yang baik. Sehingga dapat menjadi sumber inokulum yang potensial. Penyemprotan tanaman dengan fungisida seperti captan, zineb atau nabam dapat digunakan.

 

Busuk Subang

 

            Busuk subang atau busuk kapang biru disebabkan oleh cendawan Penicillium gladioli.  Cendawan tersebut termasuk patogen yang lemah. Patogen tersebut akan masuk dan menginfeksi subang gladiol bila pada bagian subang terdapat luka.  Luka dapat disebabkan serangga maupun terkena alat pertanian dsb.   Jika pada subang terjadi pelukaan dan lingkungannya lembab, maka dalam waktu yang relatif singkat patogen masuk dalam subang dan berkembang.

            Cara penanggulangan dimulai dengan dengan cara penyimpanan subang yang baik.  Subang yang disimpansebaiknya dikeringudarakan.  Terjadinya pelukaan pada subang sebaiknya dicegah.

 

Hawar bakteri

 

            Penyakit ini disebabkan oleh Xanthomonas gummisudans.  Penyakit berkembang dengan cepat pada keadaan lingkungan yang basah atau drainase yang kurang baik. Gejala awal yang nampak adanya bercak horizontal yang cekung berair berwarna hijau tua dan berubah menjadi coklat.  Bercak akan berkembang sampai hampir menutupi seluruh permukaan daun dan menyebabkan daun mengering. Patogen tersebut dapat ditularkan melalui subang atau percikan air hujan.  Tungau yang ada pada permukaan subang gladiol memudahkan patogen mengadakan penetrasi.  Oleh karena itu salah satu cara pengendalian adalah dengan menghindarkan subang dari infestasi tungau.  Perendaman subang tanpa kulit selama 2 jam dalam suspensi bakterisida dapat dilakukan sesuai dosis anjuran.

 

PASCA PANEN GLADIOL

 

            Pelaksanaan panen bunga dan subang gladiol biasanya dilakukan secara manual.  Hasil panen primer adalah bunga potong, sedangkan hasil panen sekunder adalah subang dan anak subang baru yang dapat digunakan sebagai bibit.  Bunga gladiol tergolong mudah rusak dan layu sehingga panen dilakukan dngan hati-hati demikian juga saat pengangkutan dan penyimpanan.

 

Bunga

 

Stadia Pungut

 

            Tanaman gladiol berbunga pada umur 60-80 hari setelah tanam tergantung kultivar.  Bunga pertama akan mekjar setelah 190 hari primordia bunga muncul.  Bunga dapat dipetik setelah warna dari 1 atau 2 floret terbawah telah dapat dilihat dengan jelas tetapi belum mekar.  Jika kuncup bunga dibiarkan sampai mekar penuh, kerusakan akan mudah terjadi terutama selama pengemasan dan transportasi.  Bila bunga dipanen lebih awal, yaitu sebelum floret terbawah menampakkan warna bunga, maka ada kemungkinan bunga tidak dapat mekar sempurna. Untuk pengiriman yang membutuhkan waktu lama maka stadia pungut yang lebih awal adalah saat 1 atau 2 bunga terbawah menampakkan warna bunga untuk menjamin agar bunga cukup mekar sampai di tempat tujuan.

 

 

 

 

 

Waktu Panen

 

            Sebaiknya dilakukan pagi hari saat turgor bunga optimum.  Kandungan karbohidrat yang rendah dapat diperbaiki dengan larutan pengawet yang mengandung gula.  Bila bunga basah karena embun atau air hujan sebaiknya pemanenan menunggu hingga bunga menjadi kering.  Bunga yang  basah akan mudah terserang oleh cendawan walaupun pada kondisi suhu yang rendah.

 

Cara Panen

 

            Pemanenan bunga dilakukan secara hati-hati dengan menyertakan 2-3 daun pada tangkai bunga dan menyisakan daun-daun pada tanaman sebanyak mungkin minimum 4 daun.  Pemotongan tangkai bunga dengan pisau tajam dan bersih supaya terhindar dari kontaminasi jasad renik.  Jika pisau tumpul yang digunakan maka terjadi luka yang lebar pada permukaan dasar tangkai bunga sehingga kemungkinan terjadi infeksi lebih tinggi.

 

Grading

 

            Bunga gladiol selau peka terhadap kekuatan gaya berat dan selalu cenderung melengkung pada suhu tinggi.  Oleh karena itu seluruh bunga potong gladiol harus diletakkan tegak lurus dan ditangani pada suhu rendah baik selama penyimpanan maupun transportasi.  Bunga potong gladiol yang berkualitas tinggi harus bertangkai lurus dan kuat, bebas dari kerusakan hama dan penyakit. 

            Pelaksanaan sortasi untuk memilah kelas mutu dalam perdagangan bunga oleh petani Indonesia  berdasarkan diameter bunga, yaitu

 

Grade Panjang Tangkai (cm) Jumlah kuntum per malai
12

3

4

80> 70 –80

> 60 –70

< 60

10 – 1410 – 14

> 6

> 6

 

            Pengikatan kuntum bunga sebanyak 10 kunum dalam satu ikatan atau sesuai pesanan.  Sedangkan standar kualitas bunga gladiol dalam dunia perdagangan sbb :

 

Kelas Mutu

Grade

L

M

S

AB

C

     x                              x                                     x                          x

                                                                  x

 

Keterangan :

            L = panjang tangkai . 80 cm

            M = panjang tangkai . 70 – 80 cm

            S  = panjang tangkai < 70 cm


Responses

  1. Ada fotonya pasti lebih sip .. :)
    Saya suka bunga gladiol.. kalau liat bunga ini saya teringat ayah saya. Ayah saya suka bikin rangkaian bunga kalau mau lebaran dan pasti ada bunga gladiolnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: