Oleh: baswarsiati | April 24, 2009

Bawang Merah Batu Ijo Sayuran Spesifik Kota Batu

BAWANG MERAH BATU IJO

SAYURAN SPESIFIK KOTA BATU

 

Baswarsiati, BPTP Jawa Timur

 

            Kota Batu dikenal sebagai kota apel dan pusat tujuan wisata di Jawa Timur yang berhawa sejuk dengan pemandangan alam yang sangat indah.  Karena letaknya di pegunungan sehingga tanaman hias maupun sayuran dataran tinggi seperti wortel, kentang, kobis, bawang daun dan lainnya tumbuh dengan subur dan produktivitasnya tinggi.  Oleh karenanya kaum wisatawan setiap saat berkunjung ke kota Batu untuk mengunjungi agrowisatanya yang terkenal dengan berbagai macam komoditasnya untuk oleh-oleh termasuk diantaranya bawang merah Batu Ijo.

            Batu Ijo merupakan salah satu varietas unggulan bawang merah yang berkembang puluhan tahun di kota Batu- Jawa Timur.  Saat ini di Jawa Timur terdapat beberapa varietas unggul bawang merah spesifik lokasi yaitu varietas Bauji yang berasal dari Nganjuk dan sesuai ditanam di musim hujan serta varietas Batu Ijo yang umumnya ditanam di dataran tinggi dan datarn medium, varietas Monjung dari Pamekasan, Biru Lancur dari Probolinggo dan beberapa varietas lainnya.  Sedangkan varietas Super Philip merupakan varietas unggul asal introduksi dari Philipine yang telah berkembang di hampir semua sentra produksi bawang merah di Indonesia.

Hingga saat ini varietas bawangmerah yang telah dilepas oleh pemerintah  antara lain Bima Brebes, Medan, Keling, Maja Cipanas, Kramat 1, Kramat 2, Kuning  ( hasil pelepasan Balitsa Lembang), Super Philip, Bauji Ijo (hasil pelepasan BPTP Jawa Timur), dan Batu Ijo . Konsumen bawangmerah pada umumnya lebih menyukai bawangmerah dengan ukuran umbi besar (8-10 g/umbi), warna kulit merah mengkilat dan berumur genjah. Varietas unggul yang telah dilepas masing-masing mempunyai ciri yang berbeda . Walaupun demikian masih diperlukan adanya varietas unggul baru yang mempunyai ciri spesifik sesuai dengan unggulan daerah.  Karena dengan adanya varietas unggul baru regional maka produktivitas akan lebih stabil di agroekologi spesifik .  Salah satu varietas bawang merah  yang menjadi varietas unggul spesifik lokasi dataran tinggi dan dataran rendah yaitu bawang merah varietas Batu Ijo.  Varietas Batu Ijo lebih dikenal petani Batu dengan nama Bali Ijo , namun setelah ditelusuri asal usulnya bukan dari Bali .

 

Keunggulan

            Bawang merah varietas Batu Ijo mempunyai beberapa keunggulan antara lain ukuran umbi besar 10-22,5 g/ umbi (berat umbi bawang merah pada umumnya 6-10 gram) dengan produksi umbi  kering berkisar 16,5 hingga 20 ton umbi kering per hektar.   Produktivitas varietas Batu Ijo nampak masih  seimbang dengan varietas unggul Super Philip maupun Bauji di musim kemarau maupun musim hujan.  Hal ini menunjukkan bahwa varietas Batu Ijo di dataran rendah mampu tumbuh dengan baik di musim kemarau maupun musim penghujan, seimbang  produksinya dengan varietas unggul lainnya. Selama ini varietas ini berkembang di dataran  tinggi seperti Batu, namun dapat juga ditemukan di beberapa daerah dataran rendah .  Selain ukuran umbi yang besar maka jumlah anakan dari varietas Batu Ijo sedikit yaitu 2-5 anak per rumpun dan penampilan  tanaman yang kekar dan tinggi serta daun lebih lebar dibandingkan varietas bawang merah lainnya sehingga hampir menyerupai bawang daun ataupun bawang Bombay. Umur panen sekitar 55-60 hari di dataran rendah dan 65-70 hari di dataran tinggi . Jumlah lapis umbi berkisar 6-10 sedangkan tebal  lapis umbi 2,2 mm –  4,7 mm.  Kandungan kimia bawang merah Batu Ijo pada setiap 100  gram bahan yaitu kadar air   87,41 %,  kadar asam 0,12  %, kadar gula 6,43 %, kadar vitamin C  9,98 mg, kadar karbohidrat 3,14 %, kadar protein 3,33 %, dan kadar minyak atsiri 0,21 %.

 

Kelemahan

            Bawang merah varietas Batu Ijo mempunyai kelemahan dalam hal kerentanannya terhadap penyakit Alternaria porii dan Fusarium demikian pula terhadap ulat grayak (Spodoptera exigua) seperti halnya varietas bawang merah lainnya.   Selain itu varietas Batu Ijo tidak sesuai bila ditanam di musim hujan karena daunnya mudah hancur bila  terkena air hujan sehingga tanaman mudah terserang penyakit.  Disarankan untuk penanamannya dilakukan di musim kemarau di dataran rendah maupun dataran tinggi.

 

Preferensi Konsumen

                        Preferensi konsumen terhadap bawang merah varietas Batu Ijo cukup tinggi karena ukuran umbinya besar sehingga mudah dalam mengupasnya serta permintaan konsumen akan meningkat terhadap  varietas ini di saat bawang merah varietas Super Philip luas panennya menurun karena serangan hama atau penyakit sehingga harganya meningkat.  Permintaan konsumen sangat tinggi khususnya di kawasan Batu karena Batu terkenal sebagai  kawasan wisata sehingga bawang merah varietas Batu Ijo merupakan salah satu kekhasan kota Batu selain sayuran lainnya dan apel sebagai buah tangan.

 

Wilayah Agroekologi Yang Sesuai

            Tanaman bawangmerah varietas Batu Ijo dapat diusahakan mulai dataran rendah hingga di dataran tinggi (50 – 1000 m dpl)   dengan suhu udara 24-28 oC, 4-5 bulan kering/tahun serta curah hujan 1000-1500 mm/tahun.  Sinar matahari dibutuhkan sebanyak-banyaknya dan lahan tidak ternaungi.  Tanah yang diinginkan yaitu berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah dengan pH 6-6,5. Tanaman bawangmerah varietas Batu Ijo dapat ditanam di lahan sawah, lahan kering atau lahan tegalan, dengan jenis tanah bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol. 

 

Wilayah / Potensi Pengembangan

 

            Wilayah untuk potensi pengembangan bawang merah varietas Batu Ijo yaitu di dataran rendah sentra produksi bawang merah di luar kota Batu (zona IV ax).  Selama ini varietas Batu Ijo berkembang lebih dari 15  tahun di kota Batu dan sekitarnya khususnya untuk ditanam oleh petani di dataran tinggi.  Hal ini karena petani merasa bahwa varietas Batu Ijo hanya dapat berproduksi dengan baik di dataran tinggi .  Namun dari hasil adaptasi di dataran rendah seperti di Nganjuk dan Probolinggo maupun di wilayah Madura ternyata mampu berproduksi baik seperti di dataran tinggi.  Sehingga saran pengembangan sebaiknya diarahkan ke dataran rendah karena di dataran tinggi  sangat berhubungan erat dengan konservasi lahan dan pengaruh erosi sangat besar jika di dataran tinggi selalu ditanami sayuran.

 

Cara Budidaya

 

Saat tanam yang tepat bawang merah varietas Batu Ijo yaitu pada bulan April-Mei, walaupun petani pada umumnya menanam setiap saat.  Penanaman varietas yang tepat pada musimnya harus diperhatikan yaitu pada musim kemarau.  Bibit yang digunakan sudah disimpan selama  3 bulan, dengan besar umbi 8-10 g/umbi.  Jarak tanam menggunakan 20 cm x 15 cm.  Dengan bedengan pada musim kemarau berukuran tinggi 20-25 cm, lebar 1,4-18 m, panjang sesuai lahan dan kedalaman parit 30 cm.

Pemupukan dasar menggunakan pupuk kotoran sapi 10 t/ha, dan SP 36 200 kg/ha diberikan 3-7 hari sebelum tanam.  Pupuk susulan menggunakan Urea 200 kg/ha dan ZA 450 kg/ha yang diberikan 2 kali masing-masing ½ dosis pada 15 hari dan 30 hari setelah tanam.  Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu.  Panen untuk dataran rendah berkisar 55-60 hari dan dataran tinggi 65-70 hari .

 

DESKRIPSI VARIETAS BAWANG MERAH BATU IJO

 

Asal

:

Batu-Malang

Nama asal

:

Bali Ijo

Nama yang diusulkan

:

Batu Ijo

Umur

:

Mulai berbunga 45-50 hari

 

 

Panen (80% batang melemas) 55-60 hari di dataran rendah dan 65-70 hari di dataran tinggi

Tinggi tanaman

:

45 – 60 cm

Kemampuan berbunga

:

Agak mudah

Banyaknya anakan

:

2-5 umbi/rumpun

Bentuk daun

:

Silindris, berlubang

Banyak daun

:

45-50 helai/rumpun

Warna daun

:

Hijau

Bentuk bunga

:

Seperti payung

Warna bunga

:

Putih

Banyak buah/tangkai

:

60-75

Banyak bunga/tangkai

:

100-110

Banyak tangkai bunga/rumpun

:

2-3

Bentuk biji

:

Bulat, gepeng, berkeriput

Warna biji

:

Hitam

Bentuk umbi

:

Bulat

Ukuran umbi

:

Besar (10-22,5 g)/umbi

 

Diameter umbi

:

42,75 – 53,80 mm

Jumlah lapis umbi

:

6-10

Tebal lapis umbi

:

2,2 – 4,7 mm

Warna umbi

:

Merah kekuningan

Produksi umbi

:

16,50 t/ha umbi kering

Susut bobot umbi

:

25% (basah-kering)

Aroma

:

Sedang

Kadar air

:

87,41 %

Kadar asam

:

0,12 %

Kadar gula

:

6,43 %

Kadar vitamin C

:

9,98 mg/100 g bahan

Kadar karbohidrat

:

3,14 %

Kadar protein

:

3,33 %

Kadar minyak atsiri

:

0,21 %

Kesukaan/cita rasa

:

Cukup digemari

Kerenyahan untuk bawang goreng

:

Sedang

Ketahanan terhadap penyakit

:

Rentan terhadap Alternaria porii

Ketahanan terhadap hama

:

Rentan  terhadap ulat grayak (Spodoptera exigua)

Keterangan

:

Baik untuk dataran rendah maupun dataran tinggi pada musim kemarau.  Umumnya ditanam petani di dataran tinggi

Pemulia dan Peneliti

:

Baswarsiati, Eli Korlina, Yuniarti,

M. Soegiyarto , Anggoro Hadi Permadi , Sartono Putrasamedja

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: