Oleh: baswarsiati | Agustus 13, 2010

BUDIDAYA DAN PASCA PANEN CABE RAWIT

BUDIDAYA DAN PASCA PANEN CABE RAWIT

(Capsicum frutescens)

Baswarsiati

PENDAHULUAN

            Cabai bukan merupakan tanaman asli Indonesia , walaupun hampir setiap hari penduduk Indonesia makan dengan cabe.  Cabe berasal dari Meksiko, Peru dan Bolivia , tetapi sekarang sudah tersebar diseluruh dunia.  Cabe merupakan komoditas pertanian yang merakyat seperti halnya bawang merah karena dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.  Sehingga tidak mengherankan bila volume peredarannya di pasaran sangat besar.  Walaupun volumenya sangat besar dan dibutuhkan oleh semua kalangan, tetapi sampai sekarang harga cabai tidak pernah mantap (fluktuatif).  Di beberapa daerah sentra produksi, harga berubah hampir setiap waktu, tergantung jumlah barang dan permintaan.  Bila barang tidak ada karena iklim yang tidak mendukung , maka harga cabai akan melonjak tinggi.  Sebaliknya bila barang sedang membanjir harga bisa turun drastis.  Penurunan harga yang sangat tajam juga terjadi bila cuaca mendung dan kondisi lembab karena mutu cabe menurun dan cabe tidak tahan lama disimpan.

JENIS CABE RAWIT

            Cabe rawit  sering juga disebut Hot Chili, cabe kecil atau “lombok jempling”.  Seperti halnya cabe besar, cabai rawit juga ada beberapa macam tetapi umumnya dikelompokkan menjadi tiga jenis :

  • Cabe kecil/mini/jemprit

Sesuai dengan namanya bentuk buah cabe rawit ini kecil dan pendek, panjangnya hanya 1-2 cm saja. Buah muda biasanya berwarna hijau  dan berubah menjadi merah tua kecoklatan bila masak.  Walaupun kecil tapi cabe rawit ini mempunyai rasa paling pedas di antara semua cabe rawit.

  • Cabe rawit putih

Cabe rawit yang bentuk buahnya langsing dan mempunyai ukuran rata-rata 4-6 cm.         Buahnya berwarna kuning keputih-putihan bila masih muda dan berubah menjadi merah kekuningan setelah masak.  Menurut beberapa pedagang  , cabe rawit jenis ini paling enak bila digunakan sebagai sambal bakso.  Bahkan pabrik saus lebih suka menggunakan cabe rawit putih ini , karena warna sausnya tidak kotor.  Konsumen di Jawa Timur paling menyukai jenis cabe rawit ini.

  • Cabe rawit hijau

Buah cabe rawit hijau ini besar dan gemuk, dengan panjang sekitar 3 –4 cm.  Sesuai dengan namanya, waktu muda buahnya berwarna hijau tua dan berubah menjadi merah tua setelah masak  Rasa dari cabe rawit hijau ini lebih pedas dari cabe rawit putih , tetapi masih kalah dengan cabe rawit kecil.  Umumnya konsumen di Jakarta dan Bandung yang lebih menyukai cabe rawit ini.

SYARAT TUMBUH CABE RAWIT

            Cabe dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 200 m di atas permukaan laut.  Tetapi bila udara sangat dingin sampai embun membeku (frost) mungkin tanaman akan mati.  Penanaman cabe pada waktu musim kemarau dapat tumbuh dengan baik, asal mendapat penyiraman cukup .  Temperatur yang baik untuk cabe adalah sekitar 20 o – 25 o C.  Bila temperatur sampai 35 o C pertumbuhan kurang baik.  Sebaliknya bila temperatur di bawah 10 o C, pertumbuhan kurang baik bahkan dapat mematikan.

            Curah hujan pada waktu pertumbuhan tanaman sampai akhir pertumbuhan yang baik sekitar 600-1250 mm. Bila curah hujan berlebihan dapat menimbulkan penyakit , terbentuknya buah kurang dan banyak buah yang rontok  Tanah yang tergenang air walaupun dalam waktu yang tidak terlalu lama , dapat menybabkan rontoknya buah. Kekurangan hujan , dan tidak ada pengairan juga dapat membuat tanaman cabe menjadi kerdil.  Kelembaban yang rendah dan temperatur yang tinggi menyebabkan penguapan tinggi , sehingga tanaman akan kekurangan air.  Akibatnya kuncup bunga dan buah yang masih kecil banyak yang rontok.

            Cabe rawit dapat ditaam di segala jenis tanah asal gembur, cukup unsur hara dan tidak tergenang air.  Tanah yang asam kurang baik untuk pertumbuhan cabe, maka perlu ditaburi kapur.  Tanah yang baik bila mempunyai pH  sekitar 6,5 .

BUDIDAYA CABE RAWIT

            Cabe rawit dapat ditanam baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, pada musim kemarau maupun musim hujan.  Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah yang subur dan gembur , cukup mengandung bahan organik,humus dan tersedia saluran pembuangan air yang baik.

1.      Pembibitan

            Biji cabe rawit harus disemaikan lebih dulu sebelum ditanam.  Untuk mempercepat pertumbuhannya , biji cabe sebaiknya direndam dahulu dalam air selama 24 jam sebelum ditanam.  Perlu diperhatikan bahwa biji cabe yang baik adalah biji yang betul-betul masak dan kering.  Cara menyemai biji cabe bermacam-macam , ada yang menggunakan kotak pesemaian, pesemaian di lapangan, kantung plastik atau kantung dari daun kelapa, enau, pisang dll.  Tanah yang digunakan untuk pesemaian menggunakan tanah yang subur dan bebas dari gangguan hama dan penyakit.  Pesemaian sebaiknya menggunakan atap dari daun rebu, daun kelapa maupun daunan lainnya agar suasana menjadi lebih lembab dan tanaman tidak terkena sinar matahari langsung.  Atap dapat dibuka atau ditutup menurut keperluan.  Kalau pagi sampai jam 10.00 atap dibuka, kemudian sesudah panas lebih dari jam 10.00 atap ditutup kembali .  Kalau persemaian dibuat dalam kotak kecil dapat dimasukkan dalam rumah.

 2.      Pengolahan Tanah

            Tanah harus dibajak dan dicangkul cukup dalam.  Maksud pencangkulan tanah adalah untuk membalik tanah dan menggemburkan tanah.  Tanah liat walaupun sudah dicangkul  atau dibajak menjadi gembur , cangkul lebih dalam (30-40 cm) dan diberi pupuk organis, misalnya kompos atau pupuk kandang dan dapat ditambahkan pasir.  Bila pupuk organis jumlahnya terbatas, maka pemberiannya cukup pada jarak 60 x 60 cm.  Pupuk organik, pasir dan tanah dicampur merata.  Pupuk organik selain menggemburkan tanah juga dapat menambah unsur hara .  Pupuk organik yang diberikan sebaiknya sudah matang atau sudah menjadi tanah.  Pupuk yang mentah biasanya masih panas sehingga dapat menyebabkan tanaman cabe menjadi layu dan mati.

3.      Pembuatan Bedengan

            Bedengan dapat dibuat dengan ukuran lebar sekitar 90, 100 atau 125 cm dengan melihat kondisi tanah. Tinggi bedengan sekitar 20-30 cm , tergantung keadaan lahan , kalau lahan sering tergenang air pada waktu musim hujan maka bedengan dipertinggi.   Jarak antar bedengan sekitar 40-5- cm atau dapat dipersempit menjadi 30-35 cm.

4.      Pupuk Dasar

            Pada waktu menanam cabe , tanah harus tersedia unsur hara yang cukup, maka bedengan yang telah dipersiapkan dapat diberi pupuk organik berupa pupuk kandang yang sudah matang.  Pupuk tersebut dapat disebarkan ke seluruh permukaan bedengan atau hanya ditempat tanaman cabe akan ditanam. Selain itu dapat ditambahkan pula pupuk SP 36 100 kg perhektar untuk menambah unsur P sedangkan pupuk lainnya dapat diberikan kemudian.

5.      Penanaman

            Bibit cabe dapat dipindahkan setelah tumbuh setinggi kira-kira 15 cm di pesemaian.  Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 x 90 cm.  Pada saat pengambilan semai di lapangan atau semai kotak dapat menggunakan solet yang ditusukan dengan cara miring dan diangkat keatas sehingga semai akan terangkat ke atas. Tempat yang akan ditanami semai dibuat lubang sedalam akar tunggang.  Setelah ditanam segera disiram  dan diberi penutup pelepah pisang atau daun-daunan supaya tidak layu.  Bila semai berasal dari kantung plastik, maka kantong plastik harus disobek lebih dulu  pelan-pelan sehingga media tanahnya tidak pecah. Kalau media tanam pecah ada kemungkinan tanaman akan menjadi layu.  Bila plastik tidak disobek lebih dulu , di kemudian hari akar akan melingkar tidak dapat berkembang.  Setelah bibit cabe ditanam sebaiknya segera disiram air untuk menjaga kelembaban dalam tanah dan kelembaban tanaman.

6.      Penyiraman, drainase dan mulsa

            Tanaman cabe sebaiknya sering disiram terutama pada saat musim kemarau karena tanahnya cepat kering.  Tanaman yang  terlalu lama kekeringan maka pertumbuhannya akan kerdil .  Untuk menghindari kekeringan dapat menggunakan mulsa dari dedaunan maupun dari jerami padi,  Mulsa dari daun lama kelamaan akan menjadi pupuk organik sehingga menambah kesuburan tanah.

            Jika menanam cabe pada musim hujan diusahakan jangan sampai tergenang air.  Bila tanaman cabe terlalu lama tergenang air, akar-akarnya dapat menjadi busuk, daun mudah rontok dan akhirnya tanaman mati.

 7.      Penyiangan

            Bila di lahan banyak gulma maka harus segera disiangi agar tidak menjadi pesaing bagi tanaman cabai untuk mendapatkan unsur hara.  Jika dalam jangka waktu lama gulma tidak segera disiang, tanaman cabe akan menjadi kurus dan kerdil.  Namun pencabutan gulma perlu dilakukan hati-hati agar tidak merusak tanaman cabenya.  Untuk mengurangi munculnya gulma dapat juga menggunakan herbisida sebelum bibit cabe ditanam.

8.  Penggemburan

            Tanah yang terlalu padat harus digemburkan dengan cara dicangkul (didangir) .  Tanah yang gembur peredaran udaranya menjadi lebih baik, sehingga perakaran menjadi lebih sehat.  Pada waktu menggemburkan tanah harus hati-hati, jangan terlalu dalam sebab jika terlalu dalam dapat merusak perakaran.  Akar yang luka tau putus juga mudah terkena infeksi sehingga tanaman menjadi sakit dan mati.

9. Pemupukan

            Tanaman cabe yang telah ditanam sekitar satu minggu dapat segera dipupuk dengan pupuk N, K atau campuran urea dan KCl sebanyak 2 gram setiap tanaman.  Pupuk SP 36 tidak perlu diberikan lagi karena sudah diberikan sebelum penanaman sebagai pupuk dasar.  Pada waktu melakukan pemupukan tidak boleh mengenai batang karena akan merusak batang.  Pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu dipupuk lagi sebanyak 5 gram per pohon.  Penggunaan pupuk daun maupun zat perangsang tumbuhan dapat diberikan sesuai dosis anjuran dalam label kemasan.

  1. 10.    Pengendalian hama dan penyakit

            Tanaman cabe banyak diserang hama seperti thrips, kutu daun, lalat buah  dan lainnya , serta penyakit seperti antraknosa, layu bakteri, layu fusarium, bercak daun cercospora, busuk buah , daun keriting.

Adapun beberapa gejala dan pengendaliannya sebagai berikut :

  • Kutu daun Aphis gossypii

            Kutu daun terdapat dimana-mana dan makan segala macam tanaman.  Kutu daun menyerang daun yang masih muda dan tunas muda. Daun muda yang dihisap , pertumbuhan tidak normal, kerdil berkerut dan keriting. .  Kutu apis ini dapat menularkan penyakit virus , daun menjadi kerinting .

            Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila jumlah tanaman terserang sedikit yaitu dengan memijit menggunakan tangan. Sedangkan secara kimia dapat menggunakan insektisida dengan dosis sesuai anjuran. Atau dapat juga dilakukan pengendalian biologi dengan menggunakan predator seperti kumbang macan .  Dapat pula menggunakan kertas aluminium yang dapat memantulkan sinar matahari ke balik (bawah ) daun tempat hama bersembunyi.

  • Thrips tabacci

            Thrips menyerang hampir semua tanaman misal cabe, tomat, sayuran daun, kentang , tembakau dll.  Thrips menghisap cairan pada permukaan daun dan bekasnya berwarna putih seperti perak.  Bila serangan hebat akan terda[at banyak bercak dan warna daun menjadi putih. Daun yang diserang hama ini akan menggulung, bentuknya tidak normal dan menjadi keriting.  Karena thrips menjadi vektor virus, maka seringkali kelihatan ada mosaik pada daun yang diserang hingga pertumbuhan menjadi kerdil, daun sempit mengecil dan keriting.  Thrips pada umumnya bersembunyi dibalik daun sambil menghisap cairan.

            Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila jumlah tanaman terserang sedikit yaitu dengan memijit menggunakan tangan. Sedangkan secara kimia dapat menggunakan insektisida dengan dosis sesuai anjuran. Atau dapat juga dilakukan pengendalian biologi dengan menggunakan predator seperti kumbang macan .  Dapat pula menggunakan kertas aluminium yang dapat memantulkan sinar matahari ke balik (bawah ) daun tempat hama bersembunyi.

  • Lalat buah Dacus dorsalis

            Buah cabe yang diserang lalat ini bentuknya menjadi kurang menarik dan ada benjolan.  Buah cabe akhirnya terkena cendawan sehingga menjadi busuk .  Buah cabe yang terserang sering dikira terserang penyakit.  Untuk membuktikannya sebaiknya buah dibelah dan bila terdapat larva kecil putih berarti diserang lalat buah.

            Pengendalian dengan menggunakan sex pheromon seperti metil eugenol untuk memikat lalat jantan.  Kalau lalat jantan berkurang maka keturunannya juga akan berkurang.

  • Antraknosa

            Penyebabnya adalah cendawan Colletotrichum capsicci yang tersebar dimana ada pertanaman cabe. Penyakit ini bisa timbul di lapangan atau pada buah yang sudah dipanen. Mula –mula pada buah yang sudah masak terdapat bercak kecil cekung kebasahan yang berkembang sangat cepat dan terdapat jaringan cendawan berwarna hitam.  Buah berubah menjadi busuk lunak, berwarna merah kemudian menjadi coklat muda seperti jerami.

            Pengendalian dapat dilakukan dengan cara biji didesinfiksi menggunakan thiram 0,2 % (Benlate), dan jangan menanam biji dari buah yang sakit serta dapat menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb dan zineb.

  • Daun keriting chilli

            Daun cabe yang terserang menjadi keriting dan warnanya menguning, bila serangan hebat pertumbuhan menjadi kerdil.  Tanaman cabe yang terserang ruas-ruasnya menjadi pendek, daun menjadi kecil dan tepi daun melengkung ke atas.  Penyakit ini banyak menyerang di musim kemarau.

            Cabe yang telah terserang tanaman ini harus dicabut  dan dibakar, gulma harus dibersihkan dan dapat diberikan insektisida sistemik secara rutin dengan dosis anjuran sebelum tanaman terserang. 

PASCA  PANEN CABE RAWIT

Panen

            Tanaman cabe rawit dapat dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sesudah disemai.  Panenan berikutnya dapat dilakukan 1-2 minggu tergantung dari kesehatan dan kesuburan tanaman.  Untuk tanaman cabe rawit bila dirawat dengan baik dapat mencapai umur 1-2 tahun, apabila selalu diadakan pemangkasan dan pemupukan kembali setelah tanaman dipanen.  Pemupukan kembali dapat memberikan pupuk organik seperti kompos maupun pupuk kandang yang sudah menjadi tanah.         

Pasca Panen

            Cabe yang disimpan dengan suhu sekitar 4 o C dengan kelembaban 95-98 % dapat tahan sekitar 4 minggu dan pada 10 o C masih dalam keadaan baik sampai 16 hari.

Pengeringan

            Pengawetan dalam keadaan segar waktunya tidak akan lama, tetapi kalu dikeringkan waktu simpan bisa lama.  Cabe yang akan dikeringkan harus dipilih yng berkualitas baik, tangkai dibuang dan kemudian cabe dicuci bersih.  Kemudian dimasukkan dalam air panas beberapa menit, lalu didinginkan dengan cara dicelupkan dalam air dingin.  Selanjutnya ditiriskan di atas anyaman bambu atau kawat kasa sehingga airnya keluar semua.  Kemudian dijemur pada panas matahari sampai kering, biasanya kurang lebih selama satu minggu.

            Pada musim hujan , pengeringan buah cabe dapat menggunakan pemanas.  Di dalam ruangan pemanas tersebut diberi para-para beberpa lapis untuk meletakkan cabe.  Lapisan cabe jangan terlalu tebal, cukup satu lapis agar cepat kering.  Sebagai sumber panas dapa memakai lampu listrik , kompor, tungku arang atau bahan lainnya.

            Ruangan pemanas dapat dibuat dari kayu yang berbentuk seperti almari dan bagian dalam diberi lapisan seng.  Sumber pemanas diletakkan di bawah almari yang telah diberi lubang, di atas pemans ada para-para beberapa lapis.  Bagian atas almari diberi ventilasi yang yang penutupnya dapat diatur besar kecilnya lubang untuk mengatur suhu dalam almari. Suhu dalam almari diatur lebih kurang 60oC, jangan terlalu panas dengan mengatur ventilasi.  Apabila telah melebihi 60oC maka lubang ventilasi dibuka lebar.

            Supaya cabe keringnya merata maka para-para bisa diubah letaknya, misal yang  atas di pindah ke bawah demikian sebaliknya.  Banyaknya para-para tergantung besar kecilnya almari dan jarak antar para-para sekitar 15-20 cm. Cabe dibolak-balik letaknya setiap 3 jam.

            Dengan menggunakan alat pemanas paling lama dua hari buah cabe akan kering. Buah cabe dianggap kering bila kandungan airnya tinggal 8 %.  Dalam keadaan demikian buah cabe dapat disimpan lebih lama, namun harus dihindarkan dari serangan hama dan disimpan dalam wadah kedap udara.  Cabe yang dikeringkan dapat langsung dipakai atau dapat digunakan untuk campuran saos dan cabe bubuk.

Kemasasan Cabe

            Sebelum buah cabe dijual sebaiknya dilakukan seleksi dengan memisahkan buah cabe yang bagus dan yang jelek kualitasnya.  Cabe-cabe tersebut harus dikemas dengan baik agar tidak rusak.  Dengan kemasan yang baik tentu akan menambah beaya namun kerusakan akan jauh lebih sedikit sehingga keuntungan masih lebih tinggi.

            Buah cabe dapat dikemas dengan kantung plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil dengan jarak anat lubang sekitar 5-10 cm .  setiap kantung plastik dapat diisi cabe dengan berat 0,5 kg; 1 kg; 1,5 kg atau 2 kg.  Selanjutnya kantung plastik diletakkan pada wadah yang dibuat dari bambu atau kardus.  Ukuran wadah sebaiknya tidak terlalu besar yaitu antara 10 x 25 x 25 cm sampai 35 x 50 x 40 cm.  Setiap sisi wadah diberi lubang dengan garis tengah 1 cm dan jarak antar lubang 10 cm.

Oleh: baswarsiati | Agustus 13, 2010

BUDIDAYA ANTHURIUM

BUDIDAYA  ANTHURIUM

Oleh : Baswarsiati

Salah satu  jenis tanaman bunga potong dari famili Araceae adalah marga Anthurium.  Anthurium yang dalam bahasa Inggrisnya tail flower atau “bunga buntut “ berasal dari Amerika Selatan yang tropis.   Anthurium kini telah menyebat luas hingga ke daerah subtropis dan tropis di seluruh dunia.  Di Indonesia dikenal dengan nama “bunga kala” yang sering digunakan untuk bunga potong.  Mungkin belum banyak yang mengenal sosok bunga anthurium yang cantik , penuh pesona , karena tanaman hias ini masih jarang dibudidayakan seperti halnya tanaman hias lainnya.  Anthurium merupakan salah satu jenis tanaman hias yang tergolong berdaun indah dan adapula yang berbunga indah.

 Botani Tanaman Anthurium

Anthurium pada dasarnya berumur panjang, merupakan herba berakar rimpang.  Disamping akarini, anthurium membentuk akar dari ketiak daun atau akar udara. Anthurium merupakan tanaman hias yang tumbuh dan menyebar di daerah tropika yang lembab, dan tergolong tanaman tahunan (perennial).  Tidak kurang dari 500 spesies yang tumbuh di Amerika beriklim tropika lembab.  Beberapa spesies ditemukan pula di Asia ataupun Afrika.  Anthurium termasuk keluarga Araceae (talas-talasan) seperti halnya dengan kuping gajah (Anthurium crystallinum) yang terkenal di Indonesia dengan  tanaman berbentuk herba.  Diperkirakan hampir 600 varietas tumbuh memanjat seperti A. ornatum, A. nymphaeifolium berasal dari Venezuela, A.pfitzeri dari Ekuador.  Ada juga yang tumbuh tegak seperti A trinerve dari Brasil, A. andreanum dengan bentuk bunga paling indah dari semua golongan Anthurium.

Sosok bunga Anthurium menarik dan anggun dengan bentuk dan warna  seludang bunga yang dekoratif dan atraktif  seperti merah bendera, merah jingga, merah hati, merah muda, putih, pink, kehijauan dan lainnya .Daya kesegaran bunga melebihi bunga lainnya yaitu bisa bertahan dalam jambangan sampai lebih dari tiga minggu.  Daunnya bisa bertahan sampai dua bulan dalam jambangan membuat bunga ini semakin mempesona.  Selain itu karena seludang bunganya yang tebal menyebabkan bunga ini mudah pengepakannya dan tidak mudah rusak dalam pengangkutan jarak dekat maupun jarak jauh.  Berbeda dengan bunga dari tanaman hias lainnya maka bunga Anthurium berbentuk seperti ekor yang sesuai dengan arti kata dari bahasa Yunani (Anthurium = bunga ekor).  Keunikannya terletak pada seludang bunganya yang sangat indah sehingga dianggap sebagai mahkota bunga dan seludang bunga inilah yang mempercantik penampilan bunga Anthurium.  Kelebihannya karena  seludang bunganya yang kekar dan tunggal tidak berbentuk helaian seperti pada mahkota bunga mawar, krisan dan sebagainya sehingga tidak mudah rontok.

Selain berfungsi sebagai tanaman pot maka Anthurium dapat pula sebagai  penghias taman, cantik sebagai tanaman pagar, sejuk dan nyaman untuk penghias ruangan serta indah sebagai bunga potong yang dirangkai sendiri maupun dikombinasikan dengan bunga lainnya.  Sosok bunga  Anthurium saat ini berpeluang merambah ke hotel berbintang, perkantoran  dan rumah elite baik berupa rangkaian bunga dari bunga potongnya maupun untuk tanaman indoor dan outdoor.

Ragam Jenis Tanaman Anthurium

Beberapa jenis anthurium yang sangat digemari dan telah berkembang antara lain

  • Anthurium scherzeriannum

Anthurium ini dapat mencapai ketinggian 60 cm, seludangnya berbentuk jantung, berujung tumpul berwarna merah cerah mengkilat.  Namun ada pula yang berwarna merah suran kecoklatan.  Panjang seludangnya 7,5-10 cm.  Bunga berwarna merah dengan tangkai sari berwarna merah putih dan ada noda kuning.   Tangkai sari berbentuk seperti spiral yang tumbuh dari ketiak seludangnya.  Jika ditanam dari biji, dapat berbunga setelah umur 2 tahun.

  • Anthurium andreanum

Jenis ini berasal dari ColombiaSecara keseluruhan tanamannya lebih besar dari A. scherzerianum.  Seludang bunganya bergelombang berbentuk jantung meruncing, panjang dan tebal.  Panjang seludang dapat mencapai 15 cm atau lebih.  Melalui persilangan kini telah didapat berbagai macam bunga dengan warna yang beraneka seperti merah tua, merah hati, merah muda, pink, oranye, putih, merah muda kehijauan, hijau

  • Anthurium papilionensis

Tanaman ini berasal dari Colombia .  Daunnya berwarna hijau kekuningan , dengan bentuk permukaan daun bergelombang.  Bentuk daun seperti jantung, seludang bunga berwarna keputihan .  Tangkai bunga berwarna coklat di bagian bawah sedang bagian atas kekuningan.  Tangkai sari berwarna coklat tua dengan putik menempel berwarna coklat

  • Anthurium bakeri

Berasal dari Costa Rica. Bentuk daun memanjang seperti pita berwarna kekuningan. Bunga panjang berwarna merah cerah.  Putiknya menempel pada tangkai sari seperti bercak merah cerah.  Seludang kecil berwarna hijau kekuningan. Perbandingan antara seludang dan bunga sangat menonjol.

  • Anthurium clarinervium

Jenis ini berdaun hijau tua seperti beludru. Tulang daun tampak berwarna keputihan dengan bentuk seperti jantung.  Tangkai bunga sangat panjang dengan seludang warna kuning yang ujungnya runcing.  Bunga berwrna kuning kehijauan.  Tanaman ini berasal dari Meksiko.

Dan masih banyak lagi jenis anthurium yang dikembangkan atau dibudidayakan seperti halnya kuping gajah dan jenis anthurium berdaun indah.

Peluang Bisnis Anthurium

            Keberadaan  Anthurium sebagai tanaman hias penghasil bunga potong bernilai komersial tinggi dan sudah cukup lama popular di berbagai negara di dunia.  Terbukti dengan  rangkaian bunga Anthurium dari Indonesia sering memenangkan dalam lomba merangkai bunga di luar negeri dengan warna seludang bunga merah menyala yang atraktif dipadu dalam wadah bambu sehingga lebih menarik.  Pada acara Otsuka Expo 1990, Anthurium asal Indonesia mendapat penghargaan dari ahli floris Jepang, yaitu Avo Jose meraih medali perak dan Avo Cuba meraih medali perunggu.  Hal ini membuktikan bahwa ada pengakuan dan pangsa tersendiri bagi tampilan bunga Anthurium.  Selain itu anthurium yang berdaun indah juga berpeluang tinggi bila tanaman tumbuh suburr dan terawat dengan baik.  Pernah di jakarta ada tanaman anthurium berdaun yang dihargai lebih dari sejuta rupiah per potnya karena tanaman yang terwat dengan rapi dan jenis tanaman termasuk langka.

            Peluang bisnis florikultura di Indonesia termasuk dalam hal ini Anthurium masih terbuka lebar terbukti dengan nilai produk florikultura dalam negeri tahun 1996 sebesar  Rp 57,7 miliar, maka dengan pertumbuhan antara 15 % – 25 % dapat diperkirakan tahun 2005 meningkat menjadi Rp 186 – Rp 425 miliar.  Hal ini memperjelas keberadaan agribisnis florikultura di Indonesia cenderung meningkat. Peningkatan peluang agribisnis florikultura diantaranya  adalah l) pertambahan jumlah penduduk , 2) perluasan areal pemukiman , 3) meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup yang asri dan segar , 4) bermunculannya industri perhotelan  dan tempat-tempat pariwisata, 5) serta berkembangnya kota-kota besar.  Namun untuk peluang bisnis florikultura termasuk Anthurium tentunya pangsa pasar berada di kota-kota besar.  Selain itu Anthurium juga berpotensi untuk ekspor selain anggrek

            Kesukaan konsumen terhadap  pilihan tanaman hias berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan trend yang berlaku.  Trend Anthurium sampai saat ini masih setara dengan  tanaman hias lain seperti mawar, sedap malam, krisan, anggrek, gladiol, anyelir, aster, lili dan gerbera.  Hanya saja harga perkuntum/pertangkai bunga Anthurium sampai saat ini paling mahal di antara bunga lainnya yaitu berkisar dari Rp 2000,- hingga Rp 3000 untuk Anthurium introduksi sedangkan yang lokal mencapai Rp 750,- sampai Rp 1.000,-   Maka dari itu umumnya rangkaian Anthurium sering kita jumpai di hotel berbintang, perkantoran elite, rumah mewah dan perjamuan bergengsi.

            Permintaan akan bunga semakin meningkat termasuk Anthurium khususnya pada hari-hari besar ataupun saat ada perkawinan, upacara besar dll.  Selain itu warna bunga Anthurium yang diminati konsumen umumnya juga dihubungkan dengan keperluannya seperti hari Valentine dominan warna merah dan pink. Hari Raya Imlek memilih warna putih dan merah, dan pernikahan warna merah dan pink dengan ukuran seludang bunga dari kecil sampai besar.  Selain permintaan yang cukup besar dalam bentuk bunga potong maka  sebagai tanaman pot Anthurium mini sangat menawan karena ukuran seludang bunganya juga kecil sehingga sangat indah bila digunakan sebagai tanaman penghias ruangan.  Harga tanaman Anthurium dalam pot cukup mahal dan biasanya dihitung dari besarnya tanaman ataupun jumlah daunnya .  Kisaran harga tanaman pot bisa mencapai Rp 25.000 hingga ratusan ribu tergantung dari kesuburan, keindahan dan sosok tanaman Anthurium secara keseluruhan.  Oleh karenanya terbuka peluang agribisnis tanaman Anthurium dalam bentuk bunga potong maupun tanaman pot di dalam negeri maupun sasaran ekspor  asalkan mampu membidik pangsa pasarnya.

Perbanyakan Anthurium

            Merawat dan membudidayakan Anthurium sebenarnya tidak sesulit tanaman bunga seperti krisan, anyelir, gladiol, gerbera dan lainnya.  Hanya saja karena harga bibitnya cukup mahal serta pertumbuhannya relatif lambat dibandingkan beberapa  tanaman hias lainnya sehingga petani masih memperhitungkan bila akan mengusahakannya.  Sebenarnya bila dilihat kemudahan tanaman ini untuk membentuk anakan dan umurnya bisa mencapai puluhan tahun maka harga bibit awal yang cukup mahal dapat kembali setelah tanaman dapat membentuk anakan (umur 6 bulan ke atas dari bibit berdaun 2).  Selain itu karena termasuk tanaman tahunan asalkan tanaman subur dan dalam kondisi sehat maka tanaman Anthurium akan mampu berbunga terus menerus dan membentuk anakan semakin banyak.  Anthurium sudah mampu berbunga sekitar 6 bulan dari bibit berdaun 3-4 dan tergantung kesuburan tanaman.

            Perbanyakan Anthurium yang paling cepat dapat dilakukan melalui tunas anakan yaitu dengan memisahkan anakan yang tumbuh didekat induknya atau tunas yang tumbuh pada batang tanaman.  Selain itu dapat dilakukan dengan membagi batang menjadi  beberapa potong dengan mengikut sertakan minimal satu ruasnya, dapat pula dengan menyetek pucuk tanaman. Calon bibit tersebut kemudian ditanam pada medium pasir, arang dan moss atau pupuk kandang yang sudah matang dengan perbandingan 1:1:1, diletakkan pada tempat teduh dan dijaga agar selalu tetap lembab.  Seminggu setelah tumbuh tunasnya dapat dipupuk dengan memilih pupuk yang mengandung unsur hara  lengkap dan diberikan melalui daun ataupun disiramkan pada media.  Untuk mempercepat pertumbuhan akar , sebelum ditanam maka stek atau calon bibit (tunas anakan maupun belahan batang ) dapat direndam dalam larutan zat pengatur tumbuh yang mengandung auksin.

            Selain menggunakan tunas anakan maka perbanyakan dapat menggunakan irisan daun muda, jaringan pucuk ataupun embrionya yang dilakukan secara kultur jaringan.  Sebelum ditanam, bahan (eksplan) direndam dalam larutan 1 % NaCl selama 30 menit.  Medium dasar menggunakan medium agar Murashige dan Skoog  dan dapat ditambahkan zat pengatur  tumbuh seperti Indol Acetic Acid (IAA) ataupun Napthalen Acetic Acid (NAA) maupun Kinetin.  Perbanyakan melalui kultur jaringan dapat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang cukup singkat serta lebih terkontrol kesehatan bibitnya.

            Perbanyakan lainnya dapat menggunakan biji walaupun cara  ini kemungkinan akan menghasilkan tanaman yang tidak sama dengan induknya, bisa lebih baik, sama ataupun lebih jelek dari induknya.  Namun dengan cara perbanyakan ini akan menambah keanekaragaman jenis ataupun warna seludang dan bunganya. Terkadang akan muncul bunga yang berwarna semburat kemerahan dengan pinggiran hijau, warna pink dengan pinggiran kemerahan dan sebagainya.  Untuk memperoleh biji  dari  bunga Anthurium dapat dilakukan secara alami artinya tanpa harus menyilangkan ataupun dapat dilakukan dengan persilangan.  Namun hasil biji dari penyerbukan secara alami dengan bantuan angin ataupun serangga cukup sulit sehingga sebaiknya dilakukan penyerbukan dengan bantuan manusia.  Dengan demikian kita dapat memilih induk yang berbunga indah untuk disilangkan.  Persilangan dilakukan dengan menggunakan jari kelingking yang dioleskan pada permukaan tongkol bunga yang bertepung sari.  Kemudian jari kelingking digeserkan pada permukaan tongkol bunga lainnya yang telah dipilih sebagai bunga betina dan tidak mempunyai tepung sari pada permukaan tongkol bunganya.  Hasil persilangan akan membentuk biji seperti jagung, menempel pada pada tongkol bunga..  Bila warna biji telah kuning kemerahan, maka sudah tiba waktunya untuk disemaikan di medium pasir steril atau moss yang selalu dijaga kelembabannya.  Selain itu dapat juga biji ditaburkan pada medium air yang telah diberi unsur hara ataupun zat pengatur tumbuh sehingga biji lebih cepat berkecambah.  Setelah berkecambah barulah dipindahkan pada medium pasir atau moss.  Kelembaban harus tetap dijaga dengan cara meletakkan pembenihan di tempat teduh serta selalu menjaga kelembaban media maupun lingkungan sekitarnya.

            Setelah berdaun 2-3 helai maka bibit hasil perbanyakan secara sederhana dari tunas anakan, hasil kultur jaringan yang sudah teraklimatisasi maupun dari biji dapat dipindahkan  ke taman maupun dalam pot sesuai dengan tujuan pengusahaannya untuk bunga potong ataukah untuk tanaman pot.

Perawatan Anthurium

            Bila  Anthurium ditanam untuk diambil bunganya (bunga potong) maka penanamannya dapat dilakukan pada lahan yang dapat dibentuk berupa bedengan-bedengan dengan tinggi bedengan sekitar 20 cm ataupun dapat ditanam pada bak-bak pembibitan yang hampir menyerupai bedengan.   Media bedengan sebaiknya terdiri dari campuran pasir, pupuk kandang yang sudah matang ataupun kompos dengan perbandingan 1:1.   Prinsipnya media yang digunakan untuk tanaman Anthurium harus gembur, aerasi baik, air tidak tergenang, cukup lembab, mengandung cukup hara.  Sedangkan bila ditanam dalam pot maka media pot juga harus gembur , lembab dan mengandung cukup hara.  Selain itu media dalam pot dapat  menggunakan  …… yang banyak dijual di pasar swalayan sehingga nampak indah bila diletakkan di meja sebagai penghias ruangan.

            Persyaratan yang perlu diperhatikan selain media adalah kondisi lingkungan yang selalu dijaga agar teduh yaitu dengan penyinaran tidak lebih dari 50 % dan lama penyinaran antara  4-6 jam per hari serta suhu sekitar 14- 30 0 C.  Untuk mengatur keteduhan di sekitar tanaman Anthurium maka di atas bedengan dapat dipasang naungan berupa para-para dari net/jala ataupun para-para dari daun tebu/kelapa  maupun anyaman bambu atau kayu  serta dapat pula meletakkan pot di bawah kerindangan pohon maupun di teras rumah.  Paling penting adalah tanaman Anthurium menyukai keteduhan sedangkan keteduhan dapat diatur sesuai kondisi sinar matahari dan selera kita.  Dengan demikian sebenarnya Anthurium dapat diusahakan dan mampu berbunga di daerah panas seperti Jakarta dan Surabaya asalkan ditempatkan di keteduhan.  Namun tentunya kesegaran dan kesuburan tanaman akan lebih nampak bila  ditanam di daerah yang lebih lembab seperti di Cipanas maupun Batu-Malang sebagai daerah sentra bunga di Jawa Barat dan Jawa Timur.

            Selain persyaratan di atas maka untuk meningkatkan kesuburan tanaman dapat dilakukan dengan memupuk tanaman berupa pupuk buatan yang mengandung hara lengkap cukup sebulan sekali.  Sedangkan untuk mendorong produksi bunganya diberikan pupuk yang mempunyai persentase fosfat (P) tinggi.  Perawatan lain nampaknya tidak serumit tanaman bunga lainnya karena Anthurium jarang terserang hama dan penyakit atau hampir tidak ada .  Serangan yang ada biasanya dikarenakan adanya air yang tergenang pada permukaan daun atau seludang bunganya sehingga muncul jamur seperti Colletotrichum sp. mengakibatkan terdapat bercak (busuk) pada sebagian bunganya.  Namun umumnya persentasenya sangat kecil sekali sehingga petani Anthurium jarang mengendalikan atau menggunakan pestisida dalam perawatannya.  Bila terpaksa menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama maupun penyakit maka disarankan menggunakan dosis yang lebih rendah dari aturan yang dianjurkan. Apabila syarat tumbuh dan perawatannya yang nampak lebih mudah dibandingkan tanaman bunga lainnya seperti krisan dan gladiol dapat dikerjakan secara benar maka hasil yang diharapkan tidak akan mengecewakan. . .

Older Posts »

Kategori