Oleh: baswarsiati | Agustus 12, 2010

PENGELOLAAN MANGGA PODANG URANG

PENGELOLAAN MANGGA PODANG URANG

Oleh

Baswarsiati

 

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur

 

PENDAHULUAN

            Tanaman mangga merupakan buah tropis unggulan nasional  yang   banyak dijumpai dan ditanam di Indonesia .  Jenis mangga yang tumbuh dan diusahakan di Indonesia sangat beragam dan tumbuh pada agroekologi yang berbeda-beda sehingga produksi dan kualitas sangat beragam.  Mangga menjadi komoditas penting dalam perdagangan internasional, terutama pada pasar-pasar Amerika Utara, Eropa, Jepang dan Timur Tengah. Walaupun Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman genetis mangga  , akan tetapi produksi mangga Indonesia tahun 1997 4,6 % dari total produksi dunia atau nomer 5 setelah India, Cina, Thailand dan Meksiko. Kondisi tersebut disebabkan tidak sesuainya spesifikasi varietas yang ditanam di Indonesia dengan permintaan pasar dunia, tidak tersedianya varietas untuk buah olahan dan tidak adanya metode pengujian kebenaran varietas yang bisa menjamin keseragaman produk 

            Untuk mendapatkan hasil yang optimal salah satunya adalah adanya persyaratan tertentu yang dikehendaki oleh tanaman mangga .  Misalnya untuk daerah-daerah yang curah hujannya  sangat tinggi akan berakibat buruk terhadap pembungaan  .  Sedangkan untuk daerah dataran tinggi menyebabkan kualitas buah kurang baik dan pertumbuhan vegetatif menonjol.  Saat ini terdapat koleksi mangga sebanyak 302 assesi yang dilestarikan di Kebun Percobaan Cukur Gondang-Pasuruan .  Dari koleksi tersebut yang memenuhi kriteria seleksi buah ekspor adalah buah dengan ukuran  sedang sekitar 300 gram, warna buah menarik mengarah ke kuning kemerahan dan bentuk buah seperti Arumanis.  Sedangkan mangga Podang , Haden dan  Kensington Apple sesuai untuk buah segar maupun olahan.

            Saat ini usahatani mangga telah bergeser dari usaha sampingan berupa tanaman pekarangan  menjadi usaha “kebun mangga” yang menghendaki varietas unggul yang seragam.  Di pasar masih terdapat bermacam-macam buah mangga dengan tingkat konsumen dan tingkat harga yang berbeda.  Namun saat ini terdapat pergeseran preferensi konsumen ke arah mangga yang berkualitas tinggi yang dicirikan oleh : ukuran buah sedang (300 g), rasa manis segar , tidak berserat, warna kulit buah kuning kemerahan, warna daging buah kuning sampai kuning kemerahan., daging buah tebal , biji tipis, dan buah tidak mudah busuk.Varietas unggul yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian adalah Arumanis 143, Golek 31, Manalagi 69, Podang Urang, Irwin, Marifta 01.

            Salah satu varietas mangga lokal yang mempunyai sifat spesifik  dengan warna kulit  merah jingga dan daging buah kuning  menarik serta rasa  dan aroma khas dan tidak berserat adalah mangga Podang.  Mangga Podang merupakan salah satu produk buah unggulan lokal spesifik lokasi dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur walaupun berkembang juga dii kabupaten Nganjuk, Blitar, Tulungagung pada lereng gunung Wilis.  Kekhasan  yang dimiliki oleh mangga Podang terutama pada penampilan warna kulit buah merah-jingga menarik, daging buah jingga , bentuk buah cantik, ukuran buah yang tidak terlalu besar (sekitar 200-250 gram per buah), aroma buah tajam, rasio gula asam ideal, serat halus, serta cukup banyak mengandung air sehingga sangat sesuai untuk jus namun juga sesuai untuk mangga segar. Dengan ciri spesifik yang dimiliki mangga Podang dan nampaknya sesuai dengan permintaan konsumen dari Korea, Jepang , Singapura yang menyukai mangga berpenampilan menarik maka terbuka peluang besar untuk pengembangan dan penanganan yang lebih terkoordinasi sehingga prospek tersebut dapat ditangani.

            Saat ini  pemasaran buah mangga Podang sudah berkembang di Jawa Timur khususnya di sekitar wilayah Kediri.  Nampaknya mangga Podang mempunyai pangsa pasar yang baik di tingkat nasional dan perlu terus dikembangkan untuk memenuhi pasaran ekspor.  Ekspor mangga Podang sudah dilakukan ke Singapura dan perlu dikembangkan lagi ke beberapa negara lainnya.  Sangat banyak kelebihan yang dimiliki mangga Podang namun karena kurangnya promosi serta belum dikenalnya mangga Podang sebagai salah satu varietas mangga yang dapat diunggulkan sehingga perkembangannya belum nampak. Namun salah satu hal yang dapat dicatat bahwa saat musim buah mangga Podang dan bersamaan dengan musim buah mangga Arumanis di kabupaten Kediri , maka harga akan bersaing dan harga mangga Podang saat itu lebih tinggi dibandingkan Arumanis

            Mangga Podang termasuk dalam spesies Mangifera indica L. dan famili Anacardiaceae. Genus Mangifera terdiri dari 62 spesies yang berupa pepohonan daun selang-seling (Singh, 1969). Sedangkan Mukherje (1985) mengemukakan bahwa hanya terdapat 41 spesies Mangifera yang terdapat di asia Tenggara, sedangkan spesies selebihnya mungkin sama.  Disamping Mangifera indica L., 15 spesies lainnya dari genus Mangifera dapat dimakan dan beberapa diantaranya enak rasanya, tetapi kualitas buahnya tidak sebaik buah mangga  Mangifera indica L.  dan spesies ini paling enak dimakan.  Namun demikian tetap bermanfaat sebagai batang bawah yang seringkali mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan batang atas, sehingga menampilkan pohon cebol, tahan kekeringan atau produksi dan kualitas.

            Beberapa peneliti menyatakan bahwa mangga yang dibudidayakan dalam bentuk pekarangan berasal dari Malaya dan di wilayah ini tidak ditemukan mangga liar (Singh, 1969). Hal ini memperkuat dugaan bahwa asal mangga dari Indo Burma, sedangkan perkembangan distribusi geografi spesiesnya paling banyak di kepulauan Malaysia (Mukherje, 1985).  Spesies Mangifera indica L. diperkirakan mempunyai 650 dan disetiap negara penghasil mangga mempunyai kultivar ugggul.  Untuk Indonesia adalah Arumanis 143, Golek 31 dan Manalagi 69 dari Probolinggo (Purnomo, 1990) dan Gedong Gincu dari Jawa Barat.  Adapun kultivar Mangga Podang menyebar dan beradaptasi di wilayah Kabupaten Kediri di lahan kering dataran rendah hingga perbukitan  ( 0 –1500 m dpl) yang berkembang di kecamatan Semen, Tarokan, Grogol, Banyakan dan Mojo. 

            Mangga Podang telah ditanam oleh petani di Kabupaten Kediri lebih dari 75 tahun  yang lalu dan kondisi tanaman rata-rata sudah sangat tinggi dengan tajuk melebar dan batang yang besar. Semua tanaman mangga Podang yang ada saat ini di kabupaten Kediri , yang telah berumur puluhan tahun perbanyakannya dari biji sehingga penampilannya kurang seragam.  Selain berupa tanaman pekarangan ternyata tanaman mangga Podang telah dikembangkan oleh petani terdahulu pada daerah perbukitan lahan kering berupa tanaman monokultur  ataupun wanatani  sehingga berfungsi juga sebagai konservasi lahan dengan areal yang cukup luas yaitu lebih dari 100 000 tanaman terutama di kecamatan Banyakan, Kediri. Sedangkan dikecamatan lainnya berupa tanaman pekarangan ataupun dalam bentuk kebun mangga di tegalan.  Jumlah tanaman mangga Podang yang berada di kabupaten Kediri sebanyak 524.126  dengan jumlah tanaman yang telah berproduksi 260.005 (Diperta Kabupaten Kediri, 2001).  Hal ini berarti terdapat peremajaan tanaman atau perkembangan tanaman baru yang belum mulai berproduksi.

PERSYARATAN TUMBUH

            Pada dasarnya tanaman mangga lebih sesuai untuk daerah beriklim kering dengan ketinggian 1-400 m dpl.  Tanaman mangga dapat tumbuh pada berbagai jenis dan struktur tanah, asalkan tanah tidak memiliki lapisan cadas yang dangkal .  Tanah yang cocok untuk mangga adalah tanah yang gembur dan mengandung campuran pasir yang seimbang dengan pH 5-6.

            Pembungaan dan pembuahan memerlukan kurang lebih 4 bulan kering selama jangka waktu tersebut  hendaknya hanya terdapat 15 hari hujan secara merata  .  Untuk musim normal, biasanya pembungaan terjadi 1,5-2 bulan sesudah awal musim kering.  Curah hujan yang  tinggi atau terus menerus akan berpengaruh  tidak baik terhadap bunga mangga.  Persyaratan tumbuh mangga berdasarkan kesesuaian agroekologi tertera pada Tabel 1.

Tabel 1.  Kriteria penilaian kesesuaian lahan untuk tanaman mangga.

Karakteristik Persyaratan Kesesuaian Lahan
Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai
Rejim suhu :

Suhu rata-rata 0 C

24-27 24-27 < 24 dan > 27
Rejim kelembaban:

Bulan kering < 60 mm

Curah hujan (mm/th)

 

4-6

1500-2000

 

2,3-7,8

750-1500

 
Ketinggian ( m dpl) 3-400 3-400  
Kedalaman tanah (cm) > 100 60 – 100  
Drainase baik Agak cepat/terhambat Cepat/terhambat
Tingkat kesuburan tanah tinggi Cukup rendah Sangat rendah

 

PENYEBAB KERONTOKAN BUNGA DAN BUAH MANGGA

            Fase perkembangan buah mangga banyak dipengaruhi oleh perkembangan zat pengatur tumbuh seperti giberellin, kinin dan bahkan zat penghambat.  Gugur buah yang paling banyak terjadi pada minggu ke empat setelah buah berdiameter sekitar 0,5 cm.  Hal ini karena kandungan zat pengatur tumbuh yang tidak seimbang dengan kebutuhan.  Faktor lain yang menyebabkan gugur bunga atau buah adalah hama dan penyakit.  Hama yang ganas menyerang  saat pembungaan yakni jenis homoptera seperti Idiocerus niveoparsus .  Jenis homoptera selain merusak tangkai bunga juga merusak daun-daun muda atau pupus dan buah muda atau pentil. Sedangkan penyakit yang banyak menyerang pembungaan dan perkembangan buah adalah antraknose.  Serangan menghebat pada saat kelembaban tinggi.  Selain itu pada saat bunga mekar sampai 35 hari setelah penyerbukan juga sering muncul hama cabuk putih.

            Selain hal yang telah disebutkan di atas maka faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi gugur bunga dan buah mangga.  Bila saat pembungaan suhu tinggi dan kelembaban sangat rendah, tanaman tidak pernah diairi maka gugur bunga akan banyak terjadi.  Demikian pula sebaliknya bila suhu rendah dan kelembaban tinggi serta curah hujan tinggi maka gugur bunga dan buah banyak terjadi.  Kekurangan unsur hara dalam tanah juga menyebabkan  gugur bunga dan buah mangga.  Tanaman mangga memerlukan kondisi iklim dimana terdapat perbedaan yang jelas antara musim penghujan dan musim kemarau.  Musim kemarau yang tegas  sangat diperlukan  untuk proses pembentukan primordia bunga.  Pada umumnya menjelang musim kemarau terjadi cekaman kekeringan dan peningkatan suhu di daerah kanopi tanaman.  Kedua kondisi di atas mendorong terbentuk dan terakumulasinya hormon “florigen” yang menstimulir pembungaan.

PERBANYAKAN MANGGA

            Cara perbanyakan mangga dapat dilakukan dengan : 1) sambung dini ataupun penyambungan dan 2)  okulasi (tempelan), sedangkan pada tanaman dewasa dapat dilakukan penyambungan dengan cara top working menggunakan entris (batang atas) dari pohon unggulan.

Sambung Dini/Penyambungan

            Perbanyakan secara sambung dini dapat dilakukan di bedengan atau kantong plastik yang diletakkan dalam rumah pembibitan.  Sambung dini dapat menghasilkan bibit dalam waktu singkat, mudah dikirim dan murah.   Prinsip dasarnya adalah menghentikan pertumbuhan akar tunggang guna merangsang pertumbuhan akar lateral dan menyambung sedini mungkin pada kondisi fisik yang memungkinkan.  Beberapa hal yang harus diperhatikan pada sambung dini adalah :

  • Pemilihan varietas batang bawah
    • Dipilih dari varietas yang kurang disenangi konsumen, rasa buah asam, berserat banyak, biji cukup besar.  Pertumbuhan tanaman kekar, sehat, tahan terhadap penyakit akar dan sistem perakaran baik dan sehat.
    • Batang bawah yang umum digunakan adalah Madu

Ekstrasi Biji

    • Biji mangga setelah dipisahkan dari daging buah, dicuci bersih dan dijemur atau dikering anginkan.
    • Pengupasan biji (pelok) dengan gunting pangkas dan dijaga agar biji  tidak lecet atau luka
    • Biji  disemaikan di atas karung goni yang telah dibasahi
    • Untuk menghindari penyakit jamur , biji disterilkan dengan fungisida 500 ppm
    • Selama dipesemaian  dilakukan penyiraman air secukupnya.
  • Media Tumbuh
  • Media berupa campuran pupuk kandang  + pasir 1 : 1 atau pasir + pupuk kandang + sekam 1 : 1 : 1
  • Penanaman batang bawah langsung pada polibag  (diameter 12,5 cm, tinggi 20cm)
  • Batang bawah yang langsung ditanam di polibag  setelah penyambungan tidak mengalami transplanting bibit.
  • Bibit siap tanam di lapang  yaitu umur 12-15 bulan
  • Pemilihan Varietas Batang Atas (Entris)
  • Dipilih dari varietas unggul yang sesuai dengan selera konsumen dan peluang pasar  tinggi (konsumen dalam negeri atau luar negeri)
  • Konsumen Indonesia menyukai mangga dengan  rasa manis, punel, sedikit berair , ukuran besar seperti Arumanis, Gadung, Golek, Manalagi, Durih
  • Peluang pasar ekspor  menyukai mangga berwarna menarik merah kekuningan, ukuran sedang sekitar 300 gram/buah, rasa manis sedikit asam, kandungan air banyak
  • Varietas mangga yang disukai konsumen luar negeri antara lain : Gedong Gincu (Jawa Barat), Podang Urang (Kediri), Irwin, Marifta 01, Haden, Kensington Apple.
  • Pohon induk perlu dipelihara dengan memupuk dan memangkas bagian tanaman yang tidak perlu, memangkas  ranting/cabang  satu fase pertumbuhan
  • Entris yang digunakan adalah yang tumbuh lurus , karena bentuk entris akan mencerminkan pertumbuhan selanjutnya
  • Penyambungan
    • Penyambungan dapat dilakukan dengan sambung celah dan sambung samping
    • Sambung celah mudah dilakukan dan persentase keberhasilan lebih tinggi (> 90 %)
    • Bibit mangga siap disambung saat pertumbuhannya masih aktif
    • Syarat terpenting yaitu ukuran diameter batang bawah sama atau lebih besar dari  diameter entrisnya
    • Bibit yang telah disambung entrisnya dikerodong kantong plastik dengan bagian ujung sedikit berlubang
    • Bibit yang jadi ditandai dengan entris masih hijau  setelah 2 minggu dari sambung

PEMANGKASAN MANGGA

            Jika dari awal penanaman tanaman mangga tidak dipangkas maka tanaman menjadi pohon yang tinggi dan bentuk percabangan tidak teratur sehingga menyulitkan pemanenan buahnya.  Pemangkasan pada mangga meliputi  : pembentukan tajuk tanaman (pada umur 1 tahun), pemangkasan pemeliharaan, pemangkasan untuk meningkatkan jumlah tunas dan ranting generatif.

  • Pembentukan tajuk pohon
  • Arsitektur diarahkan berbentuk payung atau elipsoid
  • Dilakukan pemangkasan pada awal tanam
  • Teknologi ini bisa memberikan arsitektur tanaman seragam  dan bisa diterapkan pada tanaman di pekarangan atau perkebunan

Tahapan pemangkasan yang dapat dilakukan  seperti keterangan berikut:

  1. Tanaman  umur 1 tahun pada awal musim penghujan dipangkas  setinggi 50-75 cm di atas tanah
  2. Hasil pangkasan pertama sebelum tunas-tunas cabang tumbuh
  3. Tanaman umur 2 tahun pada awal musim penghujan dilakukan pemangkasan kedua.  Cabang-cabang yang baru tumbuh disisakan 3 cabang, dari 3 cabang dipangkas disisakan  2 pupus yaitu 40 cm
  4. Hasil pangkasan kedua sebelum tumbuh cabang baru
  5. Pada tahun ketiga , dari sekian banyak cabang yang tumbuh dipertahankan 9 yaitu 3 pada setiap cabang.  Cabang yang tumbuh lebih dari 3 tunas, kelebihannya dipangkas
  6. Tahun ke 4, menunggu berproduksi tanaman akan membentuk tajuk payung atau elipsoid
  • Pemangkasan Pemeliharaan
  • Membuang ranting atau cabang yang kering dan mati, disamping membuang tunas-tunas air yang tumbuh di cabang
  • Pemangkasan pemeliharaan dapat dilakukan sewaktu-waktu
  • Dengan pemangkasan ini maka aliran udara dan sinar matahari dapat  masuk sehingga dapat memperbaiki warna buah dan mengurangi kelembaban tanaman
  • Pemangkasan Tanaman Mangga Produktif
  • Pemangkasan dilakukan pada tanaman yang telah berproduksi
  • Bagian yang dipangkas yaitu pupus pada bagian paling pucuk , tepat pada bukunya
  • Dari tunas yang tumbuh ada kalanya generatif dan adakalanya tunas vegetatif

PEMUPUKAN DAN PENGAIRAN

            Secara umum tanaman mangga  memiliki pola tumbuh dari fase vegetatif, generatif  yang berurutan .  Setelah panen tanaman mangga mengalami fase penyehatan tanaman ditandai dengan munculnya flus (pupus I) hingga berkembang sempurna (sekitar bulan Januari-Februari), selanjutnya muncul pupus II (sekitar bulan Mei-Juni).  Setelah daun pada flus II berkembang sempurna maka muncul periode generatif dengan munculnya bunga.  Untuk melampaui semua tahapan diatas maka tanaman mangga perlu dipelihara dengan pemupukan dan pengairan. Adapun alternatif pemupukan yang dapat disarankan pada tanaman  mangga seperti pada Tabel 2.

Tabel 2.  Macam dan takaran pupuk untuk tanaman mangga

berdasarkan umur tanaman

No Umur (tahun) Macam dan takaran pupuk/pohon Keterangan
1 0 s/d 1  ZA         50 g

 SP 36    25 g

 KCl       25 g

1 bulan setelah tanam (100 %)
2 1 s/d 2  ZA        200 g

 SP 36   100 g

 KCl      100 g

Lahan kering, 2 kali @ 50 %. Air cukup 3 kali , @ 1/3 bag
3 2 s/d 4  ZA        0,5-1,0 kg

 SP 36   0,25-0,5 kg

 KCl      0,25-0,50 kg

Lahan kering, 2 kali @ 50 %. Air cukup 3 kali , @ 1/3 bag
4 4  s/d 6  ZA        1,0-2,0   kg

 SP 36    0,5-1,0   kg

 KCl       0,5-1,0   kg

Lahan kering, 2 kali @ 50 %. Air cukup 3 kali , @ 1/3 bag
5 6 s/d 10  ZA        2,0-3,0   kg

 SP 36   1,0-1,5    kg

 KCl      1,0-1,5    kg

Lahan kering, 2 kali @ 50 %. Air cukup 3 kali , @ 1/3 bag
6 > 10  ZA        3,0-4,0   kg

 SP 36   1,5- 2,0  kg

 KCl      1,25-2,0 kg

Lahan kering, 2 kali @ 50 %. Air cukup 3 kali , @ 1/3 bag

            Pupuk organik (pukan) maupun anorganik diberikan setelah panen (Desember) dan kedua diberikan akhir musim kemarau (Juni).  Penggunaan pupuk kandang (organik) pada tanaman mangga produktif dengan takaran 30-50 kg/pohon.

            Pengairan diberikan sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.  Untuk daerah lahan kering yang umumnya kesulitan air sebaiknya pengairan menggunakan model tetesan air, dimana air dimasukkan dalam tabung bambu bertingkat yang selalu menetes tepat pada bagian tanaman yang memerlukan.  Pengairan sangat diperlukan setelah buah berumur 1 bulan setelah persarian bersamaan dengan pemupukan .   Pengairan pada fase ini dimaksud untuk mendukung perkembangan buah dan efisiensi penggunaan pupuk.  Pengairan menjelang musim berbunga sangat tidak dianjurkan, sebab dapat merubah  situasi generatif menjadi vegetatif lagi.

  • INDUKSI PEMBUNGAAN MANGGA

            Secara alami bunga mangga akan muncul sekitar 2 bulan setelah hujan berakhir dan musim panen relatif singkat antara bulan September-Nopember.  Hal ini menyebabkan melimpahnya buah pada musim panen, harga menjadi rendah dan pendapatan petani menurun. Untuk menyediakan produk yang kontinyu perlu dilakukan kesinambungan hasil sepanjang tahun.  Ini berarti mengusahakan reproduksi tanaman  di luar musim buah  atau mengatur saat berbunga /berbuahnya tanaman.

            Hormon tumbuh sangat diperlukan tanaman dalam mekanisme pengaturan pertumbuhan yaitu untuk menentukan kapan suatu bagian  tanaman terus tumbuh dan kapan bagian lain berhenti tumbuh.  Hormon tumbuh biasanya dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil , tetapi sudah mampu mengatur pertumbuhan dan bisa ditambahkan dari luar yang merupakan hormon tumbuh sintesis yang disebut zat pengatur tumbuh.   Zat pengatur tumbuh yang umum digunakan pada tanaman mangga adalah Paklobutrazol dengan nama dagang Cultar.  Tersedia dalam bentuk suspensi berwarna kuning kecoklatan dengan kandungan bahan aktif 250 g/l dan mudah tercampur dengan air.  Penggunaan zpt  Paklobutrazol dapat menginduksi pembungaan lebih serentak, mempercepat pembungaan 2-3 bulan lebih awal dan meningkatkan produksi buah hingga lebih dari > 75 % dan panen lebih awal (di luar musim) sehingga harga buah menjadi tinggi.  Beberapa petunjuk yang harus diperhatikan dalam penggunaan zpt adalah :

  1. Penggunaan dosis disesuaikan dengan umur tanaman, jangan sampai melebihi dosis yang dianjurkan
  2. Digunakan hanya pada tanaman yang sehat.  Hindarkan penggunaan pada tanaman yang sakit atau merana
  3. Digunakan pada kondisi tanah yang cukup basah, sebaiknya di akhir musim penghujan.  Hindari penggunaan pada iklim yang sangat kering dimana bongkahan tanah terpecah-pecah
  4. Penggunaan 1 kali dalam 1 tahun dan disiramkan melalui tanah.  Pada tanaman yang pertumbuhannya lebat, penggunaan tahun berikutnya dengan dosis yang  sama , namun jika pertumbuhan terlambat berikan setengah dosis saja
  5. Penggunaan melalui penyiraman tanaman di sekeliling batang tanaman, gulma dan sampah atau kotoran lain dibersihkan dulu.  Siramkan  satu liter larutan campuran paklobutrazol dengan air untuk setiap pohon pada pagi hari
  6. Aplikasi sebaiknya dilakukan 2-4 bulan sebelum masa pembungaan yang normal.  Hindari penggunaan saat tanaman berbunga untuk menghindari kerontokan bunga
  7. Perkirakan bunga muncul setelah musim hujan lewat, untuk mencegah gugurnya bunga dan buah karena curah hujan
  8. Dosis paklobutrazol untuk tanaman muda  (4-6 tahun) adalah 5-10 ml cultar/lt air/pohon dan untuk tanaman dewasa (> 7 tahun) adalah 10-15 ml cultar/lt air/pohon
  9. Pemeliharaan tanaman harus optimal seperti penyiangan, pembumbunan, pemberian mulsa pada akhir musim penghujan, pemangkasan dan pemupukan.

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU  TANAMAN

            Hama utama tanaman mangga  antara lain wereng mangga (Idiocerus niveosparsus), kepik penghisap daun (Mictis longicornis), kutu putih (Rastrococcus spinosus), lalat buah (Bactocera dorsalis), penggerek ranting dan pucuk (Sternochetus goniocnemis), hama bintil daun (Procontariana matteiana), ulat pengorok buah (Noorda albizonalis).  Sedangkan penyakit utama antara lain antraknose (Colletotrichum gloeosporiodes), penyakit tepung (Oidium mangiferae), Botryodiplodia theobromae/Diplodia mangiferae.  Penyakit fisiologis salinitas  yang  banyak dijumpai pada bibit, disebabkan air siraman yang banyak mengandung garam.  Bibit yang sakit pinggir daunnya kering dan berwarna abu-abu kehitaman, daun kering dan gugur.

            Pengendalian OPT pada mangga dengan menerapkan konsep PHT  didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi berwawasan lingkungan dan berkelanjutan . Taktik utama PHT  adalah :  pemanfaatan  pengendalian alami dan mengurangi tindakan yang merugikan atau mematikan musuh alami, pemanfaatan agensia hayati, pengendalian fisik dan mekanis untuk mengurangi populasi OPT, penggunaan pestisida secara selektif.

            Adapun penerapan PHT pada tanaman mangga secara ringkas antara lain :

  1. Pemilihan lahan yang sesuai
  2. Pemilihan varietas yang sesuai dengan selera konsumen dan agroekologi
  3. Pengelolaan lingkungan dan pemeliharaan tanaman intensif
  4. Pemanfaatan musuh alami , untuk lalat buah adalah Biosteres sp dan Opius sp, untuk penggerek ranting dan pucuk adalah tabuhan dari golongan Chalcidiae, untuk wereng mangga adalah laba-laba, kumbang
  5. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan pemantauan :
  • Jika tanaman terserang wereng coklat, maka 1 bulan sebelum terbentuk calon bunga dilakukan injeksi dengan insektisida sistemik 10-15 ml/pohon.  Memotong bagian tanaman yang kering
  • Serangan awal kutu putih dengan menyemprotkan larutan deterjen 2-3 gr/liter air, memotong bagian yang terserang
  • Pengendalian lalat buah dengan sanitasi buah terserang dengan memendam kedalaman lebih dari 20 cm. Memasang perangkap yang diisi dengan kapas  berisi campuran seks feromon dengan methil eugenol 1 ml dan insektisida 1 ml, penggantian kapas 1 bulan sekali dan perangkap dipasang 10 buah per hektar
  • Pada serangan penggerek ranting dan pucuk dengan memotong bagian terserang, menginjeksi dengan insektisida sistemik 10-15 ml per pohon
  • Pada serangan hama  bintil daun dengan memangkas dan memusnahkan semua bagian yang terserang , mengurangi kelembaban di sekitar tanaman, menjarangkan jarak antar bibit, penyemprotan insektisida dengan perekat pada awal pembentukan pupus mangga
  • Pada serangan hama pengorok buah dengan mengumpulkan buah terserang dan dibenamkan pada kedalaman tanah , aplikasi insektisida kontak yang diberi perekat
  • Pada serangan antraknose , dikendalikan dengan memotong bagian tanaman terserang, tidak menanam ketela pohon dan cabai di sekitar tanaman, aplikasi fungisida berbahan aktif  karbendazim dan mankozeb pada awal tanaman bertunas
  • Ada serangan penyakit tepung, dikendalikan dengan memotong bagian tanaman terserang, aplikasi fungisida berbahan aktif  bupirimate, bayfidan, dinikozanol, biloksalol yang dilakukan sebelum bunga mekar
  • Ada serangan penyakit Botryodiplodia dikendalikan   dengan memotong bagian tanaman terserang sampai sedikit tanaman yang sehat, luka potongan dioles fungisida sistemik, infeksi pada buah di penyimpanan dapat ditekan dengan mencelup buah dalam air hangat (50 0 C).

PENENTUAN SAAT PANEN

            Penentuan saat panen merupakan tahap awal yang sangat penting karena menentukan mutu buah setelah matang.  Tingkat ketuaan buah menjamin tercapainya proses pematangan yang sempurna.  Rasa enak akan diperoleh pada buah mangga yang dipetik semakin tua.  Beberapa ciri untuk menentukan tingkat ketuaan buah antara lain : bentuk buah, warna kulit dan adanya lapisan lilin  keputihan seperti bedak, melihat sifat fisik/kekerasan buah, umur buah  serta pengalaman.  Untuk buah mangga varietas Arumanis  yang akan dipasarkan jarak dekat sebaiknya dipanen umur 90-95 hari dihitung dari buah sebesar biji merica dan untuk jarak jauh dipanen sekitar 85-90 hari dan untuk ekspor sekitar 85 hari.

DAFTAR PUSTAKA

Ernawanto, Q.D, D.D. Wijayanto dan E. Legowo.  1996.  Kesesuaian lahan untuk pengembangan mangga di jawa Timur.  Bull Tekn. DanIformasi Pertanian (1):10-21.

Purnomo, S. PER. Prahardini dan T. Purbiatai.  1988. evaluasi penampilan mangga varietas Cukurgondang.  Laporan tahunan Sub Balithorti Malang p: 31-34.

Singh, L.B.  1968.  The mango, its botany, cultivation and utilization.  Inc. New York.

Purbiati, T., D.D. Wijayanto, S.R. soemarsono.  1998.  Optimalisasi wadah dan media tumbuh pembibitan untuk efisiensi pengangkutan bibit mangga.  J. Hort. 8(1):957-968.

………….., S. Yuniastuti.  1994.  Pengaruh waktu dan persentase pemangkasan tunas terhadap pertumbuhan tunas mangga.  J. Hort. 4(5):50-54.

Suharjo, M. Soegiyarto dan E. Widayati. 2002. Monograf mangga. BPTP Jawa Timur.

Oleh: baswarsiati | Agustus 12, 2010

TEKNOLOGI PENGELOLAAN APOKAT

 

 

TEKNOLOGI PENGELOLAAN APOKAT

 

Baswarsiati

PENDAHULUAN

 Apokat (Persea americana Mill) merupakan tanaman introduksi, diduga berasal dari Amerika Tengah dan Guatemala yang dibawa ke Indonesia sekitar abad ke 18.  Tanaman ini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia.  Di pasar dunia buah apokat merupakan komoditas penting.  Volume perdagangannya menduduki urutan ke lima setelah jeruk, pisang, nenas, mangga.   Jika dilihat potensi produksinya, buah apokat  Indonesia tergolong paling tinggi di Asia , hampir dua kali lipat produksi apokat Israel yang merupakan negara pemasok utama buah apokat untuk pasar Eropa.

Peluang ekspor apokat semula masih terbatas untuk dipasok ke Singapura  dan Belanda, tetapi kini kian merambah ke Arab saudi.  Di masa mendatang peluang tersebut semakin memikat karena di pasaran dunia setiap tahunnya  diimpor lebih dari 105 ribu ton.  Negara pengimpor produk apokat adalah Perancis, Inggris, Jerman Barat, Asustria, Belgia, Belanda, Norwegia dan swedia.

Walaupun bukan merupakan komoditas unggulan nasional , namun apokat  tersebar hampir di seluruh Indonesia . Tanaman apokat tidak menghendaki persyaratan iklim yang ekstrim sehingga hampir di seluruh kondisi iklim di  Indonesia relatif sesuai untuk pertumbuhannya.  Daerah yang mendominasi produksi apokat yaitu Jawa, sebagian Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Jawa Timur merupakan daerah sentra pertanaman apokat terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat.  Sentra produksi apokat di Jawa Timur tersebar di Kabupaten Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang

Apokat dibudidayakan untuk diambil buahnya yang banyak mengandung gizi.  Daging buah apokat merupakan 65-70 % dari berat buah keseluruhan.  Unsur yang terkandung pada setiap 100 gram bagian buah yang dimakan antara lain 65-68 g air, 1-4 g protein (sangat tinggi untuk buah-buahan), 5,8-23 g lemak (sebagian besar lemak tak jenuh dan tercatat sebagai bahan anti kolesterol), 3,4- 5,7 g karbohidrat , 0.8-1,0 g besi, 75-135 IU vitamin A dan 1,5-3,2 mg vitamin B kompleks.  Nilai energinya 600- 800 KJ/100 g.  Karena kandungan minyaknya yang tinggi pada buah matang, tekstur daging buahnya seperti mentega, yang rasanya tidak asam maupun tidak manis.  Daging buahnya kaya akan besi dan vitamin A dan B.  Buahnya mudah dicerna sehingga merupakan makanan padat yang bergizi tinggi untuk bayi.

SYARAT AGROEKOLOGI

Tanah yang dikehendaki apokat adalah tanah yang gembur dan subur .  Struktur tanah lempung berpasir dengan kandungan  pH optimum untuk pertumbuhan  dan hasil buah adalah 5- 5,8.  Ketinggian tempat  yang dikehendaki mulai daerah medium hingga dataran tinggi sampai 1500 m dpl.  Apokat tumbuh di dataran tinggi daerah tropis dengan suhu optimum pada siang hari 25-33 0 C .    Apokat akan tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan  antara 1500-3000 mm per tahun, dengan jumlah bulan kering tidak lebih dari 4. 
 Pohon dan buahnya rentan terhadap angin kencang dan untuk tempat terbuka sebaiknya diberi naungan.  Apokat   memerlukan tanah beraerasi dan berdrainase baik, karena akar-akarnya tidak toleran terhadap keadaan anaerob.  Genangan air lebih dari 24 jam dapat mematikan tanaman.  Perakarannya  tumbuh dangkal  , dan rendahnya frekuensi bulu akar  mengurangi pengambilan air dan hara.    Agar diperoleh hasil yang tinggi diperlukan pemeliharaan kelembaban tanah  sepanjang tahun.  Periode kritis  keperluan air adalah selama pembungaan  dan pembentukan buah, pengisian buah dan pematangannya.  Periode basah yang berkepanjangan menyebabkan   buah  banyak yang terserang penyakit antraknose. 

 SIFAT PEMBUNGAAN

 Apokat mempunyai perilaku pembungaan dikogami protoginus yang unik .  Setiap kuntum bunga  mekar dua kali, hari pertama putiknya reseptif dan hari berikutnya serbuk sari bunga jantan masak sehingga alat reproduksinya tidak berfungsi sama.  Setiap  bunga apokat , membuka dan berfungsi dua kali dalam dua hari berturut.    Pada saat bunga membuka pertama kali, putik reseptif tetapi kepala sari belum pecah  (masak) sehingga tidak ada serbuk sari yang disebarkan .  Saat tersebut benang sari sejajar dengan posisi perhiasan bunga yang terbuka tersebut.    Bunga yang berfungsi sebagai bunga betina membuka selama 2-3 jam, lalu menutup kembali.  Hari berikutnya , bunga membuka kembali  dengan putik yang tidak reseptif.  Kepala sari pecah dengan serbuk sari yang sudah masak.  Posisi benang sari  relatif tegak lurus dengan posisi perhiasan bunga yang sedang membuka, lalu bunga menutup kembali.

 Perilaku tersebut saling melengkapi sehingga kultivar –kultivar tersebut digolongkan ke dalam tipe “A”, yang bunga-bunga betina masak pada pagi hari  dan bunga jantan pada sore harinya.  Terdapat juga tipe “B”  yang bunga-bunganya mekar sebagai bunga betina pada sore hari  dan bunga jantan pada pagi hari berikutnya. 

Karena hal tersebut, maka penyerbukan sendiri dalam satu bunga maupun dalam satu tanaman terhalang perbedaan waktu yang cukup ekstrim.  Hal ini bisa diatasi dengan penyerbukan silang antara varietas tipe A dan tipe B.  Dengan penyerbukan silang akan meningkatkan pembentukan buah (fruit set).  Oleh karena itu untuk mendapatkan buah pada semua pohon, maka sejogjanya dikebun ditanam kedua macam pohon tersebut  agar terjadi penyerbukan  silang yang akan meningkatkan  jumlah buah. Pohon apokat berbunga pada permulaan musim hujan  dan berbuah antara bulan Desember sampai Maret

  • Pengaruh Lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku pembungaan.  Perlaku kedua tipe di atas dapat terjadi bila suhu rata-rata harian di atas 20 0 C.  Bila suhu turun , membukanya bunga menjadi tidak teratur atau tertunda.  Sehingga satu pohon tunggal , mungkin mempunyai bunga yang membuka sebagai bunga betina, dan belum menutup pada saat bunga –bunga lain membuka sebagai  bunga jantan   pada sore hari.  Hal ini bisa menjelaskan mengapa satu pohon tunggal apokat bisa berbuah lebat.  Cuaca mendung dan hujan juga menimbulkan pengaruh yang sama dengan pengaruh suhu rendah pada membukanya bunga.

 PEMBIBITAN

 Bibit merupakan awal kehidupan yang  harus diperhatikan dengan cermat.  Bila salah dalam memilih bibit apokat maka selanjutnya hasil yang diperoleh tidak dapat dijamin.  Pilihan bibit   bermutu sebaiknya diperoleh dari varietas unggul yang telah dilepas Pemerintah antara lain, hijau panjang , hijau bundar, merah panjang, merah bundar, Fuerte dan Dickinson.

Hingga saat ini apokat yang ada di masyarakat pada umumnya perbanyakannya berasal dari biji sehingga sangat keragaan pohon, produksi maupun  mutu buah sangat beragam.  Untuk memperbaiki kondisi pertanaman apokat rakyat  si Jawa Timur dapat dikembangkan teknologi klonalisasi   dengan cara  :

1)      Penanaman menggunakan bibit hasil perbanyakan secara sambungan

2)      Mengganti varietas yang ada dengan varietas baru melalui teknik penyambungan pohon dewasa atau top working.

Untuk perbanyakan secara sambungan dapat dilakukan dengan pembibitan apokat secara sambung dini .  Prinsip dari teknologi sambung dini  adalah menyambung semaian sedini mungkin pada kondisi fisik yang memungkinkan  .  Keuntungan teknologi ini adalah menghemat waktu 1-2 bulan jika dibandingkan penyambungan yang biasa digunakan dan karena bibit hasil sambung dini berbentuk pohon kecil, maka cara ini sangat efisien teruma dalam pengiriman jarak jauh.

  • Pembibitan Apokat Secara Sambung Dini

Seluruh kegiatan pada bagian ini di lakukan di rumah pembibitan  yang permanen atau dari bambu dan bahan yang tersedia di lokasi pembibitan.   Rumah pembibitan memiliki kelembaban 70 % dengan suhu antara 25-30 0 C  dan lebih baik pada daerah yang banyak pohonnya.  Beberapa cara yang dapat dianjurkan antara lain :

  • Persiapan Benih Batang Bawah
  • Varietas batang bawah menggunakan Hijau Panjang
  • Benih dipilih dari buah yang masak fisiologis
  • Benih dipisahkan dari daging buah dan dicuci bersih, kulit ari dipisahkan dari benih karena menghambat pertumbuhannya
  • Benih direndam dalam air hangat  suhu 52 0 C  selama 20 menit  , kemudian dikeringanginkan .  Selanjutnya direndam dalam larutan fungisisda  (Bahan aktif Benomyl) , takaran 5 g/l air selama 5-10 menit
  • Setelah kering angin benih dapat disimpan  selama 3 bulan pada suhu 5-10 0 C , atau segera ditanam .
  • Benih segar berkecambah  dalam waktu 3 minggu setelah disemai .  Suhu yang dibutuhkan pada pembenihan pada siang hari  25 0 C  dan pada malam hari 15 0 C .

 

  • Persiapan Media dan Tanam Benih
  • Polibag yang digunakan berlubang dasarnya, ukuran diameter  x tinggi = 7,5 cm x 20 cm
  • Polibag diletakkan di atas meja pembibitan yang alasnya berongga sehingga akar tunggang daat menmbus keluar polibag
  • Media tumbuh berupa sekam yang telah direndam dalam air selama 2 hari, atau dicampur pupuk kandang ayakan  (1 : 1)
  • Bagian atas benih dipotong 1/3 bagian agar cepat berkecambah
  • Setelah 2-2,5 bulan , semaian  batang bawah siap disambung, dengan diamter batang antara 0,5-0,75 cm

 

  • Persiapan Batang Atas dan Teknik Penyambungan
  • Entris dipilih dari pohon induk yang sehat, produksi tinggi, varietas unggul dan disukai konsumen
  • Varietas unggul yang dapat dilih Hijau Panjang, Hijau Bundar (telah dilepas), Merah Bundar, Merah Panjang, Fuerte dan Dickinson
  • Entris diambil dari pucuk yang daunnya telah berkembang dengan mata tunas yang padat, dan berasal dari cabang /ranting yang pertumbuhannya lurus ke atas
  • Entris dibuang  seluruh daunnya dan siap disambung dengan panjang sekitar 10 cm dari 2-4 mata tunas
  • Model sambung yang digunakan yaitu sambung celah
  • Sebelum dilakukan penyambungan , media tidak perlu dipupuk
  • Pemupukan setelah penyambungan , dengan dosis Urea 0,5-1 g/l air atau NPK 1,7-3,4 g/l air per pohon seminggu sekali
  • Bibit umur 2-3 bulan dapat ditransplanting ke polibag lebih besar, dengan media transplanting pupuk kandang, sekam dan pasir/tanah dengan perbandingan (1:1:1)
  • Bibit siap ditanam di lapang setelah 3-5 bulan setelah transplanting

 

PENYAMBUNGAN PADA POHON DEWASA

            Penyambungan pada pohon dewasa dapat dilakukan secara sambung kulit (“bark grafting) atau sambung celah (cleft grafting).  Cara sambung kulit digunakan untuk pohon yang kulit batangnya muda dan mudah dikelupas, sedangkan sambung celah untuk pohon yang agak tua dan kulit batangnya susah dikelupas.

  • Pohon apokat yang akan disambung , dipotong 60-75 cm dari permukaan tanah
  • Pada bekas potongan dibuat sayatan kulit ke bawah sepanjang 3-5 cm (sambung kulit) dan  dibuat celah sepanjang 3,0-3,5 cm (sambung celah)
  • Entris dipotong sepanjang 10-15 cm, bagian  pangkal dipotong meruncing, disisipkan pada kulit atau celah yang ada
  • Untuk memperkuat diikat dengan tali rafia atau tali karet dan tanaman disungkup dengan kertas semen dan kantong plastik yang kedua sisinya berlubang

 

  • PENANAMAN     

            Penanaman apokat dapat dilakukan seperti halnya menanam tanaman buah lainnya yaitu dengan mempersiapkan lahan terlebih dahulu  dan menentukan  jarak tanam 9 m x 6 m atau 7 m x 10 m.  Kemudian dibuat lubang tanam  60 x 60 x 60 cm .  Ke dalam lubang tanam dimasukkan campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos (1 : 1).  Bibit ditanam setelah 1 minggu dari pemupukan dasar dan bibit diberi naungan atau peneduh.  Lamanya pemberian naungan sekitar 1-3 bulan dan selanjutnya bisa diambil.

PEMELIHARAAN

            Pemeliharaan untuk tanaman apokat selanjutnya berupa pemberian  mulching  ketika musim kemarau tiba dan tanaman disirami sesuai kebutuhan tanaman.    Tanaman hingga umur 3-5 tahun diberi pupuk kandang atau kompos (pupuk organik lainnya ) sebanyak 10-15 kg.  Pada umur sekitar 5-10 tahun  ke atas, takaran dinaikkan sedikit -sedikit sampai mencapai 25-30 kg.

            Pemupukan Urea, SP 36 dan KCl  untuk tanaman umur 1- 5 tahun  dapat diberi 50-175 gram Urea, 300-700 gram SP 36 dan KCl 150-400 gram  yang diberikan sesuai penambahan umur dan untuk setahun pemupukan.  Sedangkan untuk tanaman umur 5 tahun ke atas diberi 250-500 gram Urea, 450-500 SP36 dan 1500-200 gram KCl , untuk pemupukan selama setahun.  Pemberian pupuk diatur 2 bulan sebelum berbunga (berbunga awal musim hujan) dan setelah panen (panen raya Desember-Pebruari).  Atau pemupukan dapat diberikan 3 bulan sekali.  Pemupukan dilakukan dengan cara membuat rorakan sebesar cangkulan persis di bawah tajuk, kemudian pupuk ditaburkan.  Diharapkan dengan penggunaan pupuk sesuai kebutuhan  maka tanaman apokat dapat menghasilkan buah sebanyak 20 – 40 ton/ha.

PENGENDALIAN OPT

            Hama-hama penting yang sering menyerang tanaman apokat antara lain : busuk akar, antraknose , busuk ujung batang,  lalat buah.

  • Penyakit Busuk Akar  (Phytophtora cinnamomi)

      Merupakan penyakit serius yang menyebabkan penurunan produksi dan mematikan tanaman.  jamur tinggal di dalam tanah dan menyerang akar-akar baru.  Pengendalian efektif dengan injeksi batang menggunakan fungisida sistemik yaitu kalium fosfonat, yang diulang setiap tahun 

  • Antraknose (Colletotrichum gloeosporioides)

      Dapat menyebabkan turunnya hasil buah  di daerah iklim lembab dan hangat.    Beberapa kultivar  mempunyai ketahanan yang lebih besar, tetapi pada kondisi lembab diperlukan penyemprotan   agar dapat dihasilkan buah yang laku di pasaran

  • Cercospora (Pseudo cercospora purpurea)

      Merupakan penyakit jamur yang serius .  Viroid tersebut ditularkan melalui biji yang terinfeksi atau atau bahan batang atas, alat pemangkas dan dn alat perbanyakan .  Hal tersebut menyebabkan penyimpangan pertumbuhan tanaman dan buah.  Pengendalian yang paling baik dengan menggunakan  material perbanyakan dari sumber yang dipertanggungjawabkan

  • Lalat Buah (Dacus spp)

      Berbagai lalat buah menyerang buah menyebabkan kerusakan  pada permukaannya.  Meskipun larvanya jarang berkembang didalam buah, ada alasan buah tersebut ditolak memasuki beberapa pasar.  

            Di Indonesia , pohon apokat dapat dapat digunduli seluruhnya oleh ulat Cricula

PANEN DAN PASCA PANEN

            Masaknya buah dapat dikira-kira dari kemampuan buah untuk menjadi lunak dan enak dimakan tanpa mengkerut atau rusaknya daging buah setelah dipetik dari pohon.  Kultivar-kultivar yang berasal dari Guatemala dan Meksiko mempunyai buah yang akan tetap  menempel di pohonnya untuk menimbun minyak selama 2-4 bulan setelah matang.  Pemetikan secara selektif  dapat dilakukan untuk memberikan kesempatan pada buah-buah yang tertinggal untuk menjadi besar.  Buah digunting dari pohonnya dengan mengikut sertakan kancing tangkai (pedicel button) yang dapat mencegah masuknya penyakit-penyakit pasca panen melalui permukaan potongan tangkai buah.  Pemetikan melalui tangga dengan memasukkan buah dalam keranjang pengumpul  atau dengan galah pemetik yang berujung kait dilengkapi dengan kantong pengumpul (ring basket) akan lebih baik.  Setelah buah dipetik, sebaiknya buah dilindungi  dari sinar matahari  langsung.

            Untuk penanganan pasca panen dapat dilakukan dengan menyikat buah secara hati-hati untuk menghilangkan kutu perisai dan bekas fungisida dari lapangan sehingga buah menjadi berkilau dan menarik. Selanjutnya buah disortasi  dan dapat digrading sesuai kelas buahnya. Daya simpan buah apokat relatif pendek.  Buahnya mencapai tingkat kematangan untuk dapat dimakan dalam waktu 4 sampai 14 hari dari saat pemetikan, bergantung dari tingkat kematangannya dan suhu ruang.  Untuk pengemasan buah dapat dilakukan dalam kardus yang diberi potongan kertas agar buah tidak saling berbenturan dengan buah lainnya dan setelah disortasi buah dapat dikirim ke pasar swalayan maupun diekspor.

ACUAN PUSTAKA

Prosea.  1997. Buah-buahan yang dapat dimakan.  Gramedia, Jakarta.  568 p.

Amar Singh.  1980.  Fruit physiology and production.  Kalyani Publishers.

Lembaga Biologi Nasional.  1977.  Buah-buahan.  Proyek Sumber daya ekonomi.  LIPI, Jakarta.

Samson, J. A.  1980.  Tropical fruits.  Longman-London.

 Sugijatno, A dan A. Supriyanto.  2003. Teknologi sambung dini dan penyambungan pohon dewasa pada tanaman apokat. Petunjuk Rakitan Teknologi.   BPTP Jatim.

« Tulisan Baru - Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.