TEKNOLOGI PENGELOLAAN APOKAT
Baswarsiati
PENDAHULUAN
Apokat (Persea americana Mill) merupakan tanaman introduksi, diduga berasal dari Amerika Tengah dan Guatemala yang dibawa ke Indonesia sekitar abad ke 18. Tanaman ini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di pasar dunia buah apokat merupakan komoditas penting. Volume perdagangannya menduduki urutan ke lima setelah jeruk, pisang, nenas, mangga. Jika dilihat potensi produksinya, buah apokat Indonesia tergolong paling tinggi di Asia , hampir dua kali lipat produksi apokat Israel yang merupakan negara pemasok utama buah apokat untuk pasar Eropa.
Peluang ekspor apokat semula masih terbatas untuk dipasok ke Singapura dan Belanda, tetapi kini kian merambah ke Arab saudi. Di masa mendatang peluang tersebut semakin memikat karena di pasaran dunia setiap tahunnya diimpor lebih dari 105 ribu ton. Negara pengimpor produk apokat adalah Perancis, Inggris, Jerman Barat, Asustria, Belgia, Belanda, Norwegia dan swedia.
Walaupun bukan merupakan komoditas unggulan nasional , namun apokat tersebar hampir di seluruh Indonesia . Tanaman apokat tidak menghendaki persyaratan iklim yang ekstrim sehingga hampir di seluruh kondisi iklim di Indonesia relatif sesuai untuk pertumbuhannya. Daerah yang mendominasi produksi apokat yaitu Jawa, sebagian Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Jawa Timur merupakan daerah sentra pertanaman apokat terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat. Sentra produksi apokat di Jawa Timur tersebar di Kabupaten Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang
Apokat dibudidayakan untuk diambil buahnya yang banyak mengandung gizi. Daging buah apokat merupakan 65-70 % dari berat buah keseluruhan. Unsur yang terkandung pada setiap 100 gram bagian buah yang dimakan antara lain 65-68 g air, 1-4 g protein (sangat tinggi untuk buah-buahan), 5,8-23 g lemak (sebagian besar lemak tak jenuh dan tercatat sebagai bahan anti kolesterol), 3,4- 5,7 g karbohidrat , 0.8-1,0 g besi, 75-135 IU vitamin A dan 1,5-3,2 mg vitamin B kompleks. Nilai energinya 600- 800 KJ/100 g. Karena kandungan minyaknya yang tinggi pada buah matang, tekstur daging buahnya seperti mentega, yang rasanya tidak asam maupun tidak manis. Daging buahnya kaya akan besi dan vitamin A dan B. Buahnya mudah dicerna sehingga merupakan makanan padat yang bergizi tinggi untuk bayi.
SYARAT AGROEKOLOGI
Tanah yang dikehendaki apokat adalah tanah yang gembur dan subur . Struktur tanah lempung berpasir dengan kandungan pH optimum untuk pertumbuhan dan hasil buah adalah 5- 5,8. Ketinggian tempat yang dikehendaki mulai daerah medium hingga dataran tinggi sampai 1500 m dpl. Apokat tumbuh di dataran tinggi daerah tropis dengan suhu optimum pada siang hari 25-33 0 C . Apokat akan tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan antara 1500-3000 mm per tahun, dengan jumlah bulan kering tidak lebih dari 4.
Pohon dan buahnya rentan terhadap angin kencang dan untuk tempat terbuka sebaiknya diberi naungan. Apokat memerlukan tanah beraerasi dan berdrainase baik, karena akar-akarnya tidak toleran terhadap keadaan anaerob. Genangan air lebih dari 24 jam dapat mematikan tanaman. Perakarannya tumbuh dangkal , dan rendahnya frekuensi bulu akar mengurangi pengambilan air dan hara. Agar diperoleh hasil yang tinggi diperlukan pemeliharaan kelembaban tanah sepanjang tahun. Periode kritis keperluan air adalah selama pembungaan dan pembentukan buah, pengisian buah dan pematangannya. Periode basah yang berkepanjangan menyebabkan buah banyak yang terserang penyakit antraknose.
SIFAT PEMBUNGAAN
Apokat mempunyai perilaku pembungaan dikogami protoginus yang unik . Setiap kuntum bunga mekar dua kali, hari pertama putiknya reseptif dan hari berikutnya serbuk sari bunga jantan masak sehingga alat reproduksinya tidak berfungsi sama. Setiap bunga apokat , membuka dan berfungsi dua kali dalam dua hari berturut. Pada saat bunga membuka pertama kali, putik reseptif tetapi kepala sari belum pecah (masak) sehingga tidak ada serbuk sari yang disebarkan . Saat tersebut benang sari sejajar dengan posisi perhiasan bunga yang terbuka tersebut. Bunga yang berfungsi sebagai bunga betina membuka selama 2-3 jam, lalu menutup kembali. Hari berikutnya , bunga membuka kembali dengan putik yang tidak reseptif. Kepala sari pecah dengan serbuk sari yang sudah masak. Posisi benang sari relatif tegak lurus dengan posisi perhiasan bunga yang sedang membuka, lalu bunga menutup kembali.
Perilaku tersebut saling melengkapi sehingga kultivar –kultivar tersebut digolongkan ke dalam tipe “A”, yang bunga-bunga betina masak pada pagi hari dan bunga jantan pada sore harinya. Terdapat juga tipe “B” yang bunga-bunganya mekar sebagai bunga betina pada sore hari dan bunga jantan pada pagi hari berikutnya.
Karena hal tersebut, maka penyerbukan sendiri dalam satu bunga maupun dalam satu tanaman terhalang perbedaan waktu yang cukup ekstrim. Hal ini bisa diatasi dengan penyerbukan silang antara varietas tipe A dan tipe B. Dengan penyerbukan silang akan meningkatkan pembentukan buah (fruit set). Oleh karena itu untuk mendapatkan buah pada semua pohon, maka sejogjanya dikebun ditanam kedua macam pohon tersebut agar terjadi penyerbukan silang yang akan meningkatkan jumlah buah. Pohon apokat berbunga pada permulaan musim hujan dan berbuah antara bulan Desember sampai Maret
- Pengaruh Lingkungan
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku pembungaan. Perlaku kedua tipe di atas dapat terjadi bila suhu rata-rata harian di atas 20 0 C. Bila suhu turun , membukanya bunga menjadi tidak teratur atau tertunda. Sehingga satu pohon tunggal , mungkin mempunyai bunga yang membuka sebagai bunga betina, dan belum menutup pada saat bunga –bunga lain membuka sebagai bunga jantan pada sore hari. Hal ini bisa menjelaskan mengapa satu pohon tunggal apokat bisa berbuah lebat. Cuaca mendung dan hujan juga menimbulkan pengaruh yang sama dengan pengaruh suhu rendah pada membukanya bunga.
PEMBIBITAN
Bibit merupakan awal kehidupan yang harus diperhatikan dengan cermat. Bila salah dalam memilih bibit apokat maka selanjutnya hasil yang diperoleh tidak dapat dijamin. Pilihan bibit bermutu sebaiknya diperoleh dari varietas unggul yang telah dilepas Pemerintah antara lain, hijau panjang , hijau bundar, merah panjang, merah bundar, Fuerte dan Dickinson.
Hingga saat ini apokat yang ada di masyarakat pada umumnya perbanyakannya berasal dari biji sehingga sangat keragaan pohon, produksi maupun mutu buah sangat beragam. Untuk memperbaiki kondisi pertanaman apokat rakyat si Jawa Timur dapat dikembangkan teknologi klonalisasi dengan cara :
1) Penanaman menggunakan bibit hasil perbanyakan secara sambungan
2) Mengganti varietas yang ada dengan varietas baru melalui teknik penyambungan pohon dewasa atau top working.
Untuk perbanyakan secara sambungan dapat dilakukan dengan pembibitan apokat secara sambung dini . Prinsip dari teknologi sambung dini adalah menyambung semaian sedini mungkin pada kondisi fisik yang memungkinkan . Keuntungan teknologi ini adalah menghemat waktu 1-2 bulan jika dibandingkan penyambungan yang biasa digunakan dan karena bibit hasil sambung dini berbentuk pohon kecil, maka cara ini sangat efisien teruma dalam pengiriman jarak jauh.
- Pembibitan Apokat Secara Sambung Dini
Seluruh kegiatan pada bagian ini di lakukan di rumah pembibitan yang permanen atau dari bambu dan bahan yang tersedia di lokasi pembibitan. Rumah pembibitan memiliki kelembaban 70 % dengan suhu antara 25-30 0 C dan lebih baik pada daerah yang banyak pohonnya. Beberapa cara yang dapat dianjurkan antara lain :
- Persiapan Benih Batang Bawah
- Varietas batang bawah menggunakan Hijau Panjang
- Benih dipilih dari buah yang masak fisiologis
- Benih dipisahkan dari daging buah dan dicuci bersih, kulit ari dipisahkan dari benih karena menghambat pertumbuhannya
- Benih direndam dalam air hangat suhu 52 0 C selama 20 menit , kemudian dikeringanginkan . Selanjutnya direndam dalam larutan fungisisda (Bahan aktif Benomyl) , takaran 5 g/l air selama 5-10 menit
- Setelah kering angin benih dapat disimpan selama 3 bulan pada suhu 5-10 0 C . , atau segera ditanam .
- Benih segar berkecambah dalam waktu 3 minggu setelah disemai . Suhu yang dibutuhkan pada pembenihan pada siang hari 25 0 C dan pada malam hari 15 0 C .
- Persiapan Media dan Tanam Benih
- Polibag yang digunakan berlubang dasarnya, ukuran diameter x tinggi = 7,5 cm x 20 cm
- Polibag diletakkan di atas meja pembibitan yang alasnya berongga sehingga akar tunggang daat menmbus keluar polibag
- Media tumbuh berupa sekam yang telah direndam dalam air selama 2 hari, atau dicampur pupuk kandang ayakan (1 : 1)
- Bagian atas benih dipotong 1/3 bagian agar cepat berkecambah
- Setelah 2-2,5 bulan , semaian batang bawah siap disambung, dengan diamter batang antara 0,5-0,75 cm
- Persiapan Batang Atas dan Teknik Penyambungan
- Entris dipilih dari pohon induk yang sehat, produksi tinggi, varietas unggul dan disukai konsumen
- Varietas unggul yang dapat dilih Hijau Panjang, Hijau Bundar (telah dilepas), Merah Bundar, Merah Panjang, Fuerte dan Dickinson
- Entris diambil dari pucuk yang daunnya telah berkembang dengan mata tunas yang padat, dan berasal dari cabang /ranting yang pertumbuhannya lurus ke atas
- Entris dibuang seluruh daunnya dan siap disambung dengan panjang sekitar 10 cm dari 2-4 mata tunas
- Model sambung yang digunakan yaitu sambung celah
- Sebelum dilakukan penyambungan , media tidak perlu dipupuk
- Pemupukan setelah penyambungan , dengan dosis Urea 0,5-1 g/l air atau NPK 1,7-3,4 g/l air per pohon seminggu sekali
- Bibit umur 2-3 bulan dapat ditransplanting ke polibag lebih besar, dengan media transplanting pupuk kandang, sekam dan pasir/tanah dengan perbandingan (1:1:1)
- Bibit siap ditanam di lapang setelah 3-5 bulan setelah transplanting
PENYAMBUNGAN PADA POHON DEWASA
Penyambungan pada pohon dewasa dapat dilakukan secara sambung kulit (“bark grafting) atau sambung celah (cleft grafting). Cara sambung kulit digunakan untuk pohon yang kulit batangnya muda dan mudah dikelupas, sedangkan sambung celah untuk pohon yang agak tua dan kulit batangnya susah dikelupas.
- Pohon apokat yang akan disambung , dipotong 60-75 cm dari permukaan tanah
- Pada bekas potongan dibuat sayatan kulit ke bawah sepanjang 3-5 cm (sambung kulit) dan dibuat celah sepanjang 3,0-3,5 cm (sambung celah)
- Entris dipotong sepanjang 10-15 cm, bagian pangkal dipotong meruncing, disisipkan pada kulit atau celah yang ada
- Untuk memperkuat diikat dengan tali rafia atau tali karet dan tanaman disungkup dengan kertas semen dan kantong plastik yang kedua sisinya berlubang
- PENANAMAN
Penanaman apokat dapat dilakukan seperti halnya menanam tanaman buah lainnya yaitu dengan mempersiapkan lahan terlebih dahulu dan menentukan jarak tanam 9 m x 6 m atau 7 m x 10 m. Kemudian dibuat lubang tanam 60 x 60 x 60 cm . Ke dalam lubang tanam dimasukkan campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos (1 : 1). Bibit ditanam setelah 1 minggu dari pemupukan dasar dan bibit diberi naungan atau peneduh. Lamanya pemberian naungan sekitar 1-3 bulan dan selanjutnya bisa diambil.
PEMELIHARAAN
Pemeliharaan untuk tanaman apokat selanjutnya berupa pemberian mulching ketika musim kemarau tiba dan tanaman disirami sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman hingga umur 3-5 tahun diberi pupuk kandang atau kompos (pupuk organik lainnya ) sebanyak 10-15 kg. Pada umur sekitar 5-10 tahun ke atas, takaran dinaikkan sedikit -sedikit sampai mencapai 25-30 kg.
Pemupukan Urea, SP 36 dan KCl untuk tanaman umur 1- 5 tahun dapat diberi 50-175 gram Urea, 300-700 gram SP 36 dan KCl 150-400 gram yang diberikan sesuai penambahan umur dan untuk setahun pemupukan. Sedangkan untuk tanaman umur 5 tahun ke atas diberi 250-500 gram Urea, 450-500 SP36 dan 1500-200 gram KCl , untuk pemupukan selama setahun. Pemberian pupuk diatur 2 bulan sebelum berbunga (berbunga awal musim hujan) dan setelah panen (panen raya Desember-Pebruari). Atau pemupukan dapat diberikan 3 bulan sekali. Pemupukan dilakukan dengan cara membuat rorakan sebesar cangkulan persis di bawah tajuk, kemudian pupuk ditaburkan. Diharapkan dengan penggunaan pupuk sesuai kebutuhan maka tanaman apokat dapat menghasilkan buah sebanyak 20 – 40 ton/ha.
PENGENDALIAN OPT
Hama-hama penting yang sering menyerang tanaman apokat antara lain : busuk akar, antraknose , busuk ujung batang, lalat buah.
- Penyakit Busuk Akar (Phytophtora cinnamomi)
Merupakan penyakit serius yang menyebabkan penurunan produksi dan mematikan tanaman. jamur tinggal di dalam tanah dan menyerang akar-akar baru. Pengendalian efektif dengan injeksi batang menggunakan fungisida sistemik yaitu kalium fosfonat, yang diulang setiap tahun
- Antraknose (Colletotrichum gloeosporioides)
Dapat menyebabkan turunnya hasil buah di daerah iklim lembab dan hangat. Beberapa kultivar mempunyai ketahanan yang lebih besar, tetapi pada kondisi lembab diperlukan penyemprotan agar dapat dihasilkan buah yang laku di pasaran
- Cercospora (Pseudo cercospora purpurea)
Merupakan penyakit jamur yang serius . Viroid tersebut ditularkan melalui biji yang terinfeksi atau atau bahan batang atas, alat pemangkas dan dn alat perbanyakan . Hal tersebut menyebabkan penyimpangan pertumbuhan tanaman dan buah. Pengendalian yang paling baik dengan menggunakan material perbanyakan dari sumber yang dipertanggungjawabkan
- Lalat Buah (Dacus spp)
Berbagai lalat buah menyerang buah menyebabkan kerusakan pada permukaannya. Meskipun larvanya jarang berkembang didalam buah, ada alasan buah tersebut ditolak memasuki beberapa pasar.
Di Indonesia , pohon apokat dapat dapat digunduli seluruhnya oleh ulat Cricula
PANEN DAN PASCA PANEN
Masaknya buah dapat dikira-kira dari kemampuan buah untuk menjadi lunak dan enak dimakan tanpa mengkerut atau rusaknya daging buah setelah dipetik dari pohon. Kultivar-kultivar yang berasal dari Guatemala dan Meksiko mempunyai buah yang akan tetap menempel di pohonnya untuk menimbun minyak selama 2-4 bulan setelah matang. Pemetikan secara selektif dapat dilakukan untuk memberikan kesempatan pada buah-buah yang tertinggal untuk menjadi besar. Buah digunting dari pohonnya dengan mengikut sertakan kancing tangkai (pedicel button) yang dapat mencegah masuknya penyakit-penyakit pasca panen melalui permukaan potongan tangkai buah. Pemetikan melalui tangga dengan memasukkan buah dalam keranjang pengumpul atau dengan galah pemetik yang berujung kait dilengkapi dengan kantong pengumpul (ring basket) akan lebih baik. Setelah buah dipetik, sebaiknya buah dilindungi dari sinar matahari langsung.
Untuk penanganan pasca panen dapat dilakukan dengan menyikat buah secara hati-hati untuk menghilangkan kutu perisai dan bekas fungisida dari lapangan sehingga buah menjadi berkilau dan menarik. Selanjutnya buah disortasi dan dapat digrading sesuai kelas buahnya. Daya simpan buah apokat relatif pendek. Buahnya mencapai tingkat kematangan untuk dapat dimakan dalam waktu 4 sampai 14 hari dari saat pemetikan, bergantung dari tingkat kematangannya dan suhu ruang. Untuk pengemasan buah dapat dilakukan dalam kardus yang diberi potongan kertas agar buah tidak saling berbenturan dengan buah lainnya dan setelah disortasi buah dapat dikirim ke pasar swalayan maupun diekspor.
ACUAN PUSTAKA
Prosea. 1997. Buah-buahan yang dapat dimakan. Gramedia, Jakarta. 568 p.
Amar Singh. 1980. Fruit physiology and production. Kalyani Publishers.
Lembaga Biologi Nasional. 1977. Buah-buahan. Proyek Sumber daya ekonomi. LIPI, Jakarta.
Samson, J. A. 1980. Tropical fruits. Longman-London.
Sugijatno, A dan A. Supriyanto. 2003. Teknologi sambung dini dan penyambungan pohon dewasa pada tanaman apokat. Petunjuk Rakitan Teknologi. BPTP Jatim.