Oleh: baswarsiati | Mei 14, 2009

Budiaya Tomat dengan Mulsa Plastik Hitam

BUDIDAYA TOMAT DENGAN MULSA PLASTIK HITAM

 

Baswarsiati

BPTP Jawa Timur

 

PENDAHULUAN

 

  1. Untuk daerah tropis maka kisaran hasil 1-33 ton/ha (Villareal, 1979). 

            Buah tomat adalah komoditas yang multiguna, berfungsi sebagai sayuran , bumbu masak, buah meja, penambah nafsu  makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai   bahan kosmetik dan obat-obatan.  Karena itu tidaklah mengherankan kalau komoditas tomat terus berkembang  sesuai dengan meningkatnya permintaan.  Produksi tomat rata-rata nasional berkisar 3-6 ton/ha sedangkan produktivitas di pulau Jawa lebih dari 7 ton/ha.  Produktivitas ini masih dapat ditingkatkan dengan adanya varietas –varietas unggul baru yang berproduksi tinggi, tahan hama dan penyakit dan cekaman lingkungan serta teknologi budidaya yang efisien.  Potensi produksi tomat  yang dihasilkan dari penelitian dapat mencapai 25 ton/ha.  Hasil seperti ini sudah sering dicapai petani di Jawa Barat (Duriat, 1997)

            Tomat sebagai komoditas sayuran mempunyai peran ganda, yaitu selain sebagai sumber gizi dan bahan baku industri, juga dapat meningkatkan pendapatan dibandingkan komoditas pangan lainnya.  Tercatat tahun 1990 gambaran usahatani sayuran memperlihatkan nilai komersial yang cukup tinggi .  Perbandingan B/C dari usahatani cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, kubis, kentang, mentimun adalah berturut-turut  2,39; 3,20; 1,43; 2,32;1,50; 2,37; 2,16.  Semua nilai B/C  di atas satu yang merupakan  indikasi bahwa semuanya menguntungkan (Basri Zar, 1991).

  1. Di Pulau Jawa  tomat   ditanam mulai di dataran rendah (< 200 m) sampai   dataran tinggi (> 700 m) dengan pertanaman terluas di dataran tinggi (33 %) kemudian dataran rendah (28 %) dan sisanya dataran medium (Hidayat et al, 1991). 

            Adapun luas tanaman sayuran unggulan di Jawa Timur termasuk tomat seperti tercantum pada Tabel 1 .

 

 

 

 

Tabel 1. Luas tanam dan produktivitas sayuran unggulan Jawa Timur, 1999.

Komoditas  Luas tanam (ha) Produktivitas (t/ha)
Cabe 39.082 4,89
Bawang merah 24.610 8,8
Kobis 10.016 13,21
Kentang 7.333 11,9
Tomat 2.864 8,9

 

MASALAH

 

            Dalam usahatani sayuran termasuk tomat, resiko kegagalan panen sangat tinggi terutama saat musim hujan karena banyak faktor pembatas produksi.  Selain beresiko tinggi maka usahatani sayuran membutuhkan modal besar serta ketrampilan dan keuletan petani.  Sedangkan produksi dan harga juga sangat berfluktuasi tergantung musim tanam, panen raya, serta saat hari besar atau hari raya.

            Adapun beberapa masalah dalam usahatani tomat   antara lain :

  • Keterbatasan bibit varietas unggul spesifik lokasi
  • Kerugian hasil karena serangan OPT terutama pada saat tanam di luar musim (musim hujan)
  • Teknologi usahatani dengan input tinggi
  • Pemeliharaan dan penguasaan teknologi oleh petani yang belum optimal
  • Mutu hasil yang rendah
  • Fluktuasi harga yang tidak menentu
  • Informasi pasar yang belum jelas

 

PEMECAHAN MASALAH

 

  • Keterbatasan bibit varietas unggul spesifik lokasi

            Saat ini varietas hibrida tomat yang beredar di pasar cukup banyak dan petani pada umumnya telah memanfaatkan varietas hibrida tersebut dengan produktivitas rata-rata cukup tinggi.  Terdapat beberapa calon varietas unggul hasil penggaluran dan persilangan dari Balai Penelitian Sayuran Lembang  yang perlu dikaji lebih lanjut dan diperbaiki produktivitas dan kualitasnya serta ketahanan terhadap OPT pada tomat yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi petani.  Calon-calon varietas unggul tersebut sangat diharapkan karena petani tidak akan tergantung terhadap benih impor dan diharapkan harga benih lebih murah dibandingkan benih hibrida asal impor.

 

  • Kerugian hasil karena serangan OPT

 

            Serangan OPT merupakan faktor pembatas utama dalam budidaya tomat.  Untuk itu perlu diperhatikan konsep pengendalian hama dan penyakit terpadu yang disertai dengan budidaya tanaman sehat dan mulai dari awal dimulai dengan benih yang sehat.

  • Teknologi usahatani dengan input tinggi

 

            Usahatani sayuran termasuk tomat merupakan usahatani dengan input tinggi dan beresiko tinggi.  Modal atau input tinggi terutama pada harga benih, bibit, mulsa plastik, pestisida dll.  Oleh karenanya diharapkan dalam usahatani tomat dilakukan secara efektif dan efisien dengan menerapkan rakitan teknologi budidaya tomat secara tepat dan benar mulai dari syarat agroekologi, varietas, pembibitan, penanaman, pewiwilan, pemupukan, pengairan, pengendalian OPT dan pasca panennya.

 

  • Pemeliharaan dan penguasaan teknologi oleh petani yang belum optimal

 

             Usahatani tanaman tomat merupakan salah satu usahatani yang cukup sulit dan perlu ketelatenan petani dalam memelihara tanaman.  Karena tanaman tomat tidak dapat dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa memperhatikan pemeliharaannya disesuaikan dengan periode  pertumbuhannya.  Oleh karenanya petani perlu menguasai teknologi budidaya secara tepat sehingga produktivitas tanaman tomat lebih meningkat.

 

  • Mutu hasil yang rendah

 

            Mutu hasil tomat yang rendah dapat disebabkan beberapa faktor antara lain : pemilihan varietas yang tidak sesuai, budidaya tanaman yang belum optimal, serangan OPT, pra dan pasca panen yang kurang tepat.  Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan mutu hasil tomat perlu diketahui dan ditangani secara baik sehingga muutu meningkat yang akhirnya berpengaruh pada peningkatan harga tomat.

 

  • Fluktuasi harga yang tidak menentu

 

            Fluktuasi harga selalu terjadi pada hampir semua komoditas sayuran .  Hal ini pada umumnya disebabkan oleh pasokan produksi yang tidak seimbang dengan permintaan ataupun memang permainan pedagang.  Pada umumnya bila harga naik maka petani akan beramai-ramai menanam komoditas yang sama sehingga produksi melimpah akibatnya harga akan menurun tajam.  Oleh karenanya disarankan adanya pembatasan perluasan tanaman pada saat musim tanam dengan peran altif dari kelompok tani maupun instansi terkait :

 

  1. Bila luas areal pertanaman dan benih yang terjual meningkat maka diharapkan kelompok tersebut menunda penanamannya pada saat yang tepat atau tidak bersamaan dengan petani lainnya.
  2. Selain informasi tentang luas tanam juga tentang harga benih ataupun harga konsumsi perlu disampaikan sehingga petani maupun kelompok petani dapat mengantisipasinya.

 

  • Informasi Pasar yang Belum Jelas

           

            Hingga kini informasi harga untuk komoditas sayuran selalu berubah setiap saat dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya .  Akibatnya petani tidak dapat memperkirakan apakah harga stabil pada satu waktu tertentu ataukah harga akan berubah pada saat yang bersamaan.  Oleh karenanya petani selalu berada pada pihak  yang dirugikan sedang penentu harga atau pedagang lebih merasakan keuntungannya.

 

BUDIDAYA TANAMAN TOMAT

 

  • Syarat Tumbuh

 

            Tanaman tomat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan lahan yang dapat ditanami adalah  lahan bekas sawah dan lahan kering.  Temperatur yang baik untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 21o – 28 o C siang hari dan 15 o -20 o C malam hari (Sutarya et al, 1995).

            Tanaman tomat memerlukan tanah yang gembur, berpasir, subur dan banyak mengandung humus.  Pengairan dalam jumlah cukup dan teratur untuk pertumbuhan dan perkembangan tomat dari saat tanam sampai tanaman tomat dapat dapat dipanen sangat dibutuhkan.  Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang diperlukan yaitu 5,5 sampai 6,5.  Tanah yang mempunyai pH rendah (masam) perlu diberi kapur dolomit atau Kaptan terlebih dahulu pada saat 3-4 minggu sebelum tanam.  Cara pemberian kapur yaitu dengan disebar di atas tanah, kemudian diaduk secara merata sedalam lapisan olah tanah.

            Air bagi tanaman tomat diperlukan dalam jumlah banyak, namun air yang berlebihan dan menggenang menyebabkan akar menjadi busuk dan kelembaban tanah menjadi tinggi sehingga memudahkan berkembangnya penyakit.. Karena itu tata air dan tata udara tanah  (drainase) penting untuk diperhatikan.

 

  • Waktu Tanam

 

            Waktu tanam yang tepat sangat penting untuk budidaya tanaman tomat, karena tanaman ini sangat rentan terhadap keadaan lingkungan terutama temperatur, kelembaban, intensitas cahaya, air irigasi dan drainase.  Curah hujan tinggi disertai  temperatur yang tinggi dapat menyebakan terhambatnya pembuahan (fruit set) dan meningkatnya serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum sehingga hasil buah akan rendah.

            Waktu tanam tomat yang paling baik yaitu dua bulan sebelum musim hujan berakhir yakni bulan April-Mei  dan berbuah pada musim kemarau. Daerah yang berpengairan teknis baik pada musim penghujan maupun musim kemarau dapat diusahakan tanaman tomat .

            Tanaman tomat dapat ditanam secara monokultur atau tumpangsari dengan kubis , petsai dan cabai .  Secara monokultur , tanaman tomat dapat dirotasikan dengan kubis dan kentang di dataran tinggi.  Seperti pada umumnya lahan sawah di dataran rendah, padi merupakan tanaman utama yang umum ditanam pada musim penghujan, rata-rata dua kali setahun.  Dengan demikian tanaman  tomat dapat ditanam setelah padi dalam musim kemarau (Nurtika , 1992).

 

  • Persemaian

 

            Benih yang dibutuhkan untuk bertanam tomat sebanyak 150 gram per hektar .  Bibit tomat yang akan ditanam diperoleh dengan menyemai benih tomat di dalam persemaian yang telah disediakan.  Sebelum benih disemaikan maka tempat persemaian disediakan terlebih dahulu dan disiapkan pula kantong plastik kecil yang telah berisi tanah dan pupuk kandang matang dan steril sebagai media tumbuh benih dengan perbandingan 1:1.

            Benih tomat sebelum disemai direndam dalam air hangat dengan suhu 30°-40°C selama 15-20 menit. Selanjutnya diperlakukan dengan fungisida. Benih yang telah dikeringanginkan langsung ditanam di kantong plastik berukuran 1 ons dengan menggunakan media tanah dan pupuk kandang. Selanjutnya ditempatkan di lapang dan diberi naungan atap plastik agar benih tidak rusak kena air hujan ataupun sinar matahari.  Penyiraman dilakukan setiap hari dengan membuka plastik penutup.  Bibit tomat siap tanam di lapang pada umur 3 minggu dari pesemaian

 

  • Persiapan Lahan

 

            Pengolahan tanah pada umumnya diperlukan bila kepadatan dan aerasi tanah tidak mendukung penyediaan air dan perkembangan akar tanaman.  Sistem guludan tidak selalu diperlukan dalam pertanaman tomat, khususnya pada lahan kering yang memiliki struktur tanah yang remah sehingga petani dapat mengurangi biaya pengolahan tanah.

Cara bertanam tomat ada dua macam yaitu sistem bedengan dengan dua baris tanaman untuk setiap bedengan dan sistem guludan dengan satu baris tanaman .  Cara bedengan umumnya dilakukan didataran rendah dan medium , sedangkan cara barisan tunggal biasa dilakukan di dataran tinggi.

            Setelah tanah dicangkul dan dibersihkan dari gulma, kemudian tanah dihaluskan dan diratakan.  Selanjutnya dibuat guludan dengan lebar 60 cm atau bedengan dengan lebar 120 cm atau 160 cm , sedangkan panjang sesuai kondisi lahan.  Tinggi guludan /bedengan 40-50 cm untuk musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau 0-20 cm.  Tinggi bedengan 50 cm dan 75 cm pada musim penghujan (off season) secara nyata dapat meningkatkan bobot total buah tomat, seperti pada tabel 2.

 

Tabel 2.  Pengaruh tinggi bedengan terhadap bobot buah tomat total pada MH.

 

Tinggi bedengan (cm) Bobot buah tomat total (ton/ha)
25 18,06
50 25,97
75 28,20

                                    Sumber : Hilman dan Sumiati (1990).

 

 

            Di atas guludan atau bedengan dipasang mulsa plastik hitam , selanjutnya dibuat lubang pada mulsa plastik dengan menggunakan  kaleng bekas susu (ukuran  kecil ) yang dipanaskan di atas bara api dengan jarak antar lubang sesuai dengan jarak tanamnya yaitu jarak lubang antar barisan 60-80 cm, jarak lubang dalam barisan 40-50 cm, sehingga diperoleh jarak tanam 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm.  Jumlah tanaman perhektar berkisar antara  25.000-40.000 tanaman.  Untuk lubang tanam dibuat dengan cara melubangi tanah atau bedengan sesuai dengan ukuran lubang pada mulsa plastik dengan menggunakan kayu (gejik) dan dibuat lubang dengan kedalaman cukup untuk perakaran tomat (sekitar 10 cm).

 

  • Penanaman  

           

            Sebelum tanam , pupuk kandang yang telah matang dimasukkan ke dalam lubang tanam, kemudian pupuk buatan diberikan di atas pupuk kandang dan ditutup tanah.  Pupuk kandang dan pupuk Fosfor (SP 36) diberikan sekaligus sebelum tanam.  Setengah dosis pupuk Nitrogen (1/2 N Urea + ½ N ZA) dan setengah dosis pupuk Kalium (KCl) diberikan sebelum tanam bersama dengan pupuk kandang dan pospor .

            Bibit yang telah berumur tiga minggu ditanam di lapang dalam lubang tanam yang telah tersedia.  Agar tidak mengganggu perakaran tanaman atau tanaman tomat yang telah tumbuh maka sebelum bibit ditanam , dipasang turus pada tiap-tiap lubang tanam.  Turus sebaiknya berasal dari potongan bambu yang bersih, sehingga  bukan sebagai sumber penyakit.  Turus dipasang untuk memudahkan pemeliharaan tanaman , agar tanaman dapat tumbuh tegak  serta memudahkan saat penyemprotan menggunakan pestisida dan sebagai penyangga bila tanaman telah berbuah.

 

  • Pemeliharaan

           

            Pemeliharaan tanaman tomat yang tumbuh indeterminate (tumbuh lebih panjang) perlu dilakukan secara hati-hati. Pada tanaman tomat yang mempunyai tipe indeterminate, tandan bunga tidak terdapat pada setiap ruas batang dan ujung tanaman senantiasa terdapat pucuk muda.  Sedangkan pada tipe determinate pada ujung tanaman terdapat tandan bunga dan pada setiap ruas batang, misal kultivar Intan, ratna dan Berlian.

            Pewiwilan dilakukan setiap minggu sekali.  Penyiraman dilakukan bila tidak ada hujan, setiap hari selama 2 minggu, selanjutnya 2 x seminggu sampai umur 45 hari, selanjutnya di genangi ¾ bedengan bila air memungkinkan. Pada umur 1 minggu disiram dengan Agrimicin 2 cc/l. 

            Pemangkasan dilakukan pada cabang-cabang yang dianggap tidak produktif, yaitu tunas muda yang tumbuh diantara batang dan cabang-cabang daun sehingga tinggal batang daun utama, serta tunas-tunas yang tumbuh pada kedua cabang (wiwil), pemangkasan ini dilakukan (2-4 kali) dalam satu bulan.  Pemangkasan batang pucuk dilakukan setelah tanaman tumbuh 2 helai daun di atas dompolan buah yang kelima. Pemangkasan dilakukan agar buah cepat menjadi besar dan masak. Pemangkasan dengan meninggalkan dua cabang utama dan lima tandan bunga memberikan bobot buah tomat tertinggi.

 

  • Pemupukan

           

            Tanaman tomat memerlukan unsur hara makro N,P ,K, Ca dan Mg serta unsur hara mikro Zn dan B (Nurtika dan Abidin, 1997). Dalam upaya peningkatan produksi, penggunaan pupuk yang cukup baik, pupuk organik maupun anorganik sangat diperlukan.  Penambahan pupuk organik yang telah matang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah .  Penurunan bahan organik tanah terjadi akibat bahan organik tersebut mengalami proses dekomposisi menjadi bahan anorganik yang kemudian diserap oleh tanaman atau mengalami proses pencucian (Soepardi, 1979).

            Nitrogen, Fosfor dan Kalium merupakan golongan unsur hara utama yang banyak diperlukan oleh tanaman.  Nitrogen diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif, sifatnya mobil terutama dalam bentuk nitrat.  Fosfor sangat penting untuk permulaan tumbuh, sifatnya tidak mobil dan sukar larut dalam air.  Selain itu Fosfor berperan dalam pembentukan bunga, buah dan biji.  Kalium sifatnya sedikit mobil sehingga dapat diberikan sekaligus pada waktu tanam atau dua kali yaitu saat tanam dan beberapa minggu setelah tanam.  Peranan kalium dalam tanaman sebagai aktivator enzim.  Kalium membuat tanaman lebih tahan terhadap penyakit dan dapat merangsang pertumbuhan akar (Soepardi, 1979).

            Sebagai pupuk dasar diberikan  15 ton/ha pupuk kandang sapi (untuk MK ) dan 20-30 ton/ha (untuk MH), dan  400 kg/ha SP 36 yang diberikan sebelum tanam dengan cara menaburkan pada lubang tanam.  Selanjutnya pada saat tanam diberikan 150 kg/ha  ZA, 200 kg/ha Urea dan 200 kg/ha KCl diberikan pada tanaman sebelum tanam di lapang. Pemupukan susulan ZA diberikan pada tanaman pada umur 20 hari setelah tanam 150 kg/ha dan 40 hari setelah tanam 150 kg/ha.  Untuk penggunaan pupuk majemuk disarankan menggunakan NPK 15-15-15 sebanyak 600 kg/ha untuk musim kemarau dan musim hujan dengan takaran 1000-1200 kg/ha.

 

HAMA DAN PENYAKIT  UTAMA TANAMAN TOMAT

 

A.   PENYAKIT

 

1.  Penyakit Busuk Daun (Phytophtora infestans)

            Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophtora infestans yang juga menyerang daun pada tanaman kentang dan biasanya menyerang pertanaman tomat dataran tinggi.

 

Gejala Penyakit

 

            Daun yang terserang menimbulkan bercak hitam kecoklatan atau keunguan mulai timbul pada anak daun, tangkai atau batang dan bila keadaan membantu (kelembaban tinggi dan suhu rendah) penyakit akan cepat meluas dan dapat menyebabkan kematian.

            Pada bagian luar bercak berwarna kuning pucat yang beralih ke bagian yang berwarna hijau biasa. Pada sisi bagian bawah daun jamur tampak putih seperti beledu yang tampak pada daerah peralihan antara pucat dan ungu.

            Pada buah penyakit dapat timbul pada semua tingkat perkembangan, bercak berwarna hijau kelabu kebasah-basahan, meluas menjadi bercak yang bentuk dan besarnya tidak tertentu. Pada buah hijau bercak berwarna coklat tua, agak keras dan berkerut. Bercak mempunyai batas yang cukup tegas dan batas ini tetap berwarna hijau pada waktu bagian buah yang tidak sakit matang. Kadang-kadang bercak mempunyai cincin.

            Penyakit dapat berkembang dengan baik apabila lingkungan sekitarnya mendukung, yaitu kelembaban udara antara 91-100 % , suhu 3-26 °C dan biasanya terjadi pada musim hujan.

 

Pengendalian

 

            Karena belum ada jenis tomat komersial yang mempunyai ketahan cukup terhadap penyakit busuk daun ini, sampai sekarang usaha pengendalian penyakit masih terbatas pada pemilihan waktu tanam dan pemakaian fungisida. Untuk mengendalikan penyakit busuk daun digunakan fungisida berbahan aktif Kaptafol atau Mankozeb. Penyemprotan dilakukan 2 kali seminggu dimulai setelah tanaman umur 2 minggu setelah tanam atau setelah intensitas serangan mencapai 25 %.

 

 

2.  Penyakit bercak Coklat (Alternaria solani Sor.)

 

            Penyakit bercak coklat atau bercak kering merupakan penyakit daun yang sudah tersebar luas, penyakit disebabkan oleh Alternaria solani yaitu patogen yang sama dengan penyakit bercak kering yang menyerang daun tanaman kentang

 

Gejala Penyakit

            Pada daun timbul bercak-bercak kecil bulat atau bersudut, berwarna coklat tua sampai hitam. Jaringan nekrotik sering tampak seperti kulit, mempunyai lingkaran-lingkaran sepusat sehingga tampak seperti papan sasaran. Disekitar bercak nekrotik terdapat jalur klorotik (halo) sempit.

            Pada batang penyakit menyebabkan terjadinya bercak gelap yang mempunyai lingkaran sepusat. Jika infeksi terjadi dekat dengan percabangan, cabang akan mudah patah jika buah membesar.

            Buah dapat terinfeksi pada saat masih hijau atau sudah tua, biasanya infeksi terjadi di dekat tangkai, bercak berwarna coklat atau hitam, berlekuk yang dapat meluas ke seluruh permukaan buah . Jaringan sakit tampak seperti kulit dan dapat membentuk massa hitamseperti beledu yang terdiri dari spora jamur pada permukaannya.

            Penyakit juga dapat timbul pada semai dan menyebabkan busuk pangkal batang, infeksi terjadi setinggi permukaan tanah, meluas ke bawah dan ke atas dan membentuk kanker yang melingkari pangkal batang.

            Alternaria solani dapat mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman sakit, pada sisa-sisa tanaman sakit atau biji.

Pengendalian

 

            Sampai sekarang belum ada jenis tomat yang tahan terhadap bercak coklat. Agar menjadi lebih tahan, tanaman harus diberi pupuk yang seimbang, Untuk mencegah terbawanya jamur oleh biji dilakukan desinfektan biji, untuk mengurangi infeksi pembibitan jangan terlalu rapat atau lembab. Fungisida dengan bahan aktif karbamat efektif untuk mengendalikan penyakit ini.

 

3.  Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum)

 

            Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar, terutama di daerah dataran tinggi. Penyakit disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum.

 

Gejala Penyakit

            Gejala awal dari penyakit ini adalah tulang daun menjadi pucat, terutama daun-daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan. Kadang-kadang kelayuan diikuti dengan menguningnya daun, terutama daun-daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dan merana tumbuhnya. Apabila tanaman sakit dipotong ekat dengan pangkal batang akan terlihat adanya cincin berwarna coklat dari bekas pembuluh. Pada serangan berat gejala ini akan tampak pada bagian tanaman juga. Pada tanaman yang masih muda penyakit dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak karena pada pangkal batang terjadi kerusakan atau kanker yang menggelang. Sedangkan pada tanaman dewasa yang terinfeksi sering dapat bertahan terus sampai panen, tetapi hasilnya hanya sedikit.

            Fusarium oxysporum dapat bertahan dalam tanah. Tanah yang sudah terinfeksi sukar dibebaskan kembali. Jamur menginfeksi akar terutama melalui luka dan menetap serta berkembang di berkas pembuluh. Pengangkutan air dan hara terganggu yang menyebabkan tanaman menjadi layu

 

Pengendalian

 

            Menanam jenis tomat yang tahan penyakit (Ohio MR 9 dan Walter), pencelupan akar dengan benomyl 1000 ppm, meningkatkan suhu tanah, menggunakan jamur antagonis Gliocodium dan trichoderma yang disiramkan ke tanah

 

4.  Penyakit Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum)

 

            Penyakit layu disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum yang sangat merugikan tanaman tomat, penyakit biasanya menyerang pada pertanaman tomat di dataran rendah.

 

Gejala Penyakit

 

            Gejala awal adalah layunya beberapa daun muda atau menguningnya daun-daun tua disebalah bawah. Batang tanaman yang sakit cenderung membentuk lebih banyak akar adventif. Jika batang, cabang atau tangkai tanaman yang sakit dibelah tampak berkas pembuluh berwarna coklat. Pada stadium lanjut bila batang dipotong dari berkas pembuluh akan keluar massa bakteri seperti lendir berwarna putih susu. Lendir akan lebih banyak keluar bila potongan dimasukkan ke dalam tempat yang lembab. Jika potongan batang sakit dimasukan ke dalam gelas yang berisi air jernih, setelah ditunggu beberapa menit akan terlihat benang-benang putih halus, yang akan putus bila gelas digoyang. Benang putih tersebut adalah massa bakteri.

 

Pengendalian

 

            Mengadakan pergiliran tanam (tidak menanam tanaman yang se-famili dengan tomat), akar dicelup dengan streptomicyn atau campuran streptomicyn dan tetrasiklin, menanam varietas tahan (Intan, Ratna dan AV-15).

 

5.  Mozaik Tembakau (Tobacco Mozaic Virus)

           

            Tanaman tomat sangat rentan terhadap penyakit ini, karena dapat menyebar dengan luas, sehingga pada akhir musim tanam tidak ada tanaman yang tidak terinfeksi. Penyakit dapat mengurangi produksi tomat sampai 50 %, tergantung saat infeksi dan jenis tanaman. Infeksi pada waktu tanaman masih muda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar. Penyakit disebabkan oleh Tobacco Mozaic Virus (TMV).

 

Gejala Penyakit

 

            Pada daun terjadi bercak-bercak hijau muda atau kuning yang tidak teratur. Bagian yang berwarna muda tidak dapat berkembang secepat bagian hijau yang biasa, sehingga daun menjadi berkerut atau terpuntir. Jika tanaman terinfeksi sejak awal, buahnya menjadi lebih kecil, bentuknya menyimpang dan pada dinding buah terdapat bintik-bintik nekrotik.

 

Pengendalian

 

            Mencabut bibit atau tanaman yang terserang virus, membersihkan gulma di sekitar pertanaman, mencuci alat-alat pertanian dengan segera setelah melakukan kegiatan di sekitar pertanaman tomat.

 

B.   H A M A

 

1.  Liriomyza sp.

 

            Lalat pengorok daun, Liriomyza sp. Diasumsikan merupakan “hama pendatang baru” yang diperkirakan masuk ke Indonesia pada tahun 1990. Selain berperan sebagai hama yang merusak langsung juga sebagai vector penyakit virus TMV. Liriomyza merupakan hama polifag yang menyerang berbagai jenis tanaman antara lain, tomat, kentang, cabai, semangka, wortel, seledri, krisan dsb. Kerugian yang ditimbulkan berupa kehilangan hasil yang mencapai 34 %.

 

 

 

Gejala Kerusakan

 

            Kerusakan pada tanaman dapat disebabkan oleh aktivitas peneluran, makan imago dan korokan larva. Bekas tusukan ovipositor imago tampak gejala bintik-bintik putih. Serangga menghisap cairan yang keluar dari bekas tusukan tersebut. Bila serangan berat, daun tanaman tampak seperti bercak coklat sampai berlubang akibat kematian jaringan daun. Tusukan yang berat dapat mengakibatkan daun layu dan gugur sebelum waktunya. Larva memakan daun dengan membuat korok (lorong) melalui lapisan spongi, sehingga pada daun terjadi alur-alur bekas gorokan yang berliku. Diameter korokan akan semakin besar sejalan dengan pertumbuhan larva.

 

Pengendalian

 

            Menggunakan bibit yang sehat, menanam tanaman yang resisten, menggunakan perangkap kuning (imago), menggunakan musuh alami, menggunakan insektisida dengan bahan aktif Cyromazine, Abamectin, Dimethoat, Bensultap dan Profenofos.

           

2.  Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

 

            Ulat muda berwarna kuning sampai kelabu kuning, sedangkan ulat tua berwarna coklat sampai coklat kehitaman dan di kedua sisi badannya terdapat pita coklat.

 

Gejala Kerusakan

 

            Tanaman muda terpotong batangnya, kemudian potongan tersebut ditarik ke dalam tanah. Pada tanaman yang lebih tua ulat makan tangkai daun atau pucuk. Serangan meningkat pada musim kemarau. Pada malam hari ulat aktif menyerang tanaman muda. Ngengatnya aktif pada malam hari dan telur diletakkan pada tempat yang lembab.

 

Pengendalian

            Disemprot dengan insektisida efektif  atau ditaburkan di tanah sekitar pertanaman

 

3.  Kutu daun afid (Myzus persicae dan Aphis gossypii)

           

            Nimfa muda berwarna kuning atau kehijauan, nimfa tua berwarna hijau kekuningan atau oranye. Kutu dewasa ada yang bersayap ada yang tidak bersayap.

 

Gejala Kerusakan

            Nimfa dan serangga dewasa menghisap cairan daun. Bekas tusukan berupa bercak kecil pada daun. Pada serangan berat daun diselimuti embun jelaga, sedang pada serangan ringan kerusakan tidak tampak. Kutu daun biasanya berkoloni pada bagian bawah daun, berkelompok atau berpencar.

 

Pengendalian

             Disemprot dengan akarisida efektif (Hostation, Omite) yang dilakukan pada sore hari.

4.  Ulat Buah  Tomat (Helicoverpa armigera Hubn.)

 

            Hama ini mempunyai pencaran yang luas di Indonesia, terdapat di dataran rendah dan dataran tinggi.  Sifatnya sangat polifag.  Tanamn inang utama adalah tomat, tembakau , jagung dan kapas.  Tanaman inang lain misalnya kentang, kubis dan kacang-kacangan.  Ngengat betina meletakkan telur satu persatu pada pucuk daun, sekitar bunga dan cabang.  Telur berbentuk bulat berwarna putih agak kekuningan.  Larva muda berwarna kuning muda dan berbentuk silinder.  Pupa yang yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian berubah kehijauan dan akhirnya kuning kecoklatan.  Panjang pupa sekitar 1,8 cm.

 

Gejala Kerusakan

 

            Larva melubangi buah-buah tomat .  Buah tomat yang terserang busuk dan jatuh ke tanah.  Kadang-kadang larva juga menyerang pucuk tanaman dan melubangi cabang-cabang tomat.

 

Pengendalian

 

            Pengaturan waktu tanam (karena serangan tertinggi di musim kemarau).  Bila menanam bula September diharapkan terhindar dari serangan hama tersebut.  Buah yang terserang dimusnahkan, menggunakan varietas resisten, pengendalian hayati, menggunakan musuh alami seperti Metharhizium anisopliae, Beauveria bassiana.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Basri Zar, Z. 1991.  Perkembangan dan pengembangan sayuran dalam rangka mempercepat tercapainya pertanian tangguh di Indonesia.  Pros. Seminar  Nasional Sayuran.  Litbang Pertanian.

 

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dati I Jati.  1999.  Laporan Tahunan.

 

Duriat, A.S. 1975. Pengaruh tobaaco mosaic virus pada beberapa varietas tomat. Kongr. Nas III PFI, Bogor. 124-129.

 

 …………., T. A. Soetiarso, L. Prabaningrum dan Rakhmat S. 1994. Penerapan pengendalian hama penyakit terpadu pada budidaya cabai. Balithorti Lembang.30p.

 

…………… 1997.  Tomat komoditas andalan yang prospektif dalam  Teknologi Produksi Tomat.  Balitsa. Lembang.

 

Hidayat, A.Y., Hilman,N. Nurtika dan Suwandi.  1991.  Hasil penelitian sayuran dataran rendah.  Pros. Lokakarya Nasional Sayuran.  Litbang Pertanian

.

About these ads

Responses

  1. thanks


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: