Oleh: baswarsiati | April 30, 2009

Tiga Varietas Unggul Bawang Merah Hasil Kajian BPTP Jawa Timur

TIGA VARIETAS UNGGUL BAWANG MERAH

HASIL KAJIAN BPTP JAWA TIMUR

 

Baswarsiati- BPTP Jawa Tiimur

 

Bawang merah termasuk sayuran unggulan nasional yang belum banyak keragaman varietasnya , baik varietas lokal maupun varietas unggul nasional .  Hal ini disebabkan perbanyakan bawang merah dengan menggunakan umbi sehingga tidak terjadi segregasi maupun keragaman dalam varietasnya.  Bawang merah  dikenal sebagai sayuran yang sangat fluktuatif  harga maupun produksinya.  Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya serta panenan di luar musim (Koster,1990; Baswarsiati et al, 1996). Salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim (Duriat et al, 1994; Hadisoeganda et al, 1995; Suhardi et al, 1994).  Selain itu bawang merah merupakan komoditas yang tidak dapat disimpan lama, hanya bertahan 3-4 bulan padahal konsumen membutuhkannya setiap saat (Rosmahani et al, 1998;)

            Masalah utama usahatani bawang merah adalah tingginya resiko kegagalan panen terutama bila penanaman dilakukan di luar musim (Baswarsiati et al, 1997). Tingginya resiko kegagalan panen disebabkan karena adanya faktor pembatas dalam budidaya bawang merah yaitu beratnya serangan hama dan penyakit yaitu hama Spodoptera exigua, penyakit Alternaria, Fusarium, Antraknose (Duriat et al, 1994).  Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama–penyakit dan mampu berproduksi tinggi serta varietas tersebut disukai oleh konsumen (Permadi, 1995).

            Banyak varietas bawang merah yang dibudidayakan di Indonesia.  Sampai saat ini perbanyakan dari varietas-varietas tersebut dilakukan secara vegetatif dengan umbi, padahal varietas tersebut mampu berbunga dan berbiji secara alami kecuali varietas Sumenep.  Karena selalu dibiak secara vegetatif maka praktis tidak ada perubahan susunan genetiknya dan karena itu sampai sekarang tidak didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit daun yang sering menggagalkan pertanaman bawang merah. Dari 141 varietas bawang merah yang ada termasuk varietas introduksi belum didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit di atas kecuali varietas Sumenep yang relatif tahan terhadap penyakit “Otomatis” tetapi tidak tahan terhadap penyakit “Alternaria”.  Sayangnya varietas ini tidak mampu berbunga  dan belum diketahui cara merangsang bunganya, serta berumur panjang walaupun mempunyai kualitas terbaik untuk bawang  goreng (Permadi, 1992). 

            Untuk mengantisipasi masalah di atas salah satu usaha yaitu mencari dan menggali varietas-varietas bawang merah yang mempunyai sifat-sifat unggul terutama dalam hal produksi serta ketahanan terhadap hama dan penyakit utama sehingga varietas bawang merah tersebut mampu berproduksi walaupun serangan hama dan penyakit cukup berat.  Bilamana varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit diperoleh maka varietas tersebut dapat ditanam pada luar musim sehingga kesinambungan produksi bawang merah dapat terjamin.

     Untuk merakit varietas unggul baru maka perlu dilaksanakan uji adaptasi di beberapa lokasi dengan beberapa kali musim tanam.  Uji adaptasi merupakan salah satu persyaratan yang harus dilakukan sebelum pelepasan suatu varietas.  Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 902/kpts/TP.240/12/96 tanggal 2 Desember 1996 tentang pengujian, penilaian dan pelepasan varietas (Manwan, 1997). Pelaksanaan uji adaptasi akan sangat menunjang dalam menghasilkan calon varietas unggul spesifik lokasi berdasarkan nilai rata-rata dan stabilitas hasilnya, serta ikut mendukung pelepasan varietas unggul daerah. Pada saat ini pelepasan varietas unggul masih bersifat nasional dan belum mempertimbangkan kesesuaian lingkungan dan agroekologi spesifik.  Varietas unggul yang dilepas saat ini baru sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional dan sifatnya masih nasional (Baihaki, 1996). Menurut Parlevleit (l979) dengan diperolehnya beberapa varietas unggul baru regional akan menambah kapasitas penyanggaan  (buffering capacity) terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik

Varietas bawangmerah yang telah dilepas oleh pemerintah  antara lain Bima Brebes, Medan, Keling, Maja Cipanas, Super Philip, Bauji, Kramat 1, Kramat 2, Batu Ijo, Tiro, Tuk-tuk, Katumi.   Konsumen bawangmerah pada umumnya lebih menyukai bawangmerah dengan ukuran umbi besar (8-10 g/umbi), warna kulit merah mengkilat dan berumur genjah. Varietas unggul yang telah dilepas , hasil kajian dari peneliti dan pemulia bawang merah BPTP Jawa Timur masing-masing mempunyai ciri yang berbeda seperti halnya varietas Super Philip sesuai untuk musim kemarau dengan penampilan umbi sangat disukai konsumen sedangkan varietas Bauji sesuai untuk musim.  Demikian juga dengan varietas Batu Ijo mempunyai keunggulan dalam hal ukuran umbi  besar dan sesuai ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi  walaupun saat ini masih berkembang di wilayah dataran tinggi Batu.  Tiga varietas bawang merah yang disebutkan terakhir tersebut merupakan varietas unggul yang berkembang di Jawa Timur.

 

 DISKRIPSI VARIETAS UNGGUL BAWANG MERAH VARIETAS BAUJI

 

Asal

Nama asli

Nama setelah  dilepas

SK Mentan

;

;

;

Lokal Nganjuk

Bauji

Bauji

No 65/Kpts/TP.240/2/2000, tgl 25-2-2000

Umur

;

Mulai berbunga (45 hari)

 

 

Panen (60% batang melemas) 60 hari

Tinggi tanaman

;

35-43 cm

Kemampuan berbunga

;

Mudah berbunga

Banyaknya anakan

;

9-16 umbi/rumpun

Bentuk daun

;

Silindris, berlubang

Banyak daun

;

40-45 helai/rumpun

Warna daun

;

Hijau

Bentuk bunga

:

Seperti payung

Warna bunga

:

Putih

Banyak buah/tangkai

;

75-100

Banyak bunga/tangkai

;

115-150

Banyak tangkai bunga/rumpun

;

2-5

Bentuk biji

;

Bulat, gepeng, berkeriput

Warna biji

;

Hitam

Bentuk umbi

;

Bulat lonjong

Ukuran umbi

;

Sedang (6-10 g)

Warna umbi

;

Merah keunguan

Produksi umbi

;

14 t/ha umbi kering

Susut bobot umbi

;

25% (basah-kering)

Aroma

;

Sedang

Kesukaan/cita rasa

;

Cukup digemari

Kerenyahan utk. Bawang goreng

;

Sedang

Ketahanan terhadap penyakit

;

Agak tahan terhadap Fusarium

Ketahanan terhadap hama

;

Agak tahan terhadap ulat grayak (Spodoptera exigua)

Keterangan

;

Baik untuk dataran rendah, sesuai untuk musim hujan

Pengusul

;

Baswarsiati, Luki Rosmahani, Eli Korlina,

F. Kasijadi, Anggoro Hadi Permadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VARIETAS BAUJI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKRIPSI VARIETAS UNGGUL BAWANG MERAH VARIETAS SUPER PHILIP

 

 

Asal

Nama asli

Nama setelah dilepas

SK Mentan

:

Introduksi dari Philipine

Philipine

Super Philip

No 66/Kpts/TP.240/2/2000,  tgl 25-2-2000

Umur

:

Mulai berbunga 50 hari

 

 

Panen (60% batang melemas) 60 hari

Tinggi tanaman

:

36-45 cm

Kemampuan berbunga

:

Agak mudah

Banyaknya anakan

:

9-18 umbi/rumpun

Bentuk daun

:

Silindris, berlubang

Banyak daun

:

40-50 helai/rumpun

Warna daun

:

Hijau

Bentuk bunga

:

Seperti payung

Warna bunga

:

Putih

Banyak buah/tangkai

:

60-90

Banyak bunga/tangkai

:

110-120

Banyak tangkai bunga/rumpun

:

2-3

Bentuk biji

:

Bulat, gepeng, berkeriput

Warna biji

:

Hitam

Bentuk umbi

:

Bulat

Ukuran umbi

:

Sedang (6-10 g)

Warna umbi

:

Merah keunguan

Produksi umbi

:

18 t/ha umbi kering

Susut bobot umbi

:

22% (basah-kering)

Aroma

:

Kuat

Kesukaan/cita rasa

:

Sangat digemari

Kerenyahan untuk bawang goreng

:

Sedang

Ketahanan terhadap penyakit

:

Kurang tahan terhadap Alternaria porii

Ketahanan terhadap hama

:

Kurang tahan terhadap ulat grayak (Spodoptera exigua)

Keterangan

:

Baik untuk dataran rendah maupun dataran medium pada musim kemarau

Pengusul

:

Baswarsiati, Luki Rosmahani, Eli Korlina, F. Kasijadi, Anggoro Hadi  Permadi

 

 

 

 

 DESKRIPSI  VARIETAS UNGGUL BAWANG MERAH BATU IJO

 

Asal

:

Batu-Malang

Nama asal

:

Bali Ijo

Nama yang diusulkan

:

Batu Ijo

Umur

:

Mulai berbunga 45-50 hari

 

 

Panen (80% batang melemas) 55-60 hari di dataran rendah dan 65-70 hari di dataran tinggi

Tinggi tanaman

:

45 – 60 cm

Kemampuan berbunga

:

Agak mudah

Banyaknya anakan

:

2-5 umbi/rumpun

Bentuk daun

:

Silindris, berlubang

Banyak daun

:

45-50 helai/rumpun

Warna daun

:

Hijau

Bentuk bunga

:

Seperti payung

Warna bunga

:

Putih

Banyak buah/tangkai

:

60-75

Banyak bunga/tangkai

:

100-110

Banyak tangkai bunga/rumpun

:

2-3

Bentuk biji

:

Bulat, gepeng, berkeriput

Warna biji

:

Hitam

Bentuk umbi

:

Bulat

Ukuran umbi

:

Besar (10-22,5 g)/umbi

Diameter umbi

:

42,75 – 53,80 mm

Jumlah lapis umbi

:

6-10

Tebal lapis umbi

:

2,2 – 4,7 mm

Warna umbi

:

Merah kekuningan

Produksi umbi

:

16,50 t/ha umbi kering

Susut bobot umbi

:

25% (basah-kering)

Aroma

:

Sedang

Kadar air

:

87,41 %

Kadar asam

:

0,12 %

Kadar gula

:

6,43 %

Kadar vitamin C

:

9,98 mg/100 g bahan

Kadar karbohidrat

:

3,14 %

Kadar protein

:

3,33 %

Kadar minyak atsiri

:

0,21 %

Kesukaan/cita rasa

:

Cukup digemari

Kerenyahan untuk bawang goreng

:

Sedang

Ketahanan terhadap penyakit

:

Rentan terhadap Alternaria porii

Ketahanan terhadap hama

:

Rentan  terhadap ulat grayak (Spodoptera exigua)

Keterangan

:

Baik untuk dataran rendah maupun dataran tinggi pada musim kemarau.  Umumnya ditanam petani di dataran tinggi

Pengusul

:

Baswarsiati, Eli Korlina, Yuniarti,

M. Soegiyarto , Anggoro Hadi Permadi , Sartono Putrasamedja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baihaki, A. 1996. Prospek penerapan “ Breeder Right” di Indonesia, dalam Sumarno, Hari Bowo, B. Priyanto, Nova Augustin dan Widi Wuryani (eds). Prosiding  Simposium Pemuliaan Tanaman IV. Vol V. (9):1-16. Univ. Pembangunan Nasional. Surabaya.

Baswarsiati, L. Rosmahani, E. Korlina, E.P. Kusumainderawati, S.Z. Sa’adah. 1996. Adaptasi beberapa varietas bawangmerah di luar musim. Prosiding Seminar Hasil Penelitian/Pengkajian BPTP Karangploso.

Baswarsiati, L. Rosmahani, B. Nusantoro, R.D. Wijadi. 1997.  Pengkajian paket teknik budidaya bawangmerah di luar musim. Prosiding Seminar Hasil Penelitian/Pengkajian BPTP Karangploso.

Baswarsiati, F. Kasijadi, L. Rosmahani. 1998.  Rakitan Teknologi Usahatani bawangmerah. Monograf Rakitan Teknologi BPTP Karangploso.

Duriat A.S, T.A. Soetiarso, L. Prabaningrum, R. Sutarya. 1994.  Penerapan pengendalian hama dan penyakit terpadu pada budidaya bawangmerah.

Hadisoeganda, W.W.E., Suryaningsih dan T.K. Moekasa.  1995.  Penyakit dan hama bawang merah dan cara pengendaliannya dalam Teknologi Produksi Bawang Merah.  Puslitbanghorti. Jakarta.

Koster, W.G.  1990.  Price analysis of shallot in Java.  Bull. Penel. Hort. XVIII (edisi khusus): 13-27..

Parlevleit, J. E.  1993.  Disease resistance in plant and its concequences for plant breeding. In : K.J. Frey  (Ed). Plant Breeding II. The IOWA State Univ. Press, USA.

Permadi, A.H, 1992. Pemuliaan tanaman bawangmerah. dalam Teknologi Produksi Bawangmerah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.

Permadi, A. H, 1995.  Pemuliaan tanaman bawangmerah. Simposium  Pemuliaan Tanaman IV Malang.

Rosmahani, L., E. Korlina, Baswarsiati dan F. Kasijadi.  1998.  Pengkajian teknik pengendalian terpadu hama dan penyakit penting bawang merah tanam di luar musim. Pros Seminar Hasil Penelitian/pengkajian BPTP Karangploso.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Responses

  1. Oke thanks juga komentarnya. Tapi maaf harap diketahui bahwa 3 varietas unggul yang sudah dilepas oleh Mentri Pertanian yaitu Bauji, super Philip dan Batu Ijo adalah hasil penelitian saya sendiri karena saya adalah pemulianya. Pekerjaan saya adalah peneliti Utama di BPTP jatim dan saya telah menjadi peneliti ( pemulia tanaman) selama 27 tahun. Sehingga semua copy paste yang ada di blog ini adalah karya murni dari penelitian dan tulisan saya sendiri. Sedangkan tinjauan pustaka memang diperlukan untuk mendukung suatu penelitian. Tks komennya. Silahkan jika ada komen lain saya tunggu. Sayang saya belum sepat nulis banyak di blog ini hasil dari penelitian saya karena kesibukan yang ada.

  2. Tks atas komennya. Maaf untuk deskripsi varietas bawang merah Biru (Biru Lancur) dan Brebes (Bima Brebes) saya belum punya dan akan saya usahakan menelusuri ke penelitinya. Kebetulan 3 varietas yang saya tulis, saya yang melakukan penelitian. Tks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: